Hijrah Arie Untung Saat Mendalami Kitab Agama Lain

Orbit | Selasa, 3 April 2018 11:00
Hijrah Arie Untung Saat Mendalami Kitab Agama Lain

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an

Wawancara Khusus dengan Arie Untung: Hampir dua windu lalu Arie Untung diajak memperdalam kitab agama lain. Kala itu, dia hampir saja terjebak arus.

Dream - Ruangan itu terus bergemuruh. Tawa membahana sejak pria berbatik cokelat mulai bersuara. Tak hanya sekali. Rentetan joke datang bergulung, seperti bah yang turun dari lereng gunung. Datang silih berganti. Kalimat-kalimat jenaka sukses mengocok perut.

“ Dari zaman dulu sudah ingat sholat. Sholat, ingat. Sholatnya enggak,” pria itu berkisah tentang masa lalu.

Mendengar pria ini bercerita, kita seolah berada di depan panggung stand up comedy. Benar-benar lucu. Dia pintar melempar banyolan. Tapi ketahuilah, siang itu dia bukan sedang open mic. Tidak pula menjadi presenter, seperti hari yang sudah-sudah.

Pengakuan itu memang disampaikan dengan kocak. Ringan. Tapi dengarlah. Topik ini sungguh berat. Dia berbicara soal jalan hidup. Tentang pencarian jati diri sebelum mengerti isi Alquran. “ Dulu saya bahkan hampir dimurtadkan,” tambah pria itu, mulai serius.

Kisah itu hampir dua windu lalu. Kala itu, dia diajak mempelajari ajaran lain. Tapi beruntung, pikiran masih jernih menimbang. Kitab-kitab suci itu dibandingkan. Saat itulah dia melihat kebenaran Alquran. Pengalaman penting ini telah mengubah hidupnya. Menjadi lebih dekat dengan Tuhan.

Pria yang sedang bertutur itu adalah Arie Untung. Siang itu, bersama sang istri yang juga belum lama berhijrah, Fenita Arie, dia juga berbagi kisah hijrahnya. Tema berat itu sesekali diselipi humor. Jadilah majelis ilmu itu jadi ladang belajar, sekaligus membuat orang terpingkal.

Aria Untung bukan orang baru di dunia hiburan. Dia mengawali karier sebagai Video Jockey (VJ) MTV. Selama lima tahun, sejak 2000 hinga 2005. Nama Arie makin berkibar lewat acara itu.

Sukses menjadi VJ, pria 42 tahun kelahiran Jakarta ini merambah dunia akting. Dia terlibat dalam sejumlah film layar lebar, mulai horor hingga komedi. Kariernya terus moncer.

Pria bernama asli Arie Kuncoro Untung ini juga cemerlang di atas panggung. Menjadi presenter kondang. Berbagai acara televisi dia bawakan. Nama Arie terus gemilang di jagat hiburan tanah air.

Seperti kariernya, kehidupan Arie juga berubah. Di tengah popularitas itu, bapak tiga anak ini berhijrah. Namun tak mudah. Penuh liku. Tak jarang pula menerima hujatan di dunia maya.

Tapi dia tak puduli. Sebab, dia merasa tak harus memuaskan semua orang. Terutama di jagat maya. “ Terserah sih, yang kita cari rida Allah saja,” tutur Arie dalam wawancara dengan Dream.

Kini dia rajin mengikuti berbagai pengajian. Termasuk bersama teman-teman sesama selebriti. Berbagai ustaz dia buru. Haus mencecap ilmu. Hingga kini, dia mencoba terus istikamah di jalan hijrah.

Seperti apa perjalanan hijrah Arie Untung, berikut wawancara jurnalis Dream, Muhammad Ilman Nafi’an, dengan Arie Untung:

Bisa diceritakan perjalanan hijrah Anda?

Hijrah itu sebenarnya lebih mendalami agama. Sudah lama, cuma mungkin seolah baru berubah itu dalam setahun dua tahun belakangan ini, mungkin ketika agak vokal sedikit baru ketahuan. Tadinya kan sama kayak yang lain maksudnya slow down saja. Nah, mungkin pada saat itu orang baru hijrah, soalnya kan katanya kalau baru hijrah itu biasanya kencang-kencang.

Sebenarnya sih sudah lumayan lama, ada juga grup lain yang saya ikuti tapi cuma grup diskusi saja sih, orang-orang entertainment musisi, produksi, kita diskusi akan suatu hal tapi kita melontarkan kritiknya biasanya dengan karya saat itu.

