Varian Covid-19 Hasil Mutasi Pengaruhi Tingkat Efikasi Vaksin

News | Rabu, 2 Juni 2021 13:00

Reporter : Ahmad Baiquni

Pengaruh ini masih bersifat sementara.

Dream - Virus SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab penyakit Covid-19 terus mengalami mutasi. Muncul sejumlah varian baru yang ternyata dapat berpengaruh terhadap tingkat efikasi vaksin.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, mengatakan, sebaran varian baru terdeteksi hampir di seluruh Indonesia, dengan temuan didominasi dari Pulau Jawa. Hal ini didasarkan pada pelacakan Whole Genome Sequencing (WCS).

" WHO berdasarkan studi yang dilakukan beberapa peneliti menyatakan beberapa varian memiliki pengaruh yang sedikit hingga sedang terhadap angka efikasi tiap vaksin pada kasus positif dengan varian tertentu," ujar Wiku, disiarkan kanal YouTube BNPB.

Menurut WHO, tambah Wiku, sejauh ini terdapat beberapa varian utama yang sudah terdeteksi. Varian tersebut yaitu B117 dari Inggris, B1351 dari Afrika Selatan, B11281 dari Brasil atau P1 dari Jepang, dan B1617 dari India, yang kesemuanya berpengaruh pada tingkat efikasi vaksin.

Dia menjelaskan, varian B117 mempengaruhi vaksin AstraZeneca. Varian B1351 mempengaruhi vaksin Moderna, Pfizer, AstraZeneca dan Novavac.

Kemudian, varian P1 maupun B1617 mempengaruhi Moderna dan Pfizer. Ini karena vaksin-vaksin tersebut masih menggunakan jenis asal virus yang ditemukan di Wuhan, Hubei, China.

Varian Covid-19 Hasil Mutasi Pengaruhi Tingkat Efikasi Vaksin
(Foto: Shutterstock.com)
2 dari 5 halaman

Pengaruh Bersifat Sementara

Namun demikian, WHO menyatakan pengaruh tersebut masih bersifat sementara. Pengaruh bisa berubah, sehingga diperlukan studi lanjutan yang saat ini sedang berjalan.

Selain itu, kata Wiku, perubahan efikasi tidak sampai menurunkan khasiat vaksin hingga di bawah 50 persen. Bahkan sejumlah vaksin masih memiliki tingkat efikasi di atas 90 persen.

Untuk itu, diperlukan solusi paralel untuk mencegah penambahan varian baru hasil mutasi. Beberapa cara yang perlu dilakukan yaitu mengefektifkan testing dan karantina pelaku perjalanan.

Kemudian, menggiatkan pelacakan dengan metode WGS secara komplit. Selain itu, protokol kesehatan ditegakkan di semua sektor agar tidak terjadi penularan massif di masyarakat.

Langkah berikutnya, vaksinasi terus dijalankan. Sebab vaksin yang dipakai saat ini masih cukup efektif mencegah penyakit maupun menghindari risiko mengalami gejala parah.

 

3 dari 5 halaman

Virus dari Wuhan Menurun, RI Waspadai Varian Covid-19 dari 3 Negara

Dream - Kementerian Kesehatan menyatakan jumlah penularan Covid-19 dari varian Wuhan menunjukkan tren mengecil. Tetapi di saat bersamaan, penularan wabah akibat strain lain malah menunjukkan peningkatan.

" Varian dari Wuhan ini makin lama makin sedikit, malah diisi dengan varian-varian lain," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, dalam diskusi virtual disiarkan kanal Kemenkes.

Nadia melaporkan ditemukan 54 kasus penularan Covid-19 disebabkan varian virus corona dari Inggris (B117), Afrika Selatan (B1351), dan India (B16172). Dia merinci, 18 kasus penularan karena B117, 4 kasus B1351, dan 32 kasus B16172.

" Yang perlu kita waspadai sekarang varian B117, B1353, B16171, dan B16172. Sehingga menjadi kewaspadaan kita bahwa penularan B1671 ini terjadi peningkatan," kata Nadia.

Menurut Nadia, tiga varian tersebut ditetapkan dalam kategori Variant of Consent (VoC) berdasarkan ketetapan WHO. Kategori ini dinyatakan dapat berpengaruh terhadap sifat penularan, keparahan gejala, kepekaan alat tes, hingga kemampuan menghindari sistem imun pada virus.

Meski demikian, Nadia mengatakan masih perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikan hal ini.

4 dari 5 halaman

Kasus Aktif Tembus 100 Ribu Lagi Usai Lebaran

Menkes, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan terjadi kenaikan kasus aktif Covid-19 cukup signifikan usai Lebaran 2021. Bahkan kasus aktif harian kembali menyentuh level 100 ribu setelah sempat berada di bawah 90 ribu.

" Mengenai perkembangan kasus ada peningkatan dan kemarin kita sudah menyentuh kembali akan 100 ribu kasus aktif, naik dari paling rendah kita sempat sampai di bawah 90 ribu," kata Budi.

Menurut Budi, angka kenaikan ini memang tidak setinggi awal tahun 2021 yang mencapai 170 ribuan. Meski demikian, tren kenaikan perlu diwaspadai.

 

5 dari 5 halaman

Puncak Kenaikan 5-7 Pekan Lagi

Selanjutnya, Budi mengatakan kenaikan tren ini sempat dibahas oleh Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas. Dia pun menjelaskan dari pengalaman yang sudah terjadi, puncak kenaikan akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.

" Biasanya kenaikan itu akan mencapai puncaknya sekitar 5 sampai 7 minggu," kata dia.

Lebih lanjut, Budi menerangkan kenaikan kasus diprediksi akan terjadi hingga akhir Juni 2021. Untuk itu, dia meminta masyarakat agar selalu menerapkan protokol kesehatan.

" Kemungkinan akan adanya kenaikan kasus diperkirakan akan sampai puncaknya di akhir bulan Juni, sehingga arahan Bapak Presiden adalah dipastikan bahwa seluruh daerah tetap menjalankan disiplin protokol kesehatan 3M dengan baik," kata Budi.

Join Dream.co.id