WHO: Bukan yang Kaya atau Miskin, Vaksin Covid-19 Untuk Semua Orang

News | Jumat, 24 Juli 2020 11:01

Reporter : Ahmad Baiquni

WHO memastikan vaksin akan tersedia untuk semua kalangan.

Dream - Kepala Program Kedaruratan WHO, Mike Ryan, menyatakan pihaknya bekerja memastikan distribusi vaksin Covid-19 yang adil. Ini agar semua orang dapat mengakses vaksin untuk kesehatan bersama.

Ryan mengatakan WHO juga akan memperluas akses ke vaksin potensial. Juga membantu meningkatkan kapasitas produksi.

" Kita harus adil soal ini, karena ini adalah barang global. Vaksin untuk pandemi ini bukan untuk orang kaya maupun orang miskin, vaksin untuk semua orang," ujar Ryan, dikutip dari NDTV.

Sejauh ini, kata Ryan, para peneliti membuat kemajuan yang menggembirakan dalam pengembangan vaksin. Sejumlah calon vaksin kni telah memasuki fase ketiga uji klinis dan belum ada satupun yang gagal dalam hal keamanan atau kemampuan menghasilkan respon kekebalan.

" Realistisnya vaksin pertama baru tersedia tahun depan sebelum kita mulai menjalankan vaksinasi," kata Ryan.

 

WHO: Bukan yang Kaya atau Miskin, Vaksin Covid-19 Untuk Semua Orang
Ilustrasi (Shutterstock.com)
2 dari 4 halaman

AS Bersedia Keluar Rp28 Triliun

Pemerintah Amerika Serikat akan membayar US$1,95 miliar, setara Rp28,5 triliun untuk 100 juta dosis vaksin Covid-19 yang dikembangkan Pfizer Inc dan perusahaan bioteknologi Jerman, BioNTech. Hal itu jika terbukti aman dan efektif.

Ryan mengingatkan seluruh sekolah agar berhati-hati sebelum mengaktifkan kembali kegiatan belajar mengajar tatap muka sampai transmisi Covid-19 lokal terkendali.

" Kita harus melakukan segala yang mungkin untuk membawa anak-ana kita kembali ke sekolah, dan hal paling efektif yang bisa kita lakukan adalah mengentikan penyakit di masyarakat kita. Karena jika Anda mengendalikan penyakit di masyarakat, Anda bisa membuka sekolah," kata dia.

3 dari 4 halaman

WHO Rilis Panduan Baru Pencegahan Covid-19, Penularan Lewat Udara Masih Ditelaah

Dream - Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengakui adanya bukti penularan virus corona lewat udara yang tertulis dalam sejumlah hasil riset. WHO juga mengeluarkan pedoman baru penularan Covid-19 yang disusun berdasarkan bukti tersebut.

Dalam pedoman baru tersebut, WHI menyatakan penyebaran wabah berkaitan dengan kerumunan di dalam ruangan tertutup yang diprediksi ada transmisi aerosol. Seperti ketika paduan suara, aktivitas restoran, atau ruang kebugaran.

Namun demikian, WHO tidak menyatakan secara tegas virus corona dapat menyebar melalui udara. Diperlukan lebih banyak penelitian dengan hasil signifikan untuk menetapkan wabah virus tersebut bisa menular lewat udara.

Setelah meninjau sejumlah bukti, WHO berkesimpulan virus corona menyebar melalui kontak dengan permukaan yang terkontaminasi atau kontak dekat dengan orang yang terinfeksi. Virus menular dari pasien ke orang lain melalui air liur, sekresi pernapasan, atau tetesan cairan yang keluar dari mulut atau hidup orang positif Covid-19 lewat batuk, bersin, ataupun berbicara.

 

4 dari 4 halaman

Pedoman baru tersebut mengharuskan orang untuk menghindari keramaian dan memastikan ventilasi udara dalam ruangan berjalan baik. Selain itu, menjaga jarak fisik dan memakai masker apabila jaga jarak tidak memungkinkan.

Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular Amerika Serikat, Anthony Fauci, menyatakan belum ada bukti kuat mengenai transmisi aerosol dari SARS-CoV-2. Tetapi, dia mengakui argumen yang menyatakan virus corona bisa menular lewat udara cukup masuk akal.

" Bukti sejauh ini adalah hal mendasar mengapa kita sekarang begitu berniat mendorong orang, terutama orang tanpa gejala, untuk memakai masker, untuk dapat melihat apakah kita dapat mengurangi itu," kata Fauci.

Sejauh ini, hanya sedikit penyakit yang diyakini bisa menyebar lewat transmisi aerosol atau udara. Beberapa di antaranya campak dan tuberculosis, dua patogen yang sangat menular dan bisa berlama-lama melayang di udara serta butuh pencegahan ekstrem.

Sumber: Live Science

Join Dream.co.id