Tak Dianjurkan Melayat Orang yang Meninggal Akibat Covid-19

News | Jumat, 3 April 2020 19:00
Tak Dianjurkan Melayat Orang yang Meninggal Akibat Covid-19

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Masyarakat diharapkan bisa menahan diri.

Dream - Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Ede Suray Darmawan, meminta masyarakan tidak melayat jenazah yang meninggal akibat positif terjangkit virus corona maupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP) untuk menekan persebaran Covid-19.

" Sudah ada anjuran, kalau ada jenazah positif corona ataupun masih PDP, tetap saja kewaspadaan harus dilakukan. Sebaiknya yang melayat pun membatasi diri," jelas Ede dikutip dari Liputan6.com.

Meski ada status PDP ataupun ODP, tidak menutup kemungkinan hasil laboratorium menunjukkan positif corona. Sehingga, lebih baik menahan diri untuk tidak melayat.

Untuk sementara waktu, kata Ede, cara terbaik dalam menyampaikan belasungkawa bisa dimulai dari mengucapkan duka cita dengan tetap mengatur jarak, mengirimkan uang duka, dan bertakziah setelah wabah ini mereda.

Sumber: Liputan6.com/Fitri Haryanti Harsono

2 dari 7 halaman

Kondisi Terkini Bupati Karawang yang Dirawat Positif Corona

Dream - Kondisi Bupati Karawang, Cellica Nurrachadiana, dinyatakan membaik. Cellica menjalani isolasi dan perawatan insentif lantaran dinyatakan positif tertular virus corona.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Karawang, Fitra Hergyana, mengatakan Cellica telah menjalani perawatan intensif di rumah sakit rujukan.

" Alhamdulillah hari ini saya sampaikan bahwa pasien positif Covid-19 yang diisolasi dan mendapatkan perawatan di sejumlah RS rujukan, kondisinya baik semua, termasuk Ibu Bupati, tidak ada gejala klinis yang membahayakan," jelas Fitria dikutip dari Liputan6.com.

Meski membaik, Cellica masih perlu menjalani perawatan di rumah sakit sampai kondisinya benar-benar pulih. Fitra juga menyatakan saat ini, jumlah pasien Covid-19 di Karawang mencapai 33 orang.

Delapan dari 33 orang tersebut dinyatakan positif terpapar Covid-19 setelah mendapati hasil tes swab. Sedangkan 25 lainnya dinyatakan positif virus saat menjalani tes cepat.

Selain itu, jumlah orang dalam pemantauan (ODP) di Karawang mencapai 1.355 orang dan 25 orang pasien dalam pengawasan (PDP).

Fitra mengimbau masyarakat ikuti arahan pemerintah dalam upaya penekanan virus Corona. Masyarakat Karawang diminta untuk tidak melakukan aktivitas di luar ruangan dan menerapkan social distancing (menjaga jarak).

Laporan: Razdkanya Ramadhanty

3 dari 7 halaman

Percakapan Terakhir Anak dan Ibu Positif Corona Dilakukan Pakai Walkie Talkie

Dream - Kejadian menyedihkan seputar pasien positif corona dan keluarganya terjadi lagi. Kali ini menimpa keenam kakak-beradik Rutter. Sang ibu, Sundee Rutter, 42 tahun, yang baru saja selamat dari kanker payudara dinyatakan meninggal akibat Covid-19 pada 16 Maret 2020.

Elijah Ross-Rutter, anak tertua dari Sundee Rutter mengatakan saat terakhir ia melihat sang ibu di ruang perawatan hanya bisa dilakukan melalui jendela kaca kecil.

Elijah dan adik-adiknya harus mengucapkan salam perpisahan kepada ibunya melalui walkie-talkie tanpa bisa memeluk sang ibu.

" Saya bilang saya mencintai dia... Dia tidak perlu khawatir terhadap kami," ungkap Elijah, dikutip dari Buzzfeednews.

Sundee Rutter baru saja dinyatakaan selamat dari kanker payudara. Tetapi, pada 16 Maret 2020 dinyatakan meninggal dunia akibat Covid-19.

Keenam anaknya dan adik perempuan serta ibunya harus mengucapkan selamat tinggal melalui walkie-talkie karena mengetahui risiko tinggi virus Covid-19.

 

4 dari 7 halaman

Detik-detik Memilukan

Pada saat masa penyembuhan kankernya, Sundee selalu dikelilingi oleh keluarga dan teman-temannya. Tetapi hal ini tidak bisa terjadi ketika ia dirawat akibat Covid-19.

Awalnya, Elijah diperbolehkan melihat ibunya menggunakan masker. Selang beberapa waktu sang ibu sepenuhnya diisolasi.

" Rasanya aku seperti kehilangan sahabatku dan dia bahkan tidak bisa mendengarku pada saat terakhir," ungkap Elijah.

Elijah pertama kali membawa ibunya ke rumah sakit tempat kasus Covid-19 pertama kali dirawat di Washington yaitu Providence Regional Medical Center.

Ketika tiba di rumah sakit, ia dan sang ibu harus menunggu selama delapan jam di dalam ruangan isolasi dengan para petugas yang berlalu-lalang menggunakan pakaian pelindung. Setelah itu, mereka diperbolehkan pulang.

" Dia pikir hanya terkena flu biasa. Tapi sulit bagi kita untuk mengetahui bagaimana ibu bisa terpapar virus, karena tidak banyak orang yang terkena disekitar sini," ungkap Elijah.

 

5 dari 7 halaman

Momen Sedih

Pada awalnya di Washington hanya terdapat 27 kasus positif corona dan sembilan meninggal dunia. Sementara sekarang yang terpapar mencapai 4.300 dengan 195 meninggal.

Senin lalu, terdapat 1.068 kasus positif corona dan 21 meninggal di Snohmish County, tempat Sundee Rutter tinggal.

Pada 7 Maret, empat hari setelah Elijah dan ibunya dipulangkan, mereka kembali ke rumah sakit. Kali ini Elijah tidak ikut diisolasi dan hanya menunggu hasil test lab ibunya.

Beberapa jam kemudian, dokter yang melakukan test memanggil Elijah dan ibunya diharuskan menginap di rumah sakit untuk dirawat karena dugaan pneumonia. Di hari berikutnya