Mengungkap Kebiasaan Lelaki 1000 Janda

Orbit | Selasa, 24 Oktober 2017 14:00
Mengungkap Kebiasaan Lelaki 1000 Janda

Reporter : Maulana Kautsar

"Istri malah merekomendasikan," kata Roel.

Dream - Lelaki seribu janda. Mungkin dahi kita langsung mengernyit mendengar istilah ini. Atau bahkan langsung membayangkan lelaki tukang poligami.

Tunggu dulu. Ini memang kisah soal lelaki yang memburu para janda. Tapi bukan untuk dinikahi, malainkan untuk diberi santunan dan diberdayakan.

Dialah Roel Mustafa. Pria kelahiran Jakarta 2 April 1973 yang karib disapa Bang Cuy atau Bang Irul ini dikenal sebagai penyantun para janda. Sampai saat ini, telah ada 300 janda yang dia santuni. Bang Irul punya target bisa menyantuni 1000 janda.

Kepeduliannya terhadap para janda ini terinspirasi dari almarhum ibundanya. Saat sang ibu masih hidup, selalu memasak lebih untuk dibagikan kepada teman-temannya yang janda. Bang Irul bagian mengantar makanan itu.

Setelah sang ibu wafat, 'tradisi' itu sirna. Baru setahun belakangan Bang Irul teringat dan meneruskan kegiatan itu. Dia blusukan ke berbagai daerah, terutama Jabodetabek. Dia memburu janda untuk disantuni.

Bukan sekadar menyantuni. Bang Irul melatih para janda ini untuk lebih produktif sehingga bisa hidup mandiri. Saat ini bahkan ada janda yang dibina beralih menjadi donatur untuk janda-janda lain.

Memang ada kekhawatiran di benak Bang Irul. Dia sadar bisa saja aktivitas ini disangkut pautkan dengan poligami. Tapi pria yang lulus dari UPN Veteran Jakarta pada 1993 ini memastikan santunan ini tak ada kaitan sama sekali dengan poligami. 

" Saya berharap pria-pria yang punya pendapatan lebih, yang biasanya dihamburin untuk foya-foya, beli rokok, kenapa enggak disalurin ke janda?" kata dia.

Kehidupan para janda, kata dia, sangat berat. Selain menjadi ibu, mereka juga harus menjadi tulang punggung keluarga. " Saya ngerasain janda yang penghasilannya Rp10 ribu, harus hidupin anak dan masak, itu luar biasa. Dibanding kita yang ngopi di Starbucks saja sudah Rp50 ribu-an."

Semula dia bergerak sendiri. Namun kini, semakin banyak orang yang mendukung. Kegiatannya diikuti oleh orang di berbagai daerah. Bang Irul pun berysukur.

Seperti apa kisah bang Irul 'memburu' para janda, berikut wawancara Dream dengan bapak satu anak itu:

Bang, mengenai Lelaki 1000 Janda. Idenya dari mana?

Ini sebenarnya sudah satu tahun yang lalu. Saya sih terinspirasi dari almarhum ibu saya. Almarhum ibu saya kan janda juga. Biasa kan kalau di kampung kan punya teman ngaji teman ngobrol, janda-janda.

Di mana itu?

Jakarta Pusat.

Kalau masak dilebihkan. Lima mangkok atau enam mangkok dia kasihkan ke teman-temannya yang janda. Selalu begitu, nasinya dilebihkan. Lauknya dilebihkan.

Kita sebagai anak, dijadikan kurirnya. Kami enggak paham waktu itu tujuannya apa. Setelah ibu meninggal kebiasaan itu hilang. Saya jadi terpikirkan, setahun kemarin.

Saya akhirnya bantu teman-teman ibu, tapi tidak dengan cara memasak matang. Saya kasih sembako berbahan beras, minyak, gula, garam.

Seiring berjalannya waktu saya semakin sering bertemu dengan pemulung janda, orang tua janda. Kalau di desa Ciseeng, Bogor ini, banyak orang yang kerjanya nyari keong, dijual Rp2000, itu banyak. Mulai saya perhitungkan dapat menyantuni mereka. Saya orangnya suka ngelawak, ngebodor gitu ya, jadi kalau ketemu emak-emak kita bahagia saja, melupakan kepiluannya dia.

Saya sering videoin kalau ketemu ibu-ibu, sambil dengerin cerita dia, terus saya posting ceritanya dia. Ada macem-macem ceritanya. Orang jadi semakin kenal. Oh Bang Cuy. Karena jandanya beda-beda, saya punya target bisa menyantuni 1000 janda. Itu kan doa. Mudah-mudahan dengan nazar itu rezeki saya bisa bertambah.

Seiring berjalanannya waktu, meski belum 1000, sekarang di angka 300, teman-teman mulai tertarik membantu. Bang boleh enggak bantuin? Nitip sembako. Akhirnya ya silakan. Emak-emak ini kan kasusnya ada yang bukan hanya butuh sembako, misal rumahnya roboh, atau, anaknya sakit, atau dianya sakit, nah saya dibantu Sekolah Relawan.

Berarti awalnya sendiri?

Sendiri.

Sebulan menyisihkan berapa?

Rp5 juta sampai Rp10 jutaan.

Berarti penghasilan Bang Roel gede?

Ndak gitu. Saya cuma pedagang warung steak di Telaga Golf, Sawangan. Kalau ditanya kok bisa cukup? Alhamdulillah cukup. Saya memang menyiasati. Kalau cukupnya 50 ya saya kasih 50. Enggak 300 orang langsung.

Jadi enggak ditumpuk langsung?

Enggak. Dimana saya ada rezeki saya langsung lempar. Biar Allah ngasih lagi nambahin.

Sejauh ini sebarannya di mana saja?

Saya awalnya cuma di Jabodetabek. Setelah itu di media sosial banyak yang nge-tag nih. Ada yang di Lampung, ada yang di Nganjuk, ada di Surabaya, ada di Garut. Karena yang nge-tag itu teman-teman relawan, saya bilang deh saya titip. Saya yang kasih dananya mereka yang salurin.

Tapi, kalau saya sedang di Surabaya atau Nganjuk ya saya kunjungin. " Eh mana janda gua, anterin dong."

 Roel saat mengunjungi Rakhine, Myanmar

Sasarannya janda 50 tahun ke atas?

Iya. Di bawah enggak boleh.

Lelaki 1000 janda sudah jadi komunitas sendiri atau bagaimana?

Saya bisa jadi viral gara-gara teman saya. Saya punya teman di Facebook, meskipun belum pernah ketemu, dia soalnya tinggal di Inggris, di Briston, Fissilmi Hamida. Dia pertama kali ikuti saya di Facebook. Nah, aktivitas saya di Lelaki 1000 Janda ini, dia dirangkum.

Dia nulis. Artikelnya, dicomot di media. Dan itu jadi viral. Saya saja bingung, awalnya kan mau masuk surga, kenapa jadi masuk tivi? hahaha

Ada ketakutan, niatnya awal kan ibadah? Gimana Bang?

Saya sebenarnya ini sih, ketakutan banyak orang, sorry to say, disangkutkan dengan poligami. Padahal saya enggak mengarah ke situ. Padahal, saya berharap pria-pria itu yang punya pendapatan lebih, yang biasanya dihamburin untuk foya-foya, beli rokok, kenapa enggak disalurin ke janda? Saya ngerasain janda yang penghasilannya Rp10 ribu, harus hidupin anak dan masak, itu luar biasa. Dibanding kita yang ngopi di Starbucks saja sudah Rp50 ribu-an.

Ketakutan sih, Insya Allah sih enggak. Kalau masuk televisi sih, saya ndak berbuat salah, saya menginspirasi. Orang mau bilang apa ya biarin saja.

Karena berita itu makin banyak yang gabung?

Sudah banyak. Tapi memang namanya beda-beda. Ada Pemburu Janda, Gerpik, dan lain-lain, ya mereka teman kita juga, yang terinspirasi dari kegiatan saya. Semakin banyak orang melakukan ini saya semakin senang.

Istri enggak marah Bang?

Ya kadang malah suka rekomendasikan. " Bi ini ada janda nih. Segini (umurnya) baru ditinggal meninggal." Didatangin. Kalau kita cocok, oke kita santunin. Gitu. Sudah terbiasalah. Karena bukan yang aneh-aneh.

Jadi ingat banget sama almarhum ibu?

Tujuan saya sebenarnya ingin menginspirasi orang lain. Ke dua, mengubah dari penerima manfaat menjadi pemberi manfaat. Jadi pernah suatu saat ketemu janda dengan puterinya, mulung, di daerah Bogor ibu ini cacat, tangan dan kakinya. Namanya, Bu Deli. Terus saya hampiri dan ingin tahu tempat tinggalnya. Saya enggak mau nih anak ini mulung. Tinggalnya di lapak pemulung, isinya semua lelaki. Kalau ditinggal mulung, anak ini sendiri. Bisa terjadi pelecehan seksual.

Akhirnya oke gitu. Akhirnya saya pindahin ke kontrakan. Saya semakin dekat sama anaknya karena saya kunjungin. Ibu ini sambil mulung-mulung enggak apa-apa. Enggak bisa kan diubah langsung.

Lama kelamaan, ibu ini cerita, ternyata ibu ini korban Gempa Padang, 2009. Suaminya meninggal, hartanya habis, dia pindah ke Pondok Cabe. Dari Pondok Cabe, terunta-lunta pindak ke Bogor, tidur di lapak pemulung. Karena dia bisa bikin sate padang, saya modalin. Ternyata satenya enak, saya bikinin gerobak. Saya suruh mulai jualan. Dia enggak mulung lagi.

Alhamdulillah setelah berjalannya waktu empat bulan, saya bantuin penjualan, sate padangnya punya dua gerobak. Dan bahkan tiap bulannya, dia menititpkan sedekah ke saya. Itu sih yang bikin saya terharu.

Kerja sama dengan lembaga zakat, Bang?

Enggak sih. Karena ini aktivitas pribadi, saya enggak coba menggalang donasi ke lembaga-lembaga lain. Ini faktor trust, Rp100 ribu, Rp200 ribu, saya terima . Tanpa saya harus repot memberikan laporan pertanggung jawaban. Cukup foto selesai. Berat soalnya kalau lembaga. Kebetuan Sekolah Relawan sebagai tempat saya nongkrong support sih, jadi jalan saja gitu.

Selain relawan dan bisnis, kegiatan lainnya apa?

Dulu saya punya peternakan ikan di Bogor. Nah, jadi karena saya bantu-bantu peternakan ikan, sekelilingnya jadi dapat kita bantu. Orang-orang di desa itu, punya keahlian, tapi enggak bisa manajemen. Nah itu yang mereka perlukan. Nah, saya ajarin mereka. Saya ajarin mengatur, mengemas, dan menjual.

Kami juga punya kegiatan menarik lain. Namanya Tatar Nusantara. Kalau orang melihat Indonesia Mengajar, saya punya Tatar Nusantara. Sasarannya, masyarakat. Saya mengirim relawan tinggal di pedesaan di pelosok untuk mengangkat empat isu, pendidikan masyarakat, kesehatan dan lingkungan, enterpreneurship, serta agrobisnis. Ini baru tahun ke dua. Tahun pertama alhamdulillah hasilnya maksimal. Website-nya di tatarnusantara.org.

Selain ibu yang jualan sate itu, ada janda lain yang berbisnis?

Ada yang sekarang. Ada ibu-ibu yang dulu pelipat bungkus lemper. Sekarang mereka yang jadi penampungnya.

Kayak ibu yang ambil keong, biasanya dia ambil sekaleng Rp2000, dia jual. Ibu itu sekarang jadi pengepul. Kalau yang pemulung, dia enggak mulung lagi, tapi dia jadi pengepul.

 Roel bersama para janda

Bantuan dari ahli atau teman-teman mahasiswa yang berminat?

Silakan. Enggak masalah. Saya justru senang kegiatan saya ditiru orang lain. Kegiatan yang baik itu kegiatan yang bisa ditiru orang karena bermanfaat.

Bagaimana Bang Roel mengatur waktu bisnis?

Restoran biasanya pukul empat sore sampai 11 malam. Saya bisa kegiatan di pagi hari. Biasanya Sabtu atau Minggu saya janjian sama keluarga, kalau Sabtunya pergi, Minggunya enggak pergi.

Putri sering diajak donasi?

Putri saya malah lebih terkenal dari saya. Putri saya, Queenzha Adinda Mustafa, umurnya tujuh tahun. Dia jualan pulpen, nanti hasilnya buat sumbangin untuk donasi ke tempat yang lain.

Di medsos dia terkenal sebagai Komandan RCIS. Relawan Cilik Indonesia Semangat. Dia yang bikin sendiri. Dia ingin ngajak teman-temannya jadi relawan.

Relawan mendarah daging di keluarga Bang Roel?

Mudah-mudahan. Yang penting dia mengasah empati sejak kecil.

Berapa target janda yang disantuni tahun ini?

Tahun ini target 500 orang janda. Tapi, kita kan coba pemberdayaan dan membina keahlian mereka. Kami akan bantu produksi dan bantu penjualannya.

Satu lagi di kampung Ciseeng ini, kenapa banyak janda tapi enggak ada yang bantu. Ooo.. ternyata lingkungannya miskin. Nah, kami bantu pemudanya untuk social digital, biar bisa jualan online, biar secara ekonomi mapan bisa membantu ibu-ibu. Problem masyarakat harus digali.

Janda-janda yang dibeberapa tempat itu masih kontak-kontakan?

Di daerah sih, biasanya kalau relawannya sedang kunjungan biasanya video call. Kalau yang di sekitar Jabodetabek, sebulan sekali saya sempatin datang.

Anda kemarin ke Myanmar, kabar terakhir Rohingya bagaimana?

Saya di Rakhine. Kalau di Rakhine, masih tersisa 200 ribu jiwa. Mereka tersebar di 50 desa dan 15 camp. Yang di 15 camp ini aman karena sudah dijamin oleh NGO luar dan pemerintah Myanmar memfasilitasi tempatnya. Tapi yang 50 desa terisolir? Nah, itu yang kita bantu.

Penembakan masih sering terjadi?

So far enggak. Karena pemerintah Myanmar mungkin dalam kondisi tertekan.

Catat! Tips Tampil dengan Makeup Bold Ala Tasya Farasya-
Join Dream.co.id