Taliban Kuasai Rumah Mewah Panglima Perang Afghanistan, Begini Isinya

News | Selasa, 21 September 2021 17:00

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Vila mewah itu diketahui merupakan hasil dari korupsi endemi selama bertahun-tahun.

Dream - Taliban telah mengambil alih rumah mewah milik panglima perang dan buronan mantan Wakil Presiden Afghanistan, Abdul Rashid Dostum. Vila mewah di Kabul itu diyakini merupakan hasil dari korupsi selama bertahun-tahun.

Sepanjang koridor dilapisi karpet berwarna hijau apel yang tebal. Tak hanya itu, terdapat pula lampu gantung kaca besar di aula rumah, sofa empuk dan kolam renang yang dengan ubin keramik. Rumah mewah itu juga menawarkan sauna, pemandian uap, serta gym beserta alat-alat yang lengkap.

" Islam tidak pernah menginginkan kita memiliki kehidupan mewah," kata Qari Salahuddin Ayobbi, salah satu komandan militan Taliban, dikutip dari dawn.com, Selasa 21 September 2021.

Taliban Kuasai Rumah Mewah Panglima Perang Afghanistan, Begini Isinya
Ilustrasi Taliban (Foto: Shutterstock)
2 dari 6 halaman

Pemilik terdahulu vila Dostum merupakan mantan penerjun payung, komandan komunis, panglima perang, hingga wakil presiden. Dostum diduga mendapat untung besar dari korupsi dan penggelepan uang negara pada pemerintahan Afghanistan sebelumnya.

Kala itu, banyak pejabat negara yang secara ilegal mengambil tanah untuk membangun rumah mewah di satu wilayah.

Menurut keterangan Ayoubi, rezimnya tidak akan menghancurkan rumah mewah milik Dostum tersebut. Namun pihaknya berjanji, penghamburan kekuasaaan seperti itu tidak akan terjadi.

" Kami berpihak pada orang miskin," terangnya.

3 dari 6 halaman

Jerit Wanita Afghanistan: Saya Gemetar Tiap Lihat Taliban, Merasa Putus Asa

Dream - Setelah satu bulan Taliban berkuasa, sebuah kereta kargo yang meluncur di atas jembatan perbatasan Afghanistan dan Uzbektisan, mulai memasuki wilayah yang disebut sebagai " Emirat Islam" baru. Panji putih dan hitam khas Taliban berkibar di sebelah bendera Uzbekistan.

Sang pengemudi yang membawa gandum tersebut mengaku pada masa lalu ia terpaksa menyuap para pejabat polisi untuk melewati perbatasan tersebut.

" Sekarang tidak seperti itu. Saya bisa berkendara sampai ke Kabul dan tidak membayar sepeser pun," kata pengemudi yang tidak disebutkan namanya, dkutip dari BBC, Jumat 17 September 2021.

Afghanistan kini tengah menghadapi krisis ekonomi besar karena banyaknya pengusaha hengkang sehingga tingkat perdagangan merosot drastis.

Kepala bea cukai Taliban di pelabuhan Hairatan, Maulvi Saeed, mengatakan, pemerintah saat ini tengah memotong pajak untuk mempromosikan perdagangan dan berupaya mengajak para pedagang kaya kembali.

" Cara ini guna menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat dan para pengusaha akan mendapat pahala di akhirat," jelas Saeed.

4 dari 6 halaman

Keyakinan Taliban Terhadap Rakyat

Sekitar satu jam perjalanan dari Kabul, terdapat salah satu kota terbesar ke empat di Afghanistan, yakni Mazar-i-Sharif. Dari luar tampak kehidupan warganya yang biasa saja, namun ternyata mereka juga tengah kesulitan dalam sektor ekonomi.

" Semuanya baik-baik saja, tetapi mungkin orang masih perlu lebih banyak waktu untuk membiasakan diri dengan pemerintahan baru," kata seorang perempuan warga setempat yang tidak disebutkan namanya.

Wartawan BBC bertemu dengan Haji Hekmat, seorang pemimpin Taliban lokal yang berpengaruh.

" Anda mengira menciptakan keamanan, tetapi para pengkritik Anda mengatakan bahwa Anda membunuh budaya di sini," kata wartawan BBC.

" Tidak. Pengaruh Barat telah ada di sini selama 20 tahun terakhir. Kontrol Afghanistan telah berpindah ke tangan lain selama 40 tahun. Kami telah kehilangan tradisi dan nilai-nilai kami sendiri, kami hanya membawa kembali budaya asli dalam kehidupan," jawab Hekmat.

Menurut pemahamannya, dalam ajaran Islam, pencampuran laki-laki dan perempuan dilarang.

Dalam pertemuan tersebut, Haji Hekmat sangat yakin Taliban sudah sepenuhnya mendapat dukungan dari rakyat. Namun masih banyak masyarakat diluar yang berpikir sebaliknya.

5 dari 6 halaman

Penegakan Hukum ala Taliban

Saat rombongan BBC meninggalkan Masjid Biru, ada kerumunan orang di jalan utama ditemukan empat mayat dengan luka tembak panjang. Satu mayat memiliki catatan di tangannya memperingatkan bahwa jika ada penjahat lain, mereka akan mendapat hukuman serupa.

Kejahatan dan kekerasan di Afghanistan sendiri sudah menjadi masalah utama di kota-kota besar Afghanistan.

" Jika mereka benar penjahat (mayat yang ditembak), itu hal baik. Akan menjadi pelajaran bagi orang lain," kata seorang warga yang berada di kerumunan mayat tersebut. 

6 dari 6 halaman

Ketakutan Warga Kota

Tetapi di kota, tak sedikit yang merasa ketakutan dengan keberadaan Taliban. " Setiap kali saya keluar rumah dan melihat Taliban, saya gemetar ketakutan,” kata seorang mahasiswa jurusan hukum, Farzana.

Universitas swasta di Afghanistan saat ini sudah di buka, tetapi universitas negeri masih tutup. Di bawah aturan baru Taliban, mahasiswa laki-laki dan perempuan yang belajar di kelas yang sama harus dipisahkan tirai.

Bagi Farzana, itu bukan prioritas. Dia khawatir Taliban melarang perempuan bekerja, dimana ini menjadi ketakutan kebanyakan rakyat Afghanistan yang sebelumnya sudah telah dibantah kelompok itu.

Namun fakta di lapangan, perempuan di Afghanistan diperintahkan untuk tinggal di rumah demi keselamatan mereka sendiri, kecuali jika mereka berprofesi sebagai guru atau petugas medis.

" Saat ini saya merasa putus asa," kata Farzana, " tetapi saya melakukan yang terbaik dan tetap optimis untuk masa depan."

Terakhir kali Taliban berkuasa pada 1996-2001, mereka melarang perempuan meninggalkan rumah tanpa pendamping laki-laki. Sebagian besar ketakutan di kota-kota Afghanistan saat ini adalah Taliban akan menerapkan aturan serupa.

Sementara Taliban memegang kendali penuh atas negara itu, mereka belum memenangkan hati dan pikiran sebagian besar rakyat. Haji Hekmat mengakui, " Mengambil alih negara secara militer itu sulit, menerapkan supremasi hukum dan melindunginya bahkan lebih sulit."

Sumber: merdeka.com

Join Dream.co.id