Taliban Perbolehkan Wanita Bersekolah dengan Syarat Tertentu

News | Senin, 30 Agustus 2021 15:12

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Abdul Baqi Haqqani mengatakan wanita Afghanistan akan tetap diizinkan untuk belajar bahkan hingga perguruan tinggi, tetapi mereka akan melarang adanya kelas campuran.

Dream - Salah satu kekhawatiran paling mendasar atas kembalinya kekuasaan Taliban di Afghanistan yakni penerapan hukum syairat Islam yang ketat seperti pada tahun 1990-an. Penerapan ini berkaitan dengan pembatasan hak-hak kaum perempuan, terutama masalah pendidikan.

Namun, pejabat Menteri Pendidikan Tinggi Taliban, Abdul Baqi Haqqani, mengatakan, wanita Afghanistan akan tetap diizinkan untuk belajar bahkan hingga perguruan tinggi, tetapi mereka akan melarang adanya kelas campuran.

" Orang-orang Afghanistan akan melanjutkan pendidikan tinggi mereka berdasarkan hukum Syariah dengan aman tanpa berada dalam lingkungan campuran pria dan wanita," katanya pada pertemuan dengan para tetua, dikenal sebagai loya jirga, dikutip dari RFI, Senin 30 Agustus 2021.

Taliban, kata dia, ingin menciptakan kurikulum yang masuk akal dan Islami sejalan dengan nilai-nilai Islam, nasional dan sejarah, serta di sisi lain mampu bersaing dengan negara lainnya.

Konsep pemisahan kelas tersebut akan dimulai dari sekolah dasar hingga menegah, yang sebenarnya sudah umum dilakukan di Afghanistan.

Taliban Perbolehkan Wanita Bersekolah dengan Syarat Tertentu
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
2 dari 6 halaman

Janji Taliban Dipertanyakan

Taliban juga telah berjanji menghormati kemajuan hak-hak perempuan, tapi harus berdasarkan hukum syariah yang mereka interpretasikan dengan keras. Janji Taliban untuk lebih moderat ditanggapi dengan skeptis, di mana banyak orang mempertanyakan apakah kelompok ini akan menepati janjinya.

Pada Minggu kemarin, pada rapat loya jirga yang dihadiri para pejabat senior Taliban, tidak ada pejabat wanita yang hadir.

“ Kementerian Pendidikan Tinggi Taliban hanya berkonsultasi dengan guru dan mahasiswa laki-laki untuk melanjutkan fungsi universitas," kata seorang dosen perempuan, yang bekerja di universitas selama pemerintahan sebelumnya.

3 dari 6 halaman

Dosen yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan, hal tersebut menunjukkan aksi pencegahan partisipasi perempuan dalam pembuatan keputusan. Tak hanya itu, menunjukkan pula adanya kesenjangan antaran komitmen dan tindakan Taliban.

Tingkat penerimaan universitas meningkat selama 20 tahun terakhir, khususnya di kalangan perempuan yang belajar berdampingan dengan laki-laki dan menghadiri kuliah profesor laki-laki. Namun sejumlah serangan di pusat pendidikan dalam beberapa bulan terakhir yang menewaskan puluhan orang menimbulkan kepanikan.

Taliban membantah terlibat dalam serangan tersebut, di mana beberapa serangan diklaim oleh ISIS cabang Afghanistan.

Sumber: Radio France Internationale

4 dari 6 halaman

Taliban Perintahkan Semua Wanita Tetap di Rumah

Dream - Taliban mengeluarkan perintah terbaru untuk wanita yang bekerja agar tetap di rumah saja. Perintah ini diberlakukan sampai sistem yang baru sudah terbentuk.

" Ini prosedur yang sangat sementara," ujar Juru Bicara Taliban, Zabihullah Mujahid.

Taliban telah sembilan hari mengambil alih pemerintahan Afghanistan. Meski belum ada peralihan kekuasaan secara resmi.

Sementara PBB menyoroti temuan adanya pelanggaran yang dilakukan Taliban selama penguasaan kembali Afghanistan. Terutama pelanggaran terhadap hak perempuan yang termuat dalam laporan kredibel.

Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet mengatakan hak-hak perempuan merupakan persoalan yang harus digarisbawahi. Bachelet menyatakan Taliban terbukti tidak menghargai hak para perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan bekerja.

Dalam konferensi persnya di Kabul pada hari Selasa, Mujahid membahas proses evakuasi yang dipimpin. Pasukan AS menguasai bandara Kabul dari mana sekitar 58.700 orang telah dievakuasi sejauh ini.

5 dari 6 halaman

Klaim Hanya Sementara

Mujahid menegaskan kembali posisi Taliban, operasi itu harus berakhir pada 31 Agustus. Mengenai situasi wanita Afghanistan, dia mengatakan pembatasan apa pun akan berumur pendek.

" Pasukan keamanan kami tidak terlatih (dalam) bagaimana menangani wanita, bagaimana berbicara dengan wanita, beberapa dari mereka," kata Mujahid.

" Sampai kami memiliki keamanan penuh ... kami meminta wanita untuk tinggal di rumah," ucap dia.

Selain mengungkapkan keprihatinan atas hak-hak perempuan, Bachelet juga mengatakan telah menerima laporan perekrutan tentara anak dan eksekusi cepat oleh Taliban. Dia berbicara pada pertemuan darurat Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa.

Setelah itu, dewan mengesahkan sebuah resolusi yang menegaskan " komitmen tak tergoyahkan" untuk hak-hak perempuan dan anak perempuan. Namun, resolusi tersebut tidak memenuhi apa yang diminta oleh banyak kelompok hak asasi manusia, khususnya, tidak merekomendasikan penunjukan penyelidik khusus PBB untuk Afghanistan.

 

6 dari 6 halaman

Citrakan Diri Berbeda

Sejak kembali berkuasa, Taliban mencoba mencitrakan diri lebih baik dari sebelumnya. Mereka menjanjikan hak-hak bagi perempuan dan anak perempuan serta kebebasan berbicara.

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mengadakan pembicaraan dengan para pemimpin negara-negara industri terkemuka G7 lainnya pada hari Selasa untuk membahas krisis Afghanistan.

Ribuan orang termasuk warga negara Inggris, warga negara asing lainnya dan warga Afghanistan yang memenuhi syarat dievakuasi di luar negeri masih menunggu untuk keluar.

Khalid, seorang warga Afghanistan yang bekerja sebagai penerjemah untuk Angkatan Darat Inggris, mengaku lega meski masih merasa sedih karena meninggalkan negara itu. Dia dan keluarganya sekarang berada di utara Inggris.

" Ketika Anda meninggalkan negara Anda, orang-orang Anda, terutama saudara perempuan Anda, saudara laki-laki Anda, ibu Anda, semua orang ... karena hal-hal itu saya sedih, tetapi sekarang saya bahagia di Inggris," kata dia.

Bahkan sebelum Taliban merebut kembali kendali, lebih dari 550 ribu orang terpaksa meninggalkan rumah mereka tahun ini karena pertempuran, menurut UNHCR.

Sementara itu, kepala Badan Intelijen Pusat AS (CIA) mengadakan pertemuan rahasia di Kabul dengan pendiri Taliban Mullah Baradar, sumber mengatakan kepada media AS.

Jika dikonfirmasi, itu akan menjadi pertemuan tingkat tertinggi sejauh ini antara AS dan Taliban sejak jatuhnya Kabul dan pemecatan pemerintah yang didukung AS, dikutip dari BBC.

 

Join Dream.co.id