Terdakwa Rudapaksa Santriwati di Bandung Berharap Keringanan Hukuman

News | Kamis, 20 Januari 2022 16:52

Reporter : Ahmad Baiquni

Kejati Jabar mengungkap intinya terdakwa menyesal.

Dream - Sidang kasus rudapaksa santriwati di Kota Bandung dengan terdakwa HW kembali digelar. Sidang hari ini beragendakan pembacaan nota pembelaan atau pleidoi dari terdakwa.

Sidang dilaksanakan secara tertutup dan terdakwa HW tidak datang ke ruangan. Dia membacakan pledoi secara online dari Rumah Tahanan Kebonwaru, Kota Bandung, Jawa Barat.

Kuasa hukum terdakwa, Ira Mambo, menyatakan tidak dapat mengungkapkan detail isi pledoi kliennya mengingat persidangan berlangsung tertutup. Dia hanya dapat menjelaskan secara umum bahwa isi pleidoi kliennya merupakan tanggapan atas tuntutan hukuman mati dan kebiri kimia serta denda ratusan juta yang diajukan Jaksa Penuntut Umum.

" Karena dilarang oleh UU Peradilan Anak, dinyatakan hakim perkara ini tertutup, maka fakta persidangan tidak bisa diberikan maupun keadaan terdakwa dan segala sesuatu menyangkuit perkara ini," kata dia.

 

Terdakwa Rudapaksa Santriwati di Bandung Berharap Keringanan Hukuman
Ilustrasi Kekerasan Seksual (Foto: Shutterstock)
2 dari 6 halaman

Mohon Keringanan

Ira kembali menyatakan pihaknya tidak dapat memberikan keterangan mengenai isi pembelaan kiennya. Sebab, penjelasan harus diberikan secara menyeluruh sementara persidangan tidak bisa diungkap ke publik.

" Intinya adalah kami memohonkan hukuman yang seadil-adilnya, spesifikasinya tentu kami tidak bisa uraikan dan terdakwa pun diberi kesempatan pembelaannya pribadi secara tersendiri," kata Ira.

Kepala Sie Penerangkan Hukum Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Dodi Gazali Emil, menyatakan inti dari pleidoi terdakwa adalah penyesalan. Terdakwa, kata dia, memohon maaf kepada para korban dan keluarganya serta berharap keringanan hukuman.

" Pada intinya, sependek yang bisa diketahui bahwa yang bersangkutan menyesal, kemudian meminta maaf kepada seluruh korban dan keluarga, kemudian meminta untuk dikurangi hukuman," kata Dodi, dikutip dari Merdeka.com.

3 dari 6 halaman

Guru Rudapaksa Santriwati di Bandung Dituntut Mati

Dream - Terdakwa kasus rudapaksa santriwati di Bandung, Jawa Barat, HW, mendapat tuntutan maksimal dari Jaksa. Bahkan, tuntutan yang diajukan Jaksa ke Majelis Hakim berlapis.

" Menuntut terdakwa dengan hukuman mati," ujar Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Asep N Mulyana, usai persidangan tertutup yang digelar Selasa, 11 Januari 2022.

Selain hukuman mati, tuntutan lain yang diajukan yaitu kebiri. Terdakwa juga dituntut membayar denda Rp500 juta.

" Hukuman tambahan berupa kebiri kimia, membayar denda senilai Rp500 juta subsider 1 tahun kurungan," kata Asep.

Tak hanya itu, jaksa juga mengajukan tuntutan agar hakim memerintahkan pembekuan lembaga pendidikan yang dikelola terdakwa. Selain itu, memohon majelis hakim untuk membolehkan penyebaran identitas terdakwa ke hadapan publik.

" Identitas terdakwa disebarkan," kata Asep.

 

4 dari 6 halaman

Dasar Tuntutan

Selanjutnya, Asep menjelaskan tuntutan ini dibuat dengan tujuan untuk menimbulkan efek jera. Juga untuk membuktikan komitmen kejaksaan dalam penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Sementara, tuntutan ini sudah sesuai dengan Pasal 81 ayat (1), ayat (3) Dan (5) juncto Pasal 76D UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP, seperti dalam dakwaan pertama.

Asep juga menyatakan sejumlah hal yang memberikan terdakwa. Seperti terdakwa memakai simbol agama melalui lembaga pendidikan untuk melancarkan perbuatan kejinya. Hal itu membawa dampak psikologis luar biasa pada korban.

Dalam pembacaan tuntutan, terdakwa HW dihadirkan di persidangan. Sehingga terdakwa mendengarkan sendiri tuntutan yang disampaikan jaksa, dikutip dari Merdeka.com.

5 dari 6 halaman

Kejinya Guru Rudapaksa Santriwati, Istri Dicuci Otak Sampai Tak Bisa Melapor

Dream - HW, guru perudapaksa santriwati di Kota Bandung ternyata benar-benar keji. Ternyata sang istri juga mengetahui perbuatan keji HW, bahkan menyaksikan secara langsung.

Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Asep N Mulyana, menyebutkan fakta ini terungkap pada persidangan yang berlangsung tertutup Kamis kemarin. Muncul dugaan para korban dan istri HW sendiri telah dicuci otak.

" Jadi kalau teman-teman bertanya kenapa ini baru terungkap sekarang, kenapa istrinya tidak mau melapor, itu seperti itu (cuci otak). Di dalam istilah psikolog ada dampak dirusak fungsi otak," ujar Asep.

Menurut Asep, HW membuat kondisi kejiwaan istrinya tidak berdaya dengan cara-cara licik. Sehingga, istri pelaku tidak bisa membedakan antara benar dan salah.

" Boro-boro melapor, istrinya pun tidak berdaya," kata Asep.

Apalagi saat mendapati HW sedang melakukan tindak pelecehan seksual kepada santriwati, wanita tersebut hanya diam. Bahkan sampai meminta maaf sudah melihat suaminya melakukan kekejian tersebut.

" Bahkan, mohon maaf, ketika istri pelaku mendapati suaminya kemudian pada saat malam, tidur malam, naik ke atas dan mendapati pelaku melakukan perbuatan tidak senonoh pada koorban, dia tidak bisa apa-apa," kata dia.

6 dari 6 halaman

Tega Rudapaksa Sepupu Istri

Parahnya, kata Asep, pelaku juga melancarkan aksinya kepada salah satu santriwati yang merupakan sepupu istrinya sendiri. Malah, aksi itu dilakukan di saat sang istri sedang hamil besar sehingga mengalami guncangan kejiwaan.

" Dia melakukan itu pada saat istri si pelaku itu dalam kondisi hamil besar, jadi ada dampak psikologis terhadap istrinya itu secara luar biasa," ucap dia.

Yang lebih memprihatinkan, HW tega menyuruh istrinya ikut merawat bayi hasil hubungan gelapnya dengan para korban. Wanita itu juga hanya menurut saja.

" Karena kondisi otaknya yang dibekukan tadi, sehingga dia (istri HW) pun nurut, termasuk disuruh pelaku mengurus anak-anak yang sebetulnya dilahirkan dari perbuatan pelaku," kata Asep, dikutip dari Merdeka.com.

Join Dream.co.id