Mengenal Awan Topi Gunung Rinjani, Mengenang Almarhum Sutopo

News | Kamis, 18 Juli 2019 12:00
Mengenal Awan Topi Gunung Rinjani, Mengenang Almarhum Sutopo

Reporter : Maulana Kautsar

Aktivitas alam ini pernah muncul pada 2018.

Dream - Fenomena alam terjadi di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu, 17 Juli 2019. Masyarakat mendokumentasi awan bertopi di Gunung Rinjani dan membaginya di media sosial.

Warganet menyebut fenomena ini sebagai aktivitas alam yang luar biasa.

Tetapi, awan itu merupakan fenomena awan biasa. Fenomena serupa pernah muncul di Gunung Semeru.

Almarhum Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pernah menjelaskan keberadaan awan topi tersebut.

" Gunung Semeru saat bertopi, berhelm, dan berhijab di puncaknya. Awan altocumulus lenticularis terbentuk akibat turbulensi," kata Sutopo.

Menurut Informasi World Meteorological Organization (WMO) menyebut awan ini biasanya berukuran tak lebih dari 200 meter. Turbulensi di dalam awan tampak lemah dan mungkin sedang.

Awan ini membuat benda di bawahnya tertutupi. Seolah payung besar.

2 dari 8 halaman

Fenomena Gunung Semeru Bertopi Awan, Pertanda Apa?

Dream - Gunung Semeru mengeluarkan fenomena menarik Senin, 10 Desember 2018. Gunung di Jawa Timur itu mengeluarkan awan putih yang menutupi puncak Mahameru.

Dari kejauhan fenomena itu mirip dengan topi. Warganet menyebut fenomena itu sebagai Gunung Semeru bertopi.

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebut, fenomena itu terjadi karena awan altocumulus lenticularis.

" Awan altocumulus lenticularis terbentuk akibat turbulensi di atasnya,"  tulis Sutopo di Twitter pribadinya @Sutopo_PN, Selasa, 11 Desember 2018.

Sutopo menyebut fenomena itu tidak ada kaitannya dengan peristiwa mistis, politik, dan bahkan pemilu mendatang, serta tanda bencana. " Semua karena keagungan Sang Ilahi."

Sutopo menyarankan fenomena semacam ini dapat dijadikan latar untuk foto di momen istimewa.

" Bagi yang mau nikah, gunakan fenomena alam ini buat foto pre wedding. Sungguh memesona! Cintamu akan terus terayomi meski ada turbulensi di hatimu," kata dia.

Berdasarkan data Pusat Vulkanologi, Klimatologi, dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Gunung Semeru merupakan satu dari 17 gunung api dengan status Waspada. (ism)

3 dari 8 halaman

Letusan Gunung Merapi Dilihat dari Luar Angkasa

Dream - Letusan Gunung Merapi pada Jumat 11 Mei 2018 membuat banyak orang terkejut. Sebab, letusan freatik yang terjadi pada pagi hari tersebut tidak didahului dengan tanda-tanda.

Masyarakat sempat diimbau tak mendekati puncak Gunung Merapi. Letusan itu juga membuat bandara Yogyakarta ditutup hingga Jumat sore.

Letusan Gunung Merapi ini juga terpantau oleh satelit cuaca Himawari. Berdasarkan pantauan satelit itu, pada pukul 10.00 WIB debu vulkanik mengarah ke selatan-tenggara.

 debu merapi

Sementara, pada pukul 13.00 WIB, abu vulkanik letusan Gunung Merapi mengarah ke tenggara-barat daya.

 debu merapi

Sementara, pada Sabtu 12 Mei 2018 pukul 16.00 WIB, debu vulkanik letusan Gunung Merapi tidak lagi terlihat dalam citra satelit.

 debu merapi

4 dari 8 halaman

Daki Gunung Tertinggi, Alasan Gadis 7 Tahun Ini Bikin Nangis

 Gadis kecil daki gunung tertinggi

Dream - Seorang gadis 7 tahun dari Texas, Amerika Serikat, memecahkan rekor dunia sebagai pendaki termuda Gunung Kilimanjaro di Tanzania. Dengan ketinggian mencapai 5895 meter, Kilimanjaro merupakan gunung tertinggi di Benua Afrika.

Menghadapi ketinggian, hujan, dan salju, Montannah Kenney naik ke salah satu puncak tertinggi di dunia itu bersama ibunya, Hollie Kenney, pada bulan Maret lalu selama satu minggu.

Ide untuk mendaki Gunung Kilimanjaro berawal saat Montannah mendengar percakapan ibu dan  bibinya.

Ketika mendengar tentang pendakian tersebut, Montannah mengajukan diri untuk bergabung. " Dia memberitahuku 'Ibu, aku ingin melakukannya bersamamu'," kata Hollie.

Saat melakukan survei tentang pendakian, keluarga Kenney menghadapi masalah baru. Montannah harus berusia minimal 10 tahun agar bisa ikut dalam pendakian tersebut.

 

5 dari 8 halaman

Motivasinya

Mereka diberitahu Montannah harus mendapatkan izin khusus untuk mendaki dan rencana pendakian pun ditetapkan pada tahun 2019.

Namun pada bulan Januari, Hollie mempercepat tanggal pendakian mereka setelah mendengar berita tentang seorang gadis 8 tahun bisa mendaki Gunung Kilimanjaro di bulan Juli 2017.

Mereka akhirnya menyewa seorang pemandu untuk pendakian mereka di bulan Maret lalu. Pendakian tersebut dilakukan dua bulan sebelum Montannah berusia 8 tahun.

Saat ditanya motivasinya ingin menaklukkan Gunung Kilimanjaro, Montannah mengatakan pendakian ini bukan sekadar upaya mencetak rekor dunia. Dia melakukannya pendakian tersebut untuk mengenang ayahnya yang meninggal tak lama setelah ulang tahunnya yang ketiga.

" Aku ingin lebih dekat dengan ayahku. Aku ingin melakukan petualangan yang menyenangkan dengan ibuku dan belajar tentang Gunung Kilimanjaro," katanya kepada CBS News.

Ketika ditanya apakah Montannah akan melakukannya lagi atau mendaki gunung lain, dia mengatakan 'mungkin' tetapi tidak 'selama' pendakiannya ke Gunung Kilimanjaro.

(Sah, Sumber: CBS News)

6 dari 8 halaman

Fenomena Bulan Makin Menyusut Kejutkan Dunia Sains

Dream - Sebuah fenomena langit yang cukup mengkhawatirkan terkait dengan Bulan menjadi perbincangan hangat para ilmuwan dalam beberapa waktu belakangan ini.

Menurut sebuah studi penelitian baru, Bulan kemungkinan akan terus menyusut akibat sering mengalami apa yang disebut dengan moonquake atau gempa Bulan.

Bulan disebut telah mengalami gempa sebanyak 28 kali sejak tahun 1969 hingga 1977. Dan para ilmuwan telah menganalisis gempa Bulan tersebut.

Hasil analisis ilmuwan tentang gempa Bulan tersebut ternyata sangat mengejutkan. Karena ada kemungkinan terdapat aktivitas tektonik di Bulan.

Menurut profesor geologi UniversityofMaryland, Nicholas Schmerr, dari 28 gempa Bulan, delapan di antaranya berasal dari 'aktivitas tektonik asli'. Artinya, ada pergeseran lempeng kerak di Bulan.

Jadi, gempa di Bulan terjadi bukan karena adanya benturan dengan asteroid atau runtuhan di bagian dalam satelit Bumi tersebut.

 Fenomena Bulan

Profesor Nicholas mengungkapkan bahwa sejumlah gempa yang terekam dalam data Apollo terjadi mirip dengan sesar yang terlihat dalam misi LRO (Lunar ReconnaissanceOrbiter) NASA.

" Sangat mungkin bahwa sesar itu masih aktif hingga hari ini. Anda mungkin tidak pernah mendengar aktivitas tektonik di mana pun kecuali di Bumi. Jadi, sangat menarik bahwa sesar itu masih menghasilkan gempa Bulan," kata Profesor Nicholas.

7 dari 8 halaman

Gempa Bulan

Gempa Bulan direkam oleh lima seismometer yang ditempatkan di permukaan Bulan selama misi Apollo 11, 12, 14, 15 dan 16. Jika di Bumi, gempa Bulan yang tercatat berada dalam kisaran antara 2 dan 5 pada skala Magnitudo Momen.

Thomas Watters, kepala penelitian, mengatakan kemungkinan delapan gempa ini dihasilkan oleh pergeseran sesar. Karena adanya tekanan yang meningkat ketika kerak Bulan dikompresi oleh kontraksi global dan kekuatan pasang surut.

 Bulan

" Ini menunjukkan Bulan mengalami penyusutan, dan seismometer Apollo memperlihatkan Bulan masih aktif secara tektonik," kata Thomas.

NASA pertama kali menemukan Bulan menyusut pada tahun 2010 ketika menganalisis citra dari LRO. Mereka menemukan bahwa Bulan 'layu seperti kismis ketika bagian dalamnya mendingin, menghasilkan ribuan tebing yang disebut thrustfaults (dorongan sesar pada permukaan Bulan)'.

Kemudian ketika dibandingkan dengan data dari tahun 60-an dan 70-an dengan data tahun 2010, tercipta algoritma baru untuk lebih memahami dari mana datangnya gempa Bulan tersebut.

8 dari 8 halaman

Bulan Aktif Secara Tektonik Selama 4,5 Miliar Tahun

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah NatureGeoscience itu, Bulan dianggap aktif secara tektonik sekitar 4,5 miliar tahun.

" Kami menyimpulkan bahwa hubungan dekat gempa bulan dengan thrustfaults muda, bersama dengan bukti gangguan regolith dan gerakan batu besar di dalam dan di dekat tebing sesar menunjukkan Bulan aktif secara tektonik," bunyi abstrak penelitian tersebut.

 Bulan

Profesor Nicholas menambahkan temuan yang menarik ini menjadi dasar bagi manusia untuk menginjakkan kaki sekali lagi di Bulan.
" Kami belajar banyak dari misi Apollo, tetapi kami hanya mengenal permukaannya saja," pungkasnya.

(Sah, Sumber: FoxNews.com)

Lebih Dekat dengan Tiffani Afifa, Dokter Cantik Juara Kpop World Festival
Join Dream.co.id