Puasa Pengganti Boleh Ditunda?

Orbit | Jumat, 29 Juni 2018 20:01
Puasa Pengganti Boleh Ditunda?

Reporter : Ahmad Baiquni

Qadha wajib hukumnya dilaksanakan sebelum Ramadan berikutnya tiba.

Dream - Puasa Ramadan yang ditinggalkan menimbulkan akibat hukum qadha. Seseorang wajib berpuasa di hari lain untuk mengganti puasa yang telah ditinggalkan.

Pelaksanaan qadha dianjurkan untuk sesegera mungkin. Tetapi, ada pula qadha puasa yang bisa ditunda.

Lantas, seperti apa puasa yang qadhanya harus dilaksanakan segera dan yang bisa ditunda?

Dikutip dari NU Online, penyegeraan atau penundaan qadha didasarkan pada sebab puasa dibatalkan. Abu Bakar Al Hishni dalam Kifayatul Ahyar memberikan penjelasan mengenai hal ini.

" Puasa yang harus segera diqadha adalah puasa yang diabaikan, yaitu dibatalkan (senjaga tanpa uzur). Qadha puasa seperti ini haram ditunda. Sementara puasa yang tidak harus segera diqadha adalah puasa yang tidak diabaikan, yaitu pembatalan puasa karena sakit atau perjalanan. Qadha puasa seperti ini boleh ditunda selagi belum datang Ramadan selanjutnya."

Dari penjelasan ini, puasa yang ditinggalkan secara sengaja tanpa uzur yang diperbolehkan menurut aturan syariat harus segera diganti. Orang yang menjalankan qadha pun dilarang membatalkan puasanya karena sebab apapun.

Al Hishni memberikan penjelasan selanjutnya demikian.

" Orang yang sedang mengqadha puasa, jika itu termasuk puasa yang harus segera diqadha, tidak boleh membatalkannya. Tetapi jika itu termasuk puasa yang tidak harus segera diqadha, maka menurut pendapat yang shahih sebagaimana disebutkan oleh Imam As Syafi'i dalam Al Umm, seseorang tidak boleh membatalkannya karena puasa qadha itu sejenis dengan puasa wajib dan tidak ada uzur untuk itu sehingga ia harus merampungkan puasanya hingga maghrib. Logikanya serupa dengan orang yang sholat di awal waktu. Orang ini tidak boleh membatalkan sholatnya."

Namun demikian, qadha baik yang segera ataupun bisa ditunda harus dilaksanakan sebelum tiba Ramadan berikutnya. Sebab, jika sampai lalai dan Ramadan tahun depan tiba, maka qadha wajib dilaksanakan usai Ramadan ditambah dengan fidyah.

Hal ini seperti dijelaskan Syeikh An Nawawi Al Bantani dalam Kasyifatus Saja.

" (Kedua [yang wajib qadha dan fidyah] adalah ketiadaan puasa dengan menunda qadha) puasa Ramadan (padahal memiliki kesempatan hingga Ramadan berikutnya tiba) didasarkan pada hadis, 'Siapa saja mengalami Ramadan, lalu tidak berpuasa karena sakit, kemudian sehat kembali dan belum mengqadhanya hingga Ramadan selanjutnya tiba, maka ia harus menunaikan puasa Ramadan yang sedang dijalaninya, setelah itu mengqadha utang puasanya dan memberikan makan kepada seorang miskin satu hari yang ditinggalkan sebagai kaffarah.' (HR Ad Daruquthni dan Al Baihaqi). Di luar kategori ‘memiliki kesempatan’ adalah orang yang senantiasa bersafari (seperti pelaut), orang sakit hingga Ramadan berikutnya tiba, orang yang menunda karena lupa, atau orang yang tidak tahu keharaman penundaan qadha. Tetapi kalau ia hidup membaur dengan ulama karena samarnya masalah itu tanpa fidyah, maka ketidaktahuannya atas keharaman penundaan qadha bukan termasuk uzur. Alasan seperti ini tak bisa diterima, sama halnya dengan orang yang mengetahui keharaman berdehem (saat sholat), tetapi tidak tahu batal sholat karenanya. Asal tahu, beban fidyah itu terus muncul seiring pergantian tahun dan tetap menjadi tanggungan orang yang yang berutang (sebelum dilunasi)."

Selengkapnya...

(ism)

Terkait
Anak Millenial Wajib Tahu, Ini Tips Umroh Tenang Tanpa Utang
Join Dream.co.id