Disuguhi Makanan, Lanjut Puasa Syawal atau Dibatalkan?

Orbit | Senin, 25 Juni 2018 15:00
Disuguhi Makanan, Lanjut Puasa Syawal atau Dibatalkan?

Reporter : Ahmad Baiquni

Banyak yang merasa kebingungan diajak makan saat silaturahmi, sementara mereka sedang berpuasa Syawal.

Dream - Menyambung silaturahmi dengan berkunjung ke tetangga atau kerabat jauh merupakan tradisi umat Islam Indonesia. Tradisi ini menjadi wajib dijalankan terutama ketika Lebaran.

Kebiasaan ini berjalan usai sholat Idul Fitri hingga Syawal selesai. Banyak di antara mereka yang rela datang jauh demi bertemu keluarga besar.

Ketika silaturahmi, bukan hal yang jarang terjadi jika tuan rumah menyuguhkan makanan ringan maupun berat. Biasanya, para tamu akan diajak menikmati masakan tuan rumah.

Ada sebagian dari kita melaksanakan puasa sunah Syawal. Tentu mereka kebingungan menerima tawaran tuan rumah. Jika hal ini terjadi, apakah sebaiknya puasa Syawal dilanjutkan atau dibatalkan?

Dikutip dari NU Online, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda terkait hal ini. Sabda tersebut terekam dalam hadis riwayat Ad Daruquthni dan Al Baihaqi.

Hadis ini terkait peristiwa ketika Rasulullah bersama beberapa sahabat berada di sebuah jamuan makan. Beberapa sahabat berkukuh tidak mau makan karena sedang menjalankan puasa.

Rasulullah kemudian bersabda,

" Saudara Muslimmu sudah repot-repot (menyediakan makanan) dan kamu berkata, 'Saya sedang berpuasa?' Batalkanlah puasamu dan qadha’lah pada hari lain sebagai gantinya."

Berdasarkan hadis ini, para ulama menyatakan membatalkan puasa ketika mendapat jamuan makan adalah perintah Nabi SAW. Pembatalan tersebut dinyatakan sebagai bagian dari upaya menyenangkan hati tuan rumah.

Hal ini seperti dijelaskan Ibnu Abbas RA yang dikutip Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumiddin.

" Di antara kebaikan yang paling utama adalah memuliakan teman semajelis dengan membatalkan puasa (sunah)."

Selengkapnya...

(Deep Dream) Menteri PAN-RB Buka-bukaan Soal PNS Kerja dari Rumah dan Single Salary
Join Dream.co.id