Kemudian ketika lagi ramai hujat-hujatan zaman dulu, saya gemas, ini mengenai keyakinan saya, saya membuat statement posisi di mana saya berada. Kemudian orang berpikiran saya baru hijrah.

Apa yang membuat Anda berhijrah, adakah peristiwa khusus?

Ini kejadiannya mungkin agak unik ya, karena saya justru disadarkan dari kitab agama lain, karena dulu diajak untuk mendalami suatu kepercayaan lain. Saya baca kitabnya malah di situlah merasakan kebesaran Alquran.

Jadi, di situlah merasakan selama ini saya banyak kurang mempelajari Alquran. Di situ saya merasa kebenaran itu, entah dari mana cara dapatnya, kalau saya mempelajari kitab lain malah saya sadar bahwa Alquran yang terbaik.

 Rajin Solat Dhuha Tiap Pagi, Arie Untung Sembuh dari Sakit

Itu tahun berapa?

Waktu itu sekitar tahun 2004. Jadi, pandangan saya dulu terhadap agama beda dengan sekarang. Dulu saya mikirnya asal kita berlaku sama orang, ya pasti menjalankan agamanya baik, kemudian baru sadar bahwa semuanya sudah ada di Qur'an.

Ketika kita mempelajari Alquran dengan benar juga, itu akan timbul dari akhlak, karena akhlak tersebut yang kemudian membedakan baik itu seperti apa. Menurut saya sih kita perlu banyak penelaahan, Alquran itu kebenaran yang bukan buatan manusia, ini merupakan kuasa yang Maha Kuasa karena Alquran dari berbagai sisi sempurna, yang di dalamnya artinya sangat dalam.

Di Alquran lengkap semua yang belum kita ketahui, yang sedang kita jalani dan yang akan kita alami semuanya sinkron dengan fakta dan ilmu pengetahuan. Silakan diteliti kalau yang belum percaya, ini kitab yang paling komprehensif.

Anda sering ikut pengajian dengan sejumlah artis. Bagaimana awal mulanya?

Sebenarnya saya itu kebetulan kan ada teman-teman, ada komunitas Musyawarah, itu sudah berjalan. Ada beberapa kelompok pengajian sih yang saya ikuti, ada musyawarah, mana saja enggak hanya satu kelompok. Kalau ada waktu kosong, saya its ok gitu. Kebanyakan yang banyak ngadain kan teman-teman (artis) di Bintaro, yang bekerja di entertainment. Saya sendiri tinggalnya di Cilandak, mencelat jauh sendiri, berkabar kalau ada kajian.

Sejak kapan rutin ikut pengajian?

Dari 2016 2017. Mulai sering itu 2017, tahun lalu.

Awal mula tergerak ikut pengajian?

Sekarang, maksudnya di zaman digital kaya sekarang, enaknya informasi mudah didapat, kayak ada YouTube. Kajian siapa bisa kita saksikan di YouTube, gitu kan? dengan mudah. Dari ngelihat ustaz yang ada di YouTube, jadi ada ketertarikan untuk menonton secara langsung kajian mereka. Jadi, perbedaan gaya manfaatnya itu yang mungkin menarik. Jadi, ada kenikmatan sendiri ternyata ketika datang ke kajian.

Nah, awalnya mungkin datang enggak ada yang kenal, kemudian lama-lama banyak yang kenal. Ternyata saya baru sadar teman-teman di Bintaro baru ada komunitas, akhirnya saya bergabung ke sana. Intinya kita buat grup yang manfaat, saling share informasi, share manfaat, sama-sama cari guru, ustaz untuk bikin kajian di salah satu rumah. Ini ada tanggal sekian siapa yang kosong, ayo, gitu.

 Fenita Arie dan Arie K Untung

Awalnya yang ngajak siapa?

Awalnya sih sama teman atau sama asisten. Istilahnya coba-coba berdua, suka lihat-lihat kajian di sekitar Blok M. Ketika ada yang bikin private, ya kita juga tertarik untuk ikut yang private. Akhirnya tertarik untuk bikin sendiri. Karena memang setiap keluar dari kajian kayak dapat ilmu baru, pengetahuan baru, yang ada kenikmatan kembali. Kayak habis recharge, kayak abis nge-refresh.

Istri juga diajak saat awal itu?

Belum, istri belum ikut. Beliau baru belakangan ikut, setelah saya ajak-ajak menelaah beberapa kajian ilmu, Beliau mau. Mungkin tertular rasa kenikmatan tersebut, jadi perburuan ustaz itu ternyata mengasyikkan. Kita sama teman-teman ke Bandung, kita kejar. Tapi seru juga sih.

Foto-foto pengajian artis, itu khusus buat artis?

