Oknum Nakes Timbun Obat Jatah Pasien Meninggal Covid-19 dan Dijual ke Apotek

News | Kamis, 5 Agustus 2021 07:01

Reporter : Ahmad Baiquni

Bahkan berani memalsukan surat dokter.

Dream - Selain ketidakpatuhan pada protokol kesehatan, hal menjengkelkan lain yang bisa dilakukan pelaku yang tak peka dengan susahnya berjuang melawan Covid-19 adalah oknum yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Inilah yang dilakukan sejumlah oknum tenaga kesehatan.

Di kala masyarakat kesulitan mendapatkan obat karena harganya yang melambung tinggi dan susah didapatkan, oknum Nakes ada yang tega menimbun obat jatah pasien Covid-19 yang sudah meninggal.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus, melaporkan telah mengamankan 24 oknum Nakes yang diduga melakukan perbuatan tersebut, Modus yang dibongkar Direktorat Reserse Narkoba menemukan adanya jaringan dari aksi yang dilakukan oknum nakes tersebut.

" Ada 24 orang termasuk satu perawat. Mereka mencari keuntungan dengan cara menimbum untuk menjual berkali-kali limat, dia mainkan dengan menimbun," ujar Yusri.

 

Oknum Nakes Timbun Obat Jatah Pasien Meninggal Covid-19 dan Dijual ke Apotek
Ilustrasi (Shutterstock.com)
2 dari 5 halaman

Timbun Lalu Mainkan Harta

Yusri menerangkan, perawat tersebut menjalin kerja sama dengan seorang penjaga apotek. Obat itu dikumpulkan perawat untuk dijual kepada penjaga apotek tersebut.

" Oknum perawat mengambil obat pasien Covid-19 yang meninggal dunia, jadi ada pasien yang meninggal dunia obatnya dikumpulkan, nanti kalau udah terkumpul dia mainkan harganya," kata Yusri.

Parahnya, komplotan ini juga membuat surat dokter palsu untuk menutupi modus kejahatan yang mereka lakukan.

Yusri melanjutkan para pelaku dijerat dengan Pasal 196 dan atau Pasal 198 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan atau Pasal 62 juncto Pasal 10 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

" Ancaman hukuman pidana maksimal 10 tahun penjara," ucap Yusri, dikutip dari Merdeka.com.

3 dari 5 halaman

BPOM: Hentikan Promosi Ivermectin Sebagai Obat Covid-19

Dream - Badan Pengawas Obat dan Makanan meminta semua pihak menghentikan promosi Ivermectin sebagai obat Covid-19. Ini mengingat Ivermectin masih dalam tahapan uji klinis.

Kepala BPOM, Penny Lukito, menegaskan pihaknya baru mengeluarkan izin uji klinis untuk Ivermectin yang masuk dalam skema Perluasan Penggunaan Khusus (Expanded Acces Program/EAP). Sementara izin penggunaan darurat untuk obat ini belum dikeluarkan.

" Mengingat Ivermectin adalah obat keras dan persetujuan EAP bukan merupakan persetujuan izin edar, maka ditekankan kepada industri farmasi yang memproduksi obat tersebut dan pihak mana pun untuk tidak mempromosikan obat tersebut, baik kepada petugas kesehatan maupun kepada masyarakat," ujar Penny, dikutip dari laman BPOM.

Saat ini, Ivermectin masih dalam tahap uji klinis oleh Badan Pengkajian Kebijakan Kesehatan Kementerian Kesehatan untuk mendapatkan data khasiat serta keamanan untuk penyembuhan Covid-19. Tetapi jika diperlukan penggunaan Ivermectin secara lebih luas di luar uji klinis, Kemenkes dapat mengajukan permohonan dengan skema EAP.

" Dengan pertimbangan bahwa obat EAP merupakan obat yang masih digunakan dalam kerangka penelitian dan berpotensi untuk disalahgunakan, maka BPOM perlu melakukan pengawasan untuk mengawal distribusi obat EAP hanya dilakukan oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang disetujui," kata dia.

BPOM mewajibkan Pemilik Persetujuan dan Penyedia Obat EAP melalukan pemantauan farmakovigilans. Juga melaporkan Kejadian Tidak Diinginkan (KTD) maupun Efek Samping Obat (ESO).

" Serta melakukan pencatatan dan pelaporan setiap bulan terkait pengadaan, penyaluran, dan penggunaan Obat EAP kepada Badan POM," kata Penny.

4 dari 5 halaman

Daftar Obat Ini Sudah Dapat Izin BPOM untuk Covid-19, Tak Ada Ivermectin

Dream - Badan Pengawas Obat dan Makanan telah mengeluarkan izin penggunaan darurat (EUA) sejumlah obat untuk penanganan Covid-19. Di antara daftar obat tersebut, terdapat dua jenis zat aktif yaitu Remdesivir dan Favipiravir namun tidak menyertakan Ivermectin.

" Ini adalah obat-obat yang telah mendapatkan persetujuan penggunaan dalam kondisi darurat dari Badan POM sebagai obat Covid-19, ada dua, Remdesivir dan Favipiravir," ujar Kepala BPOM, Penny Lukito.

Penny mengatakan izin diterbitkan BPOM mempertimbangkan prosedur ketetapan uji klinis yang sudah disetujui organisasi profesi. BPOM juga memberikan pendampingan untuk percepatan data masukan distribusi.

Selanjutnya, Penny mengatakan pihaknya telah mengeluarkan informatorium untuk obat Covid-19 di Indonesia. Informatorium tersebut disusun bersama lima organisasi profesi dan tenaga ahli.

" Saya kita di dalamnya juga sudah ada indikasi-indikasi untuk pengobatan pasien Covid-19 anak-anak," kata dia.

 

5 dari 5 halaman

Ini Daftarnya

Berikut informatorium obat Covid-19 yang telah diizinkan BPOM :

- Kategori zat aktif atau bentuk persediaan Remdesivir serbuk injeksi:

1. Remidia
2. Cipremi
3. Desrem
4. Jubi-R
5. Covifor
6. Remdac

Indikasi Remdesivir serbuk injeksi adalah pengobatan bagi pasien dewasa dan anak dalam perawatan di rumah sakit. Pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dengan tingkat keparahan pada derajat berat.

- Kategori zat aktif atau bentuk persediaan Remdesivir larutan konsentrat untuk infus:

1. Remeva

Indikasi Remeva ialah pengobatan bagi pasien dewasa dan anak terkonfirmasi Covid-19 dengan derajat keparahan berat

- Kategori zat aktif atau bentuk persediaan Favipiravir tablet salut selaput:

1. Avigan
2. Favipiravir
3. Favikal
4. Avifavir
5. Covigon

Indikasi Favipiravir tablet salut selaput adalah pengobatan untuk pasien Covid-19 dengan derajat keparahan sampai sedang yang dikombinasi dengan standar, dikutip dari Merdeka.com.

Join Dream.co.id