Warga AS Sudah Vaksin Bebas Keluar Rumah Tanpa Masker, Indonesia Bagaimana?

News | Kamis, 29 April 2021 18:00
Warga AS Sudah Vaksin Bebas Keluar Rumah Tanpa Masker, Indonesia Bagaimana?

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Joe Biden memperbolehkan warganya keluar rumah tanpa masker apabila telah menerima vaksinasi secara penuh.

Dream - Pemerintah Amerika Serikat akan melonggarkan aturan bagi warganya yang keluar rumah. Disampaikan langsung Presiden AS Joe Biden melalui akun media sosial resminya, @potus, Rabu 28 April 2021, warga yang sudah divaksin Covid-19 secara penuh diizinkan tak memakai masker saat beraktivitas di luar.

" Karena kemajuan luar biasa yang telah kami buat dalam perang melawan COVID-19, CDC membuat pengumuman besar hari ini: Jika Anda telah divaksinasi penuh, dan jika Anda berada di luar ruangan dan tidak dalam kerumunan besar, Anda tidak perlu lagi mengenakan masker," tulis biden dalam unggahan Twitternya.

Dalam cuitan selanjutnya, Joe Bidan menyinggung soal kegunaan vaksin yang menolong banyak nyawa.

" Ya, vaksin itu tentang menyelamatkan hidup Anda dan kehidupan orang-orang di sekitar Anda. Tapi itu juga tentang membantu kita kembali ke kehidupan normal," tulis Joe Biden.

 

2 dari 5 halaman

Namun Tetap Dianjurkan Pakai Masker

Dikutip dari Channel News Asia, Kamis 29 April 2021,  Biden mengatakan hal ini bertujuan untuk membuat seluruh warga Amerika Serikat mau menerima vaksin lantaran masih banyaknya penolakan serta kekhawatiran oleh sebagian warga.

" Kematian di antara lansia telah turun hingga 80 persen karena vaksinasi meningkat.. Jika Anda divaksinasi, Anda dapat melakukan lebih banyak hal, lebih aman, baik di luar maupun di dalam ruangan," jelas Biden.

Meski begitu, Biden tetap mengingatkan penggunaan masker tertap diharuskan bila berada di kerumunan besar dan di acara-acara stadion.

Kasus infeksi Covid-19 baru di AS saat ini tercatat turun 16 persen dalam seminggu terakhir. Ini setelah vaksinasi warga, melampaui angka 140 juta orang, untuk dosis pertama Pfizer-BioNTech, Moderna dan Johnson & Johnson.

AS hanya menggunakan ketiga vaksin tersebut. Pfizer dan Moderna disebut memiliki kemanjuran dalam penelitian (efikasi) melawan virus 97 persen. Sementara vaksin AstraZeneca tak terpakai di AS dan rencananya akan diekspor ke sejumlah negara.

CDC melaporkan lebih dari 29 persen penduduk AS telah divaksinasi penuh. Sementara, sekitar 43 persen telah mendapatkan satu dosis dari dua suntikan vaksin.

Melansir Wordlometers, AS masih menjadi negara dengan jumlah penduduk terbanyak terinfeksi corona, 32,9 juta kasus dan 587 ribu kematian. Per Senin ada 50 ribu kasus baru dengan 829 meninggal.

3 dari 5 halaman

Bagaimana dengan Indonesia?

Dengan kebijakan terbaru oleh pemerintah AS, Indonesia diharapkan tidak meniru keputusan tersebut. Adapun alasannya kata Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP) Persahabatan, Dr dr Erlina Burhan Msc SpP (K), AS, dikatakan mencapai kekebalan kelompok (herd immunity) karena program vaksinasi Covid-19 yang begitu gencar.

Kebijakan yang diambil AS dimaklumi karena negara tersebut memiliki dua pabrik vaksin Covid-19 yakni Pfizer dan Moderna. Pemerintah pun memfokuskan kebijakannya agar warga segera menerima vaksin dan menurut beberapa laporan, jumlah penerima vaksin sudah diatas 100 juta.

" Makanya sampai sekarang kita belum dapat Pfizer maupun Moderna, karena AS menggunakan untuk masyarakatnya," kata Erlina dikutip Liputan6.com, Kamis 29 April 2021.

Lantaran sudah mencapai kekebalan kelompok, diharapkan terjadi perlambatan penambahan kasus. Kedepannya, AS akan menjadi negara yang menganggap virus corona sebagai sebuah endemik.

4 dari 5 halaman

Jumlah yang Divaksin Masih Sedikit

Sayangnya, kebijakan tersebut tidak bisa diterapkan di Indonesia. Hal ini didasarkan beberapa alasan.

Pertama, kata Erlina, jumlah orang yang divaksinasi di Indonesia masih sedikit, sehingga yang memiliki kekebalan pun sedikit.

" Walaupun sudah divaksinasi, tetapi untuk terjadi infeksi mungkin saja terjadi karena faktor jenis virusnya yang bermutasi, efektivitas menurun, yang membuat orang bisa jadi sakit lagi," ujarnya.

Menurutnya, Indonesia bisa melakukan hal yang serupa apabilan herd immunity atau kekebalan kelompok terjadi. Namun masih perlu diingat, virus Corona dapat berubah, bermutasi dan dinamikanya cepat.

" Dulu kita tahu dia droplet. Kemudian kita tahu dia bisa membuat seseorang yang terinfeksi tidak ada gejala, sehingga kita tidak tahu apakah seseorang sakit atau tidak. Sehingga berubah lagi kebijakannya, baik yang sakit maupun tidak harus pakai masker," kata Erlina.

" Kemudian ada wacana yang mengatakan ini bukan droplet lagi tapi ada potensi airborne (menular lewat udara). Walaupun belum ada resmi, tetapi banyak ahli yang mengatakan hati-hati kemungkinan airborne ini ada, karena data-data sedikit menunjukkan itu ada," dia menambahkan.

5 dari 5 halaman

Jangan Terburu-buru

Oleh sebab itu, sebaiknya Indonesia tidak buru-buru meniru kebijakan di AS. Erlina menjadikan warga Selandia Baru sebagai contoh, yang mana kasus Covid-19 di sana sangat sedikit, bahkan ketika ditemukan satu kasus langsung melakukan lockdown sehingga bisa menekan laju penambahan kasus baru, masih tetap menggunakan masker.

" Jangan dulu memikirkan tidak pakai masker. Kita itu masih 4ribu, 6ribu, 3ribu paling sedikit sekarang kasus (barunya)," katanya.

" 5M tetap kita laksanakan sampai nanti terjadi herd immunity, kasus menurun," Erlina menekankan.

Sumber: Channel News AsiaLiputan6.com dan sumber lain. 

Join Dream.co.id