Terkuak! Foto Satelit Diduga Bukti China Hancurkan Masjid di Xinjiang

News | Selasa, 29 September 2020 13:00
Terkuak! Foto Satelit Diduga Bukti China Hancurkan Masjid di Xinjiang

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

ASPI memperkirakan sekitar 8.500 masjid seluruh Xinjiang telah dihancurkan sejak 2017.

Dream - Pemerintah China dituding telah menghancurkan ribuan masjid di Daerah Otonomi Uighur, Xinjiang. Hal ini diungkapkan oleh lembaga think tank Institut Kebijakan Strategis Australia (Australian Strategic Policy Institute/ASPI) pada Jumat, 25 September 2020 lalu.

ASPI memperkirakan sekitar 8.500 masjid seluruh Xinjiang telah dihancurkan sejak 2017 - lebih dari sepertiga jumlah masjid yang disebutkan pemerintah ada di wilayah tersebut.

" Apa yang ditunjukkan adalah sebuah kampanye penghancuran dan penghapusan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Revolusi Budaya," jelas peneliti ASPI yang memimpin analisis, Nathan Ruser, dikutip dari Merdeka.com, Selasa 29 September 2020.

Foto Satelit© Merdeka.com

Selama kekacauan panjang yang berlangsung dari 1966 di bawah Mao Zedong, banyak masjid dan situs religius lainnya dihancurkan.

ASPI mengumpulkan sampel acak 533 masjid terkenal di seluruh Xinjiang, dan menganalisis citra satelit setiap situs yang diambil dalam waktu berbeda untuk melihat perubahannya.

ASPI juga meneliti makam-makam, kuburan, dan situs suci lainnya melalui sebuah sampel dari 382 lokasi diambil dari suvei yang disponsori pemerintah dan catatan online.

2 dari 6 halaman

China Membantah dan Tuduh AS

Ilustrasi Muslim Uighur© Merdeka.com

Pemerintah China membantah laporan penghancuran situs religius, menyebut “ sepenuhnya omong kosong” dan mengatakan pihaknya menghargai perlindungan dan perbaikan masjid-masjid.

Para pejabat China menuding ASPI bertujuan untuk memfitnah China, dan menuding didanai pemerintah AS karena bukti temuan mereka bias.

ASPI membantah tudingan tersebut, mengatakan penelitian mereka benar-benar independen dari penyandang dana.

Pihak berwenang telah memberlakukan pengawasan ketat pergerakan di Xinjiang dan mengekang aliran informasi keluar dari wilayah tersebut, membuatnya menjadi sebuah tantangan untuk menentukan skala penghancuran di lapangan.

3 dari 6 halaman

Verifikasi Ulang Peneliti Inggris

The New York Times memverifikasi banyak rincian dari laporan ASPI dengan meneliti citra satelit dan mengunjungi situs-situs di seluruh Xinjiang selatan tahun lalu.

“ Apa yang kami saksikan di sini adalah penghancuran sewenang-wenang situs-situs yang menjadi warisan warga Uighur dan warisan tanah ini,” kata pakar musik dan budaya Uighur Universitas London, Rachel Harris, yang mengkaji laporan tersebut.

Muslim Uighur© Shutterstock

Banyak dari makam dan kuburan baru-baru ditutup pemerintah atau diruntuhkan merupakan perwujudan tradisi Islam beragam warga Uighur.

Peziarah mengunjungi makam, yang dalam bahasa lokal disebut “ mazar”, dengan membawa persembahan makanan, tanduk kambing, dan hewan untuk menunjukkan kesalehan, atau boneka berbusana sebagai wujud harapan mereka akan anak-anak yang sehat.

Beberapa peziarah menghabiskan berminggu-minggu perjalanan mengunjungi situs suci yang satu ke situs suci lainnya.

Makam besar biasanya merupakan makam para imam, pedagang, dan tentara yang menyebarkan Islam di wilayah itu selama lebih dari seribu tahun lalu. Beberapa di antaranya membangun kompleks yang megah dan dibangun kembali selama berabad-abad. Tetapi pohon atau tumpukan batu juga bisa berfungsi sebagai makam, sebagai tanda bagi penduduk desa.

4 dari 6 halaman

Pelarangan Festival dan Ziarah

Muslim Uighur© Merdeka.com

Pihak berwenang China melarang festival dan ziarah di Ordam pada tahun 1997, dan tempat suci lainnya ditutup pada tahun-tahun berikutnya.

Tetap saja, beberapa pengunjung dan turis terus berdatangan untuk berkunjung.

“ Seorang Uighur yang berhasil mengunjungi Ordam mengatakan kepada beberapa penduduk desa terdekat bahwa dia pernah, dan mereka mulai menangis dan satu lagi meminta sedikit debu dari jaketnya,” kenang Mr. Thum.

“ Ini memberi kesan betapa pentingnya tempat ini bagi orang-orang, bahkan ketika mereka tidak dapat berkunjung.”

5 dari 6 halaman

Penutupan dan larangan kunjungan ke makam sebelumnya merupakan awal dari kampanye yang lebih agresif oleh pemerintah.

Pada awal 2018, makam Ordam, terisolasi di wilayah terpencil dan hampir 50 mil dari kota terdekat, telah diratakan, penghancuran salah satu warisan paling penting Uighur. Citra satelit dari waktu itu menunjukkan masjid di makam itu, ruang salat, dan rumah sederhana di mana penjaga tinggal diruntuhkan. Tak ada kabar apa yang terjadi dengan jambangan raksasa di mana para peziarah meninggalkan daging, gandum, dan sayuran yang dimasak penjaga menjadi hidangan berkat.

“ Anda melihat kenyataan dan apa yang tampaknya merupakan upaya sadar untuk menghancurkan tempat-tempat yang penting bagi Uighur, justru karena mereka penting bagi Uighur,” jelas Thum.

 

6 dari 6 halaman

Masjid Diubah Menjadi Bar

Di Kashgar, kota besar di selatan Xinjiang, hampir semua masjid di pusat kota tampak tertutup, dengan perabotan ditumpuk di dalam, berdebu. Satu masjid telah diubah menjadi bar.

“ Sepertinya saya kehilangan anggota keluarga di sekitar saya karena budaya kami diambil,” kata Mamutjan Abdurehim, seorang mahasiswa pascasarjana Uighur dari Kashgar yang sekarang tinggal di Australia dan telah mencari informasi tentang istrinya di Xinjiang.

“ Ini seperti bagian dari daging kita, tubuh kita, sedang dibuang.”

Tidak semua situs religius dihancurkan. Beberapa tempat sekarang menjadi tempat wisata resmi, dan tidak lagi berfungsi sebagai situs ziarah, seperti Mausoleum Afaq Khoja yang terkenal di Kashgar.

Pemakaman Uighur yang luas di tepi Kashgar sejauh ini bertahan dan keluarga berhenti untuk merapikan kuburan dan berziarah.

Orang Uighur mencatat bahwa tempat suci telah dihancurkan dalam beberapa dekade sebelumnya, kemudian dibangun kembali, dan mereka dapat bangkit kembali. Tapi mereka gentar dengan skala pemberantasan baru-baru ini.

“ Intensitas tindakan keras ini cukup mengejutkan,” kata Abdurehim.

“ Banyak orang Uighur yang ingin berharap cukup pesimis, termasuk saya.”

Sumber: Merdeka.com

 

 

 

 

 

Terkait
Join Dream.co.id