Tanggapan WHO Atas Laporan Pasien Covid-19 Sembuh di Hong Kong Tertular Lagi

News | Kamis, 27 Agustus 2020 15:00

Reporter : Ahmad Baiquni

Jubir WHO Margaret Harris mengatakan bisa jadi penularan kembali hanya karena perbedaan pengujian.

Dream - Badan Kesehatan Dunia (WHO) menekankan pentingnya dokumentasi dan konfirmasi atas temuan baru seputar Covid-19. Hal ini menanggapi temuan para ilmuwan Hong Kong mengenai adanya pasien positif Covid-19 yang sudah sembuh namun tertular kembali.

Juru Bicara WHO, Margaret Harris, saat berbicara di hadapan wartawan di Jenewa, Swiss, mengatakan, terdapat kemungkinan laporan mengenai penularan ulang terjadi akibat perbedaan dalam pengujian. Dia mencatat kasus infeksi ulang Covid-19 pertama dikonfirmasi dari lebih dari 23 juta kasus.

Apabila kasus tersebut lebih sering terjadi, seharusnya ada lebih banyak infeksi ulang yang muncul. Menurut Harris, kasus ini signifikan karena berkaitan dengan kekebalan tubuh terhadap virus.

" Inilah sebabnya kami punya banyak kelompok penelitian yang benar-benar melacak orang-orang terinfeksi, mengukur antibodi, mencoba memahami berapa lama perlindungan kekebalan itu dapat bertahan," kata Harris.

Tanggapan WHO Atas Laporan Pasien Covid-19 Sembuh di Hong Kong Tertular Lagi
Ilustrasi (Shutterstock.com)
2 dari 6 halaman

Dia melanjutkan masyarakat harus memahami perlindungan kekebalan tubuh secara alami setelah terinfeksi virus tidak sama dengan kekebalan karena vaksin.

Sebelumnya, ahli epidemiologi WHO, Maria Van Kerkhove, menyatakan tidak perlu mengambil kesimpulan apapun terkait laporan ilmiah dari tim peneliti Covid-19 Hong Kong. Kasus orang terinfeksi Covid-19 sembuh dan keluar rumah sakit lalu positif lagi saat dites sudah dilaporkan muncul di China daratan.

Tetapi pada kasus tersebut, tidak diketahui dengan jelas apakah mereka tertular virus lagi setelah sembuh total seperti kasus di Hong Kong. Atau masih ada virus dalam tubuh mereka dari infeksi awal.

Sumber: Voice of America

3 dari 6 halaman

Pertama di Dunia, Pasien Sembuh Kembali Tertular Covid-19

Dream - Tim peneliti di Universitas Hong Kong melaporkan adanya temuan pasien positif Covid-19 yang sudah dinyatakan sembuh tertular kembali virus corona pada Senin, 24 Agustus 2020. Temuan ini menjadi kasus pertama di dunia.

Temuan tersebut mengindikasikan penyakit yang telah menewaskan 800 ribu lebih orang di seluruh dunia akan terus menyebar. Meskipun populasi dunia telah memiliki kekebalan kawanan (herd immunity).

Pria 33 tahun dinyatakan sudah sembuh dari Covid-19 dan dibolehkan pulang dari rumah sakit pada April lalu. Tetapi hasil uji menunjukkan pasien tersebut kembali positif setelah kembali dari Spanyol via Inggris pada 15 Agustus lalu.

 

4 dari 6 halaman

Pasien Tampak Sehat

Dalam artikel yang dimuat pada jurnal medis Clinical Infectious Disease, para peneliti menyatakan pasien tersebut sebelumnya tampak sehat.

Dia tertular virus corona jenis yang berbeda dari yang pernah dialaminya. Tetapi tetap tidak menunjukkan gejala infeksi kedua.

" Penemuan ini bukan berarti pembuatan vaksin akan sia-sia," ujar dokter Kai Wang To, penulis utama artikel tersebut.

To mengatakan kekebalan yang timbul akibat vaksin bisa sangat berbeda dari yang disebabkan oleh infeksi alami. " Perlu menunggu hasil uji untuk melihat sejauh mana keefektifan dari vaksin," lanjut dia.

 

5 dari 6 halaman

Belum Ada Kesimpulan dari WHO

Pakar epidemiologi WHO, Maria Van Kerkhove, mengatakan tidak perlu mengambil kesimpulan apapun terkait kasus Hong Kong. Kasus orang positif Covid-19 sembuh dan keluar rumah sakit lalu kembali terkena penyakit yang sama sudah terjadi di China daratan.

Tetapi, tidak diketahui dengan jelas apakah mereka tertular virus lagi setelah sembuh total, seperti yang terjadi pada pasien Hong Kong. Ataukah mereka masih punya virus di dalam tubuhnya dari infeksi awal.

Ahli penyakit menular dari kelompok pakar China, Wang Guiqiang, mengatakan jumlah awal pasien Covid-19 yang hasil tesnya positif lagi sekitar 5-15 persen. Salah satu penjelasannya, virus masih ada di paru-paru pasien namun tidak terdeteksi pada sampel yang diambil dari bagian atas saluran pernapasan.

 

6 dari 6 halaman

Kata Para Pakar

Sebab lain adalah kemungkinan sensitivitas tes yang rendah dan kekebalan yang lemah. Hal itu dapat menyebabkan hasil positif yang persisten.

Ahli dan konsultan di Proyek Genom Covid-19 di Institut Wellcome Sanger Inggris, Jeffrey Barrett, mengatakan sangat sulit untuk membuat kesimpulan yang kuat dari satu pengamatan.

" Mengingat jumlah infeksi global hingga saat ini, melihat satu kasus infeksi ulang tidaklah mengherankan meskipun itu kejadian yang sangat jarang," kata Barrett.

Sumber: Channel News Asia

Join Dream.co.id