Kalau itu khsusus karena itu diadakan di rumah, tergantung siapa yang kebetulan dapat ustaznya. Bukan karena kita tidak bergaul untuk umum, tapi karena kapasitas rumahnya ga terlalu besar. Kan harus izin kalau kebanyakan. Kan kebanyakan teman-teman ngumpul memiliki kesamaan, sama-sama patungan, ustaz ini, kateringnya. Intinya silaturahmi sih.

Senangnya kalau kita buat acara, ada saja teman-teman baru yang ikut bergabung. Baiknya adalah teman-teman artis ini masing-masing punya followers, punya fans lah, dari setiap artis ini akan menelurkan lagi, akan memberikan syiar-syiar lagi. Ini sepertinya memberikan motivasi atau refresh, menjadi leader-leader untuk memberikan kebaikan untuk para followers.

Nama pengajian artis apa?

Namanya Musyawarah. Muda, sakinah, mawadah, warahmah. Artisnya ada banyak juga sih di situ. Waktu kita buat pengajian Abdul Somad, belum semua. Tapi ya bertambah terus, itu belum lagi saya juga ikut di grup Komedian Hijrah, Pengusaha Hijrah, Masyarakat Ekonomi Syariah, macam-macam deh. Kumpulan itu semuanya kumpulan yang memberikan manfaat.

Anda dan para artis kan jadwalnya padat. Mengatur waktunya bagaimana?

Sebenarnya sih zaman dulu lagi suka gila-gilaan musik, konser di mana saja saya terjang. Jadi ada beberapa ustaz tertentu yang belum ketemu langsung, saya ingin ketemu. Ustaz ini lebih susah dari jadwalnya band. Nah ketinggalan kajian ustaz yang most wanted kadang ada perasaan 'aduh mmmm` yang enggak bisa digeser karena ada kontrak juga dalam kerjaan. Jadwal ustaznya juga enggak pasti.

Alhamdulillah Allah masih memberikan waktu untuk ikut kajian. Itu uniknya Allah sih, sesibuk apapun bisa ikut kesempatan. Malam ini saja –12 Maret 2018– sebenarnya agak sedikit ngiri karena teman-teman Musyawarah itu ada nonton Yusuf Estes yang mualaf dari Amerika. Ya tapi, ini kayaknya ada terlambat.

 Fenita Arie dan Arie K Untung

Pengajian Musyawarah ada waktu tertentu? Mingguan atau perbulan?

Contoh bulan depan kita ada kajian di Taman Mini, kita share di grup, ada yang bisa datang, ada yang enggak. Ada yang mau jadi panitia, ada yang jadi pembicara. Jadi kita buat untuk masyarakat.

Enggak harus sebulan sekali atau seminggu sekali?

Enggak, jadi kalau kita dapat ustaz ini tanggal sekian, siapa yang bisa kita sharing saja di grup. Sebenarnya kita share di grup itu harus datang atau enggak. Kita sudah share mau datang boleh tapi tetap ramai karena semuanya ingin. Tiba-tiba ada yang baru, tiba-tiba datang anak band nah itu yang seru ada lagi yang baru hijrah ada yang pakai hijrah.

Temanya apa saja?

Berbeda ya memangnya awalnya seputar hijrah, kalau lebih dalam tentang ilmu ada yang adab akhlak terus kita sebagai apa di dunia fungsinya ada yang memotivasi.

Belajar kitab-kitab?

Ada, tergantung ustaznya, misalnya hari ini tengah Sirah Nabawiyah misalnya, tentang itu. Tools-nya sudah jelas, apapun temanya tetap datang. Ada yang bahkan nanti kita mau buat belajar Alquran dengan benar enam jam mau datang, enggak. Dari nol sampai bisa baca Alquran dengan benar.

Ada kategori ustaz yang dipilih?

Kalau saya enggak melihat perkotak-kotakan dalam ustaz ya. Jadi style mereka berbeda, ada yang dari Madinah, Mesir, Mekah. Perbedaan itu bukan dijadikan sebagai sebuah kendala, malah jadi keunikan di sini. Kenapa dijadikan berbeda, mungkin cara pandangnya saja. Kalau kita kan lebih mengajak untuk hadir. Jadi ustaz-ustaz yang dikenal masyarakat itu yang diterima masyarakat, menurut saya seperti itu.

Jadi, ustaz yang saklek ada, yang lucu ada, ustaz yang khusus buat kesehatan juga ada. Macam-macam, yang politik juga ada. Jadi memang enaknya di situ Alquran tuh lengkap, mau bahas apa saja ada. Ustaznya ada. Sebenarnya susah-susah gampang jadi ustaz karena semuanya ada di Alquran, cuma mungkin penjelasannya yang agak berbeda, mana yang benar mana yang enggak.

