Curhat Anak Profesor UI yang Meninggal PDP, Perhatian Semua!

News | Selasa, 24 Maret 2020 12:16
Curhat Anak Profesor UI yang Meninggal PDP, Perhatian Semua!

Reporter : Mutia Nugraheni

Sang putri yang juga seorang dokter tak bisa melihatnya sama sekali. Sang ayah merupakan pasien dengan pemantauan (PDP) Covid-19.

Dream - Leonita Triwachyuni, seorang dokter yang tengah mengambil pendidikan spesialis, harus mengalami cobaan yang luar biasa.

Sang ayah, Prof. DR. dr. Bambang Sutrisna, MHSc (Guru besar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia), meninggal dunia di RS Persahabatan pada 23 Maret 2020 kemarin.

Bambang merupakan pasien dengan pemantauan (PDP) Covid-19. Sejak dirawat, guru besar Universitas Indonesia itu, tak bisa ditengok. Ia harus menjalani isolasi. Bahkan sang putri yang juga seorang dokter tak bisa melihatnya sama sekali.

 Curhatan Leonita© Instagram

Leonita menumpahkan perasannya di akun Instagramnya @nonznonz. Tak ada foto sang ayah di pemakaman, tak bisa melihat untuk yang terakhir kali. Ia sangat pilu membayangkan sang ayah meninggal sesak sendirian.

 Curhatan Leonita© Instagram

" Saya tulis ini cuma mau minta tolong, plis untuk yang punya pilihan jangan bandel, #dirumahaja dan yang uda di RS jangan bandel sampe pulang paksa. yang menyedihkan buat pasien suspek Covid-19 adalah meninggal sendirian sesak sendirian," tulis Leonita.

 

2 dari 7 halaman

Minta Masyarakat Tetap di Rumah

Sebagai dokter yang masih menjalani pendidikan spesialis, Leonita bahkan tak pulang ke rumah. Ia takut membawa virus karena termasuk dokter yang tiap hari bekerja di RS.

 Curhatan Leonita© Instagram

" Saya dua minggu ini bahkan gak pulang, takut ketemu orangtua, kenapa? karena saya kerja di RS dan saya paham betul ada 2 orang yang berusia di atas 60 tahun dan harus dilindungi," tulisnya.

 Curhatan Leonita© Instagram

Ia pun kembali meminta untuk seluruh masyarakat Indonesia berdiam diri di rumah. Jangan sampai menjadi pembawa virus dan menulari orang yang memiliki imunitas yang lemah.

 Leonita dan Prof Bambang© Instagram

 

 

3 dari 7 halaman

Tak Ada Hazmat, Dokter Indonesia Pakai Plastik Sampah Saat Tangani Pasien Corona

Dream - Dokter-dokter di rumah sakit rujukan untuk penanganan pasien Covid-19 di Indonesia, sedang sangat membutuhkan alat pelindung diri (APD). Salah satu perlengkapan yang sangat dibutuhkan adalah hazmat suit atau hazardous material suit.

Pakaian pelindung ini digunakan oleh dokter-dokter yang menangani pasien dengan level biohazard tinggi, seperti pasien Covid-19. Pada banyak rumah sakit, perlengkapan hazmat ini sangat terbatas, bahkan habis.

 Tak Ada Hazmat, Dokter Indonesia Pakai Plastik Sampah Saat Tangani Pasien Corona© Dream

Sebuah fakta memilukan, diunggah oleh Mesty Ariotedjo, seorang model yang kini menjadi dokter spesialis anak di akun Instagramnya. Ia mengunggah foto rekan sejawatnya yang menangani pasien Covid-19 menggunakan plastik sampah untuk melindungi diri.

 

4 dari 7 halaman

Pertaruhkan Nyawa

Hal ini lantaran pasokan APD sangat sulit. Mesty pun mengungkap kalau para dokter sebenarnya mempertaruhkannya nyawa mereka sendiri saat menangani pasien tanpa perlindungan yang memadai.

 Dokter gunakan plastik sampah untuk APD© Instagram Mesty Ariotedjo

(Foto: Instagram Mesty)

" Prihatin sekali melihat keadaan nyata di lapangan, rekan sejawat memakai alat tempur yang sangat tidak layak, kantong plastik sampah. Semua sejawat bekerja keras semampunya, bahkan membahayakan diri mereka sendiri. Sampai saat ini telah terdata di hotline @wecare.id laporan dari 54 rumah sakit dan puskesmas yang kekurangan alat pelindung diri. Sudah banyak dari pihak masyarakat yang bergerak sendiri melalui rekening pribadi, @kitabisacom, @wecare.id, dan lainnya," tulis Mesty.

 

5 dari 7 halaman

Desak Pemerintah

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu juga mendesak pemerintah untuk menjamin kelengkapan keamanan bagi tenaga medis yang berada di garda depan penanganan Covid-19.

 Mesty Ariotedjo© dream.co.id

" Terus terang kami juga harus bekerja lebih keras untuk menemukan distributor yang menyediakan APD yang sesuai dan lengkap. Semoga @jokowi dan pemerintahannya juga dapat bergerak cepat untuk merealisasikan janji-janjinya. Jika ingin melibatkan relawan bahkan hingga mahasiswa kedokteran ke medan perang, jangan bahayakan mereka, pastikan kelengkapan alat pelindung diri dan keselamatan mereka. Karena jika tentaranya runtuh di medan, siapa yang akan menolong para pasien? Kami butuh APD segera dan cepat. Keselamatan kami tidak dalam hitungan hari atau minggu, tapi menit bahkan detik," ungkapnya.

6 dari 7 halaman

Pengabdian Dokter Handoko di Garda Depan Melawan Covid-19

Dream - Tim medis berada di garda terdepan untuk penanganan virus corona (Covid-19) di Indonesia. Sebuah cerita mengharukan viral di media sosial. Seorang dokter spesialis paru yang berumur 80 tahun, siap 'perang'.

Sang dokter sudah mengenakan pakaian alat pelindungan diri (APD) atau hazmat. Dokter itu diketahui bernama Handoko Gunawan, seorang spesialis paru yang bekerja di RS Grha Kedoya, Jakarta Barat. 

 Pengabdian Dokter Handoko di Garda Depan Melawan Covid-19© Dream

Ia termasuk dalam jajaran dokter yang langsung menangani pasien Corona. Padahal dokter Handoko Gunawan merupakan dokter senior yang telah berusia 80 tahun.

Berawal dari unggahan di Facebook milik Noviana Kusumawardhani dan Hengky yang membagikan potret dokter Handoko, yang tetap berjuang merawat pasien terinfeksi corona, meski sudah dilarang pihak keluarga.

 

7 dari 7 halaman

Kerja Hingga Jam 3 Pagi

Dikutip dari status dari Facebook Noviana Kusumawardhani, Novia menuliskan jika dokter Handoko merupakan dokter ahli paru di RS Grha Kedoya, yang sudah berusia sekitar 80 tahun. Beliau bekerja merawat pasien hingga jam 3 pagi.

Postingan itu juga menampilkan foto dokter Handoko Gunawan yang menggunakan baju anti kontaminasi lengkap dengan masker dan sepatu.

Upaya pemerintah untuk melawan Corona memang tak lepas dari kerja keras tim medis.

Akun Facebook Hengky juga menuliskan jika dokter Handoko merupakan sosok pengabdi kemanusiaan yang luar biasa.

Beragam komentar pun ditulis oleh netizen di laman Facebook tersebut.

" Semoga dr Handoko sehat selalu dan diberikan panjang umur. Semangat....."  tulis salah satu netizen.

" Semoga pak dokter djaga tuhan , selalu sehat dan panjang umur.. GBU pak dokter yg baik hati," timpal lainnya.

" ikut mendoakan utk semua dokter dan petugas RS dimanapun"  imbuh lainnya.

Laporan Loudia Mahartika/ Sumber: Liputan6.com

Join Dream.co.id