Aceh Besar Tolak Aturan Pengeras Suara Masjid Kemenag

News | Kamis, 13 September 2018 14:01
Aceh Besar Tolak Aturan Pengeras Suara Masjid Kemenag

Reporter : Ahmad Baiquni

Speaker di masjid digunakan untuk menyampaikan kalimat tauhid yang harus didengar orang awam.

Dream - Ketentuan mengenai pengaturan volume pengeras suara atau speaker di masjid yang diedarkan Kementerian Agama menuai polemik. Ada beberapa pemerintah daerah yang menyatakan penolakan atas aturan tersebut.

Salah satunya di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Wakil Bupati Aceh Besar, Husaini A Wahab, meminta seluruh warganya mengabaikan aturan tersebut.

" Di Aceh Besar tak berlaku itu, kita minta kepada seluruh Gampong (desa) untuk mengabaikan itu. Malahan, kalau ada yang melarang harus lebih besar lagi volumenya," ujar Husaini, dikutip dari planet.merdeka.com, Kamis 13 September 2018.

Husaini menyarankan Kemenag tidak berhak mengeluarkan aturan mengenai pengeras suara masjid. Apalagi, yang disampaikan adalah kalimat tauhid yang harus didengar oleh orang.

Jika ada yang terganggu dengan suara azan, Husaini mempersilakan yang bersangkutan untuk tidak tinggal di Aceh Besar. " Jangan tinggal di sini. Jadi, bukan kita yang harus tunduk pada mereka," kata dia.

 

 

2 dari 4 halaman

Dianggap Menyalahi Syariat Islam

Dream - Selanjutnya, Husaini meminta para pengurus masjid dan warga di seluruh Aceh Besar menjalankan aktivitas ibadah seperti biasa. Dia juga siap bertanggung jawab atas perintah tersebut.

" Kita tinggal di Aceh yang melaksanakan syariat Islam. Saya rasa, ini sudah menyalahi syariat Islam, maka jangan ikuti," kata dia.

Aturan mengenai pengeras suara terdapat dalam Surat Edaran Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakaat Islam Nomor B.3940/DJ.III/Hk.00.7/08.2018.

Dalam surat itu, penggunaan pengeras suara luar di masjid maupun mushola 15 menit sebelum waktu sholat Subuh dan Jumat, serta 5 menit sebelum waktu Zuhur, Ashar, Maghrib dan Isya.

Untuk khutbah maupun pengajian hanya dibolehkan menggunakan pengeras suara dalam.

(ism, Sumber: planet,merdeka.com)

3 dari 4 halaman

Menag: Peraturan Pengeras Suara Masjid Sudah Ada Sejak 1978

Dream - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, volume azan di tempat ibadah sebenarnya sudah diatur. Ini agar azan yang dikumandangkan tidak mengganggu masyarakat.

" Sebenarnya dari 1978 Direktorat Jenderal Bimas Islam sudah mengeluarkan edaran yang intinya adalah diatur secara rinci penggunaan pengeras suara di setiap masjid, musala, dan langgar-langgar," ujar Lukman di Madinah, Senin 27 Agustus 2018.

Lukman mengatakan instruksi itu mengatur rinci penggunaan pengeras suara di tempat ibadah. Dia berharap masyarakat dapat mengimplementasikan instruksi itu secara baik.

" Agar kehidupan bersama dapat berjalan dengan baik," kata Lukman.

Sebelumnya, Direktur Bimas Islam Kemenag, Muhammadiyah Amin, mengeluarkan Surat Edaran terkait Instruksi Nomor Kep/D/101/1978 mengenai penggunaan pengeras suara ke pengurus kantor wilayah. Surat edaran tersebut berisi enam butir instruksi

4 dari 4 halaman

6 Butir SE Ditjen Bimas Islam

Dream - Pertama, SE tersebut menginstruksikan Kantor Wilayah Kemenag untuk menyosialisasikan kembali instruksi tersebut ke seluruh pengurus masjid atau musala, pimpinan ormas Islam, majelis taklim. Salah satunya dengan menyerahkan salinan instruksi tersebut,

Butir kedua, Kemenag meminta pengurus Kanwil menjelaskan maksud dari instruksi yang dibuat.

Ketiga, instruksi tersebut dijadikan sebagai bahan penyuluhan. Keempat, Kemenag meminta intruksi itu disebarkan melalui media sosial dan grup WhatsApp secara santun dan bijak.

Surat edaran yang dibuat itu tertandangani pada 24 Agustus 2018 sebagai jawaban atas keresahan masyarakat mengenai penggunaan pengeras suara.

Terkait
Join Dream.co.id