Inspirasi Indonesia untuk Dunia

News | Jumat, 9 Maret 2018 20:01
Inspirasi Indonesia untuk Dunia

Reporter : Eko Huda S

Muda dan kreatif. Itulah mereka yang diundang ikut kamp selama dua hari di Youtube Space, London, pada Juni tahun lalu.

Dream - Narasi mengalun. Bertutur tentang kampung halaman. Mengisahkan masjid dan mushola yang tersebar di tiap sudut. Membeber cerita mudahnya beribadah. Makan pun tak sulit karena menu halal dijaja di mana-mana.

Video itu terus berjalan. Gambar muncul silih berganti. Bermula dari jembatan penyeberangan. Disusul suasana masjid berlantai permadani. Megah, penuh jemaah. Setelah itu, deretan pedagang kaki lima dan restoran Padang bergiliran muncul di layar.

“ Di Indonesia, menjadi Muslim itu gampang karena kami adalah mayoritas,” demikian narasi itu.

Tapi semua tinggal kenangan. Jadi masa lalu. Kini, pembuat video ini muncul. Perempuan berhijab hitam. Masih belia. Latarnya sudah berubah. Bukan lagi di Indonesia. Dia sudah berada di negeri orang. Merantau nun jauh di sana untuk menimba ilmu.

Sirna sudah. Segala kemudahan di kampung halaman tak lagi dirasakan. Kini dia menghadapi kenyataan baru sebagai minoritas. Semua serba terbatas. Benar-benar berbeda. “ Di Jerman itu, enggak kayak di Indonesia gitu, lo,” kata dia.

Tak lagi mudah menemukan masjid. Sholat di mushola dadakan. Itu pun di bawah tangga atau nyempil di sudut-sudut gedung. Di mana saja asal suci, khusyuk, dan tidak mengganggu. Itu baru urusan ibadah. Belum soal makan, juga pergaulan.

Tapi bagi dia, berbeda bukan berarti menutup diri. Dara manis itu berusaha beradaptasi. Namun demikian, dia tak mau hanyut dengan budaya Jerman hanya karena tinggal di Negeri Panser. Tidak pula menutup diri karena beragama Islam.

Dia harus bergaul dengan semua kalangan. Berbagai etnis. Lain prinsip dan agama. Harus sering-sering mendengar cerita teman baru. Memahami posisi dari latar berbeda. Lambat laun, dia paham bagaimana harus bertoleransi.Cara berintegrasi dengan masyarakat baru.

“ Ternyata itu simpel aja. mau kita mayoritas, mau kita minoritas, kita tetap harus respect satu sama lain, karena kita hidup berdampingan,” tutur dia.

Video Gita Savitri seolah membawa penonton mengarungi lautan pengalaman. Durasi boleh saja pendek, tak sampai tujuh menit. Tapi isinya luas. Menghampar pesan positif. Tentang perdamaian. Soal saling menghormati.

Nilai itulah yang disebarkan dara kelahiran Jakarta ini melalui setiap vlog. Karena video-video itu pula dia dipilih Youtube untuk ikut program pembuatan konten-konten positif untuk melawan ujaran kebencian, xenopobhia, dan radikalisme.

***
Youtube Creators for Change. Demikian program Youtube yang diikuti oleh Gita tahun lalu. Diluncurkan September 2016. Program ini menjadi wadah bagi orang-orang seperti Gita. Para Youtuber yang membuat dan menyebarkan konten-konten bernilai positif yang inspiratif.

Muda dan kreatif. Itulah mereka yang diundang ikut kamp selama dua hari di Youtube Space, London, pada Juni tahun lalu. Youtube yakin pegiat-pegiat media sosial seperti Gita punya pengaruh pada masyarakat melalui konten-konten positif. Cara ini dinilai efektif untuk memerangi konten negatif.

Semua pasti mafhum, internet memang seperti perpustakaan dengan sedikit pustakawan. Semua konten ada. Tulisan, gambar, hingga video dan pesan suara. Mulai positif hingga konten negatif. Miliaran orang nimbrung di jejaring media sosial.

Minim sensor. Semua orang bebas membuat dan mengunggah. Larangan mengunduh pun sangat jarang. Bebas pula menyebarkan. Saringan terlalu longgar. Jadilah informasi yang berseliweran itu isinya macam-macam. Sulit ditahan, apalagi dihentikan.

Dan, salah satu cara yang dinilai penting dengan literasi. Edukasi. Memperbanyak konten-konten positif untuk meluruskan informasi yang menyesatkan. Termasuk ujaran kebencian dan radikalisme.

Mari kita lihat data. Tren ujaran kebencian memang sedang melonjak. Menurut Polri, kasus-kasus ujaran kebenjian yang paling menonjol terkait ras dan agama. Pada 2015, ada 671 laporan kasus terkait ujaran kebencian. Hanya 199 laporan yang ditangani.

Tahun lalu, polisi mencatat 80 persen laporan kasus kejahatan siber berupa ujaran kebencian. Angkanya mencapai 3.325. Angka itu naik hampir 45 persen dari tahun 2016, yang hanya 1.829 kasus. Dari kasus ujaran kebencian itu, Polri hanya mampu menyelesaikan 2.018 kasus.

Tentu kita belum lupa dengan kasus Saracen. Polri juga baru saja menggulung Muslim Cyber Army. Kelompok-kelompok ini dituduh sebagai penyebar hoaks dan ujaran kebencian. Kasus mereka sekarang masih bergulir di meja polisi.

