UE Izinkan Booster Pfizer & Moderna, Antibodi Pasien Transplantasi Organ Diklaim Bertambah

News | Kamis, 7 Oktober 2021 07:00

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Regulator obat Uni Eropa mengizinkan pemberian vaksin booster bagi warga berusia 18 hingga 55 tahun.

Dream - BPOM-nya Uni Eropa (European Medicines Agency/EMA) memberi izin penuh suntikan booster vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech bagi warga yang berusia 18 tahun ke atas. Vaksin booster dapat disuntikan setidaknya enam bulan setelah dosis kedua.

Komite obat-obat manusia di EMA, mengeluarkan rekomendasi setelah mempelajari vaksin Pfizer menunjukkan peningkatan kadar antibodi setelah pemberian vaksin booster enam bulan setelah dosis kedua pada warga berusia 18 - 55 tahun.

Dalam laporannya, EMA juga mendukung pemberian vaksin dosis ketiga Pfizer ataupun Moderna kepada warga yang memiliki kekebalan tubuh lemah, setidaknya 28 hari setelah menerima suntikan kedua.

UE Izinkan Booster Pfizer & Moderna, Antibodi Pasien Transplantasi Organ Diklaim Bertambah
Ilustrasi (Foto: Liputan6.com)
2 dari 7 halaman

EMA mengatakan, vaksin booster berguna menghasilkan antibodi tambahan bagi pasien transplatasi organ.

" Meskipun belum ada bukti langsung bahwa kemampuan memproduksi antibodi pada pasien-pasien ini akan melindungi mereka terhadap COVID-19, dosis ekstra itu diperkirakan akan meningkatkan perlindungan, setidaknya pada sebagian pasien," tambah EMA.

Rekomendasi EMA akan disampaikan pada pihak berwenang di seluruh 27 negara anggota Uni Eropa. Sebagian diantara mereka bahkan telah mulai memberikan suntikan penguat atau booster ini.

Tak hanya itu, penelitian juga menunjukkan vaksin Pfizer dan Moderna bisa memberikan perlindungan selama berbulan-bulan setelah menerima dosis kedua. Dosis ketiga juga mengurangi risiko rawat inap dan kematian.

Sumber: liputan6.com

3 dari 7 halaman

Vaksin Booster Covid-19 Berbayar Disiapkan untuk Hadapi Gelombang ke Tiga

Dream – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta para menterinya untuk menyelesaikan vaksinasi Covid-19 dosis ke tiga atau booster minggu depan. Pemerintah melempar wacana ada vaksinasi booster berbayar untuk Covid-19.

“ Bapak Presiden memberikan arahan terkait dengan vaksinasi booster yang diharapkan bisa selesai minggu depan,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers yang disiarkan oleh akun Youtube Sekretariat Presiden, Selasa 28 September 2021.

Airlangga memerinci kebutuhan vaksin booster mencapai 97,1 juta dosis vaksin. Puluhan juta dosis ini ditujukan bagi 87,4 juta jiwa. Jokowi ingin mempercepat vaksin booster untuk menahan kemungkinan gelombang ke tiga Covid-19.

“ Itu akan didorong. Sisanya akan didorong lain melalui vaksin berbayar,” kata Airlangga.

Vaksin berbayar ini diperkirakan untuk 93,7 juta jiwa. Pemerintah akan mematangkan hal-hal yang berkaitan dengan vaksin booster Covid-19, termasuk harga.

4 dari 7 halaman

Ada yang Gratis, Tapi…

Airlangga mengatakan, ada vaksin booster Covid-19 yang gratis. Tapi, itu bagi Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan ditanggung APBN. Vaksin tersebut ditujukan bagi 87,4 juta jiwa.

Di samping itu, Airlangga juga menyebut ada kebutuhan sebanyak 9,9 juta dosis vaksin untuk anak usia 12 tahun. Jumlahnya mencapai 4,4 juta jiwa. Vaksin yang dibutuhkan sebanyak 9,9 juta dosis vaksin.

Lalu, vaksin yang berbasis iuran yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) sebanyak 27,2 juta jiwa atau 30,2 juta dosis.

“ Tentu ada yang berbasis PBI atau APBN. Ini kebutuhannya adalah 87,4 juta jiwa kebutuhannya 97,1 juta dosis. Untuk anak usia 12 tahun ada 4,4 juta kebutuhannya 9,9 juta dosis. Berdasarkan dana iuran APBD PBPU ketiga 27,2 juta atau 30,2 juta. Total vaksin program adalah 137,2 juta,” kata dia.

5 dari 7 halaman

Penelitian: Orang Tak Divaksin 11 Kali Lebih Berisiko Meninggal Akibat Covid-19

Dream - Hasil riset terbaru yang diterbitkan Pusat Pengendalian dan Pencegehan Penyakit AS atau CDC menemukan orang yang tidak divaksin Covid-19 berisiko 11 kali lebih besar kemungkinannya untuk meninggal dunia jika tertular virus.

Tak hanya itu, orang yang tidak divaksin juga kemungkinan mengalami komplikasi kesehatan yang parah, membutuhkan rawat inap, dan dalam skenario terburuk mengakibatkan kematian.

Menurut laman Mashble.com, penelitian ini melibatkan lebih dari 600.00 kasus Covid-19 di Amerika Serikat.

Hasil riset ini diterbikan sebagai rilis awal dalam CDC Morbidity and Mortality Weekly Report (MMWR) berkaca pada kasus Covid-19 yang muncul dari 4 April hingga 17 Juli 2021.

6 dari 7 halaman

Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa jumlah kematian di antara orang-orang yang tidak divaksin jauh lebih tinggi ketimbang mereka yang sudah mendapat dosis penuh.

Di saat yang bersamaan, ketika varian Delta menghantam Amerika Serikat, jumlah kematian orang yang divaksin lengkap juga meningkat, yang menunjukkan penurunan efikasi vaksin.

Namun, bukan berarti Anda boleh menyepelekan vaksinasi. Ketika melihat jumlah kematian di antara orang yang tidak divaksinasi selama waktu yang sama, mereka masih menyumbang sebagian besar kematian, yaitu 84 persen.

Secara umum, orang yang tidak divaksinasi menyumbang 82 persen kasus baru, dan 84 persen rawat inap.

7 dari 7 halaman

Jadi, meskipun ada indikasi vaksin kurang efektif terhadap varian Delta, angkanya masih menunjukkan bahwa vaksinasi secara signifikan mengurangi risiko komplikasi dan kematian akibat Covid-19.

" Intinya adalah: Kami memiliki alat ilmiah yang dibutuhkan untuk mengubah sudut pandang pada pandemi saat ini," kata direktur CDC, Rochelle Walensky.

" Vaksin bekerja dan melindungi kita dari komplikasi parah Covid-19. Ini akan melindungi anak-anak kita dan memunykinan mereka untuk segera bersekolah dengan aman.," pungkasnya.

Sumber: Mashble.com

Join Dream.co.id