Ustad Somad rutin isi kajian dan Anda ngefans?

Saya ngefans sama beliau karena tulus menurut saya ya, karena dia menjelaskan dari beberapa mazhab berbeda empat-empatnya beliau jelaskan, mana yang memilih itu monggo saja, bukan dijadikan sebuah pembeda tapi dicari persamaan bukan perbedaan, ada yang merasa paling bener.

Kalau bukan gayanya dia maka yang lain salah, enggak juga sebenarnya semakin tinggi keimanan seseorang maka dia akan semakin open, akhlaknya semakin baik dulu jamannya wali songo datang ke Indonesia kalau udah mengharamkan wayang pasti menyebarkan Islam akan sulit. Akhirnya dengan wayang berdakwah diterima dengan masyarakat berbicara dengan bahasa Indonesia lama-lama orang Indonesia mencari tahu sendiri yang benar mana salah mana, tapi mereka sudah masuk Islam.

Waktu kata-kata gapura berasal dari gafuro pengampunan yang masuk ke tempat ini pengampunan. Sejak saat ini kita jadi ngerasa ayok kita ajak dulu untuk datang kajian lebih syaang dengan Ulama. Ketika di dalam mana suka yang mana, yang penting masuk dulu ke Aswaja.

Setelah sering pengajian, komentar artis lain bagaimana?

Awalnya banyak yang anggap jadi ekstrem gitu, nganggap saya aneh ada bahkan akun robot secara konsisten membikin itu terus ada, enggak apa-apa juga sih, memang kita hidup bukan jadi pemuas yang lain yang kita coba junjung kan Allah.

Apapun pendapat manusia kalau saya merasa, saya sih ngejalanin yang benar enggak salah buat manusia. Tapi menurut Allah benar ya wallahu a'lam. Kan tidak semua orang happy kan. Tapi alhamdulillah banyak teman-teman yang mendoakan, ada yang mencibir ada yang nyinyir ada juga blok saya, unfollow. Terserah sih, yang kita cari rida kan dari Allah saja.

Di Twitter juga ajak untuk dekat ulama, pengen dakwah juga?

Ya kemampuan saya kan, saya enggak bisa berdakwah, kelebihan saya, saya cuma punya banyak followers. Jadi saya memanfaatkan followers saya untuk datang yang kasih kajian juga bukan saya. Ketika sudah datang, sudah misi saya selesai. Menjadikan tren. Datang ke kajian juga enggak kalah seru dibanding dengan datang ke tempat dugem, dimana-mana orang datang ke tempat dugem posting bangga, datang ke tempat kajian foto diposting masa enggak boleh, menurut saya sih itu. Harus diawali dengan tren yang baik untuk jadi sesuatu yang manfaat.

 Fenita Arie dan Arie K Untung

Ingin jadi pendakwah enggak sih?

Kalau saya sih jadi pendakwah ilmunya masih kurang, kalau sharing mungkin iya, apa yang pernah saya rasakan oke. Kalau jadi dakwah, jadi guru, itu harus punya ilmunya yang lebih. Jatuhnya saya masih ke arah mungkin ke bersyiar, da’i mengajak kebaikan untuk ngajak, cuma segitu saja cukup. Jadi endorse Allah. Kalau pendakwah belum, butuh bertahun-tahun.

Setelah ikut pengajian bagaimana rasanya, enggak ingin ke tempat-tempat hiburan?

Dulu sudah pernah zaman dulu, jadi enggak ada kepuasan yang ibaratnya yang benar-benar full. Jadi selesai ya gitu saja. Nonton sudah enggak ada manfaat apa-apa. Sudah. Kalau kajian, pulangnya kayak habis Refill, fresh, terus bisa sharing ke yang lain. Sama saja kayak ini, saya sering jalan-jalan, tapi tempat yang paling berkesan ketika ke Mekah ada hal-hal yang enggak bisa diungkapkan, tapi kalau mau rasain musti dinikmatin sendiri rasanya gimana sih, ya rasakan sendiri.

Kalau dikehidupan sehari-hari selain hal itu apa rasanya?

Ya jadi ada tuntutan saja sih, misalnya gimana sih jadi bapak yang baik, jadi suami yang baik secara agama kaya apa. Pabrik itu menciptakan barang untuk digunakan dengan benar kan ada panduan, nah sama saja yang menciptakan manusia, dunia ini. Ada panduan juga.

Lebih Dekat dengan Tiffani Afifa, Dokter Cantik Juara Kpop World Festival
Join Dream.co.id