Di nagara lain, tren juga sama. Lihatlah laporan komunitas Muslim di Inggris, Tell Mama. Mereka mencatat kasus ujaran kebencian yang menjadikan Muslim sebagai korban. Pada periode April 2012 sampai September 2014 setidaknya ada 1.284 ujaran kebencian yang menyerang Muslim.

Perbulan, rata-rata ada 42 ujaran kebencian yang menyudutkan kelompok Muslim di London. Pada 2016, Tell Mama menerima 1.123 tindakan anti-Muslim di ibu negeri Inggris itu. Sebanyak 953 di antaranya terverifikasi sebagai ujaran kebencian di internet.

Di Prancis, tak jauh beda. Pada 2015, kasus ujaran kebencian meningkat duapuluh persen dari tahun sebelumnya. Jumlahnya lebih dari 2.000 kasus. Dari angka itu, kasus yang menempatkan Muslim sebagai korban jumlahnya melonjak tiga kali lipat.

Kondisi itulah yang membuat resah banyak orang. Termasuk Gita Savitri. Dia menyebut zaman makin canggih. Tapi manusia justru tak bertambah maju. Akses internet gampang, tapi semudah itu pula menyebar kebencian hanya karena berbeda.

“ Banyak dari keyboard warrior ini yang berlindung di balik freedom of speech. Tapi apakah perlu menyakiti orang lain. Dunia ini unik karena perbedaan. ada beragam manusia di dalamnya,” kata Gita dalam video itu.

***
Youtube Creators for Change menjadi kawah candradimuka. Para Youtuber digembleng untuk membuat konten positif. Mereka yang menjadi role model bahkan diberi bantuan dana dan fasilitas untuk membuat video dan memberikan perubahan positif pada masyarakat.

Youtube tak sendiri. Mereka bekerja sama dengan organisasi dan pakar lokal di berbagai negara untuk menjalankan program ini. Hingga saat ini, program ini sudah digelindingkan di Jerman, Prancis, Belgia, Israel, Spanyol, Inggris, Australia, Turki, dan Indonesia. Program ini setidaknya sudah berjalan di 204 lokasi (kota, universitas, dan sekolah). Sudah ada 14,7 ribu anak muda yang dilatih.

Ada 39 kreator role model yang bergabung. Semua Youtuber kondang dari berbagai belahan dunia. Video-video yang mereka hasilkan sudah dilihat lebih dari 2 miliar kali. Selain Youtuber itu, bergabung pula 53 kreator video. Untuk kategori ini, mereka sudah menghasilkan 77 video dengan konten pesan positif. Sudah dilihat lebih dari 26,7 juta kali.

Khusus Indonesia, Youtube menggandeng Cameo Project sebagai duta Google. Maarif Institute turut digandeng untuk meluncurkan kanal 1nDONEsia. Sudah ada 38 video pada tahun pertama. Itu data sampai November 2017. Video yang menyampaikan pesan positif ini telah dilihat lebih dari 1,3 juta kali.

Tak hanya membuat video. Mereka juga memberikan pelatihan ke berbagai sekolah di kota-kota seluruh Indonesia. Mulai laut barat Sumatera sampai batas timur Papua. Total sudah 1.800 murid di sepuluh kota dilatih. Sebanyak 90 kreator video dilibatkan.

“ Setelah lokakarya, persentase siswa yang ikut pelatihan merasa percaya diri berbicara melawan intoleransi meningkat dari 78 persen menjadi 92 persen,” tulis laporan Youtube Creators for Change Yearly Report 2016-2017.

***
Dan, video Gita yang kita tonton itu dibuat untuk ajang Youtube Creators for Change. Tak hanya konten positif. Para Youtuber seperti Gita dipilih karena punya banyak pengikut. Jumlah orang yang mengikuti kanal Youtube Gita hingga kini sudah lebih 339 ribu. Sehingga mereka bisa memengaruhi komunitas masing-masing, minimal pengikutnya di Youtube.

VIDEO: Youtuber Indonesia Menembus Dunia

Gita tak sendiri. Ada tiga wakil dari Indonesia. Dua lainnya adalah Film Maker Muslim dan Jovi Adiguna. Sama seperti Gita, mereka juga para Youtuber yang menghasilkan konten-konten positif. Mereka juga punya banyak pengikut. Baca: Cerita Gita Savitri dari Berlin

Coba buka saja kanal Youtube Film Maker Muslim. Di sana pasti menemukan banyak film-film inspiratif. Salah satunya serial Cinta Subuh. Kanal yang diikuti oleh 201.175 akun Youtube ini memang memproduksi film-film religi untuk menanamkan nilai-nilai agama pada generasi muda. Baca: Pejuang Subuh Terbang ke London

Dengan konten-konten positif yang dibuat oleh para Youtuber ini diharapkan tercipta kehidupan yang harmonis. Untuk dunia yang damai. Benar kata Gita dalam video itu. Dunia itu unik karena ada perbedaan. Ada keberagaman.

“ Dunia bisa menjadi tempat lebih baik jika kamu tahu bagaimana saling menghormati dan melihat satu sama lain sebagai manusia,” kata Gita menutup videonya. 

Teruslah menginspirasi para Sahabat!

Terkait
Komentar
Beri Komentar
Siap Jadi Ayah, Raditya Dika Ingin Besanan Dengan Raffi Ahmad
Join Dream.co.id
Jokowi Klaim Masyarakat Makmur Berkat Dana Desa