Update Corona 31 Mei 2020, 1.613 Orang Meninggal Dunia

News | Minggu, 31 Mei 2020 17:02
Update Corona 31 Mei 2020, 1.613 Orang Meninggal Dunia

Reporter : Mutia Nugraheni

Penambahan kasus tertinggi terjadi di Jawa Timur.

Dream - Pandemi Covid-19 belum berakhir. Hingga hari ini, jumlah pasien akibat virus corona di Indonesia terus bertambah. Juru Bicara Pemerintah Percepatan Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyampaikan data hari ini, Minggu 31 Mei 2020, ada 40 pasien Corona meninggal dunia.

" Bertambah 40 jadi 1.613 orang," ujar Yurianto melalui konferensi pers daring di Graha BNPB Jakarta.

Sementara, jumlah orang yang dinyatakan positif Covid-19 akibat virus Corona pada hari ini bertambah 700 menjadi 26.473 orang.

Data update pasien Corona Covid-19 ini tercatat sejak pukul 12.00 WIB, Sabtu, 30 Mei 2020 hingga pukul 12.00 WIB hari ini, 31 Mei 2020.

 

2 dari 6 halaman

4 Provinsi Nol Kasus Baru Covid-19

Yurianto juga mengungkapkan, ada 4 provinsi yang nihil kasus baru positif virus Corona. Empat provinsi tersebut tidak melaporkan penambahan kasus baru hingga pukul 12.00 WIB tadi.

" Ada provinsi yang sama sekali tidak ada kasus pada hari ini, adalah Aceh, Jambi, Kalimantan Utara dan Riau," ujar Yurianto, 31 Mei 2020.

 

3 dari 6 halaman

Penambahan Kasus Tertinggi

Sebelumnya berdasarkan data pemerintah, kasus virus Corona di Aceh hingga kini tercatat 20 orang, Jambi 97 orang, 165 orang, dan Riau 117 orang. Sementara itu, penambahan kasus tertinggi terjadi di Jawa Timur yakni, 244 orang.

Kemudian, kasus Corona di DKI Jakarta bertambah 118 orang. Sementara di luar Pulau Jawa, penambahan kasus tertinggi ditemukan di Nusa Tenggara Barat yakni, 42 kasus.

Secara keseluruhan, Yurianto mengumumkan, kasus positif Corona pada hari ini bertambah 700 orang. Sehingga, total pasien corona hingga saat ini mencapai 26.473 orang.

Sumber: Liputan6.com

4 dari 6 halaman

1 dari 6 Anak Muda di Dunia Berhenti Kerja karena Corona

Dream – Organisasi Buruh Internasional (ILO) melaporkan 1 dari 6 generasi muda saat ini berhenti kerja karena pandemi corona. Laporan organisasi ini juga menyebut karyawan muda yang bekerja mengalami pemotongan jam kerja sebanyak 23 persen.

Dikutip dari Merdeka.com, Kamis 28 Mei 2020, Direktur Jenderal ILO, Guy Ryder mengatakan, krisis ekonomi akibat pandemi corona telah menghantam kehidupan generasi muda. Kalangan perempuan mendapat tekanan lebih berat dan cepat dibandingkan kelompok lainnya.

" Jika kita tidak mengambil aksi yang signifikan dan segera untuk memperbaiki situasi mereka, imbas virus ini dapat kita rasakan beberapa dasawarsa ke depan," kata Ryder.

Kalau energi dan bakat karyawan muda tak termanfaatkan denan baik, ini akan membahayakan masa depan. Ditambah lagi, perekonomian juga akan semakin sulit dibangun pasca Covid-19.

Kaum muda yang terdampak pandemi secara tidak proporsional, serta terjadi peningkatan yang besar dan cepat dalam pengangguran muda sejak Februari 2020. Hal itu lebih banyak berdampak kepada perempuan muda dibandingkan laki-laki muda.

Dalam laporan tersebut, dituliskan bahwa pandemi ini memberikan kejutan tiga kali lebih besar bagi kaum muda. Tidak hanya menghancurkan pekerjaan mereka, tetapi juga mengganggu pendidikan dan pelatihan serta memberikan hambatan besar bagi mereka yang sedang berupaya memasuki pasar kerja atau berpindah pekerjaan.

5 dari 6 halaman

Pengangguran Muda Lebih Tinggi

Pada angka 13,6 persen, tingkat pengangguran muda di 2019 terbilang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Ada sekitar 267 juta kaum muda yang tidak dalam pekerjaan, pendidikan atau pelatihan di seluruh dunia.

Mereka yang berusia 15-24 tahun dan bekerja umumnya berada dalam bentuk pekerjaan rentan seperti profesi berupah rendah, pekerjaan di sektor informal, atau sebagai pekerja migran.

ILO menyerukan tanggapan berskala besar dengan kebijakan yang tersasar untuk mendukung kaum muda, termasuk program yang memastikan lapangan kerja dan pelatihan yang luas di negara-negara berkembang, serta program yang kaya pekerjaan di negara dengan pendapatan ekonomi rendah dan menengah.

6 dari 6 halaman

Kebijakan New Normal Bisa Tekan Risiko PHK

Dream – Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mendukung keputusan pemerintah untuk menerapkan New Normal. Keputusan ini bisa menggerakkan kehidupan masyarakat menuju ke fase kenormalan baru.

" Pemerintah akan menerapkan new normal sebagai percobaan apakah program tersebut akan terus menerus diterapkan karena pandemi Covid-19 belum ada kepastian kapan selesainya," kata Ketua Umum BPP HIPMI, Mardani H. Maming, dalam keterangan tertulisnya, Rabu 27 Mei 2020.

Menurut Maming, kegiatan ekonomi memerlukan kepastian dan tidak boleh berhenti terlalu lama dalam penerapan new normal. Kalau tidak, ini berisiko menambah pemutusan hubungan kerja (PHK) dan berujung kepada resesi.

“ Karena pemerintah mau mengeluarkan keputusan ini, jadi boleh tetap bekerja. Tetapi, tetap mengikuti anjuran standar protokol kesehatan penanganan Covid-19,” kata dia.

Dalam  Forum Ketum BPP dan BPD HIPMI se-Indonesia melalui virtual conference, ada beberapa arahan yang diberikan oleh Maming. Salah satunya tentang penyamaan persepsi terkait pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) secara virtual.

Forum ini membahas hal-hal yang luput dari pandemi Covid-19, dia menghimbau kepada Ketum BPD di 34 provinsi untuk tidak terlalu memikirkan pandemi yang berujung membawa dampak.

" Kalau ikuti pandemi Covid-19 terus yang dipikirkan tidak ada habisnya. Anggota HIPMI harus diberikan siraman rohani, jasmani, dan mental biar tidak terbuai dengan pandemi Covid-19," kata dia.

Join Dream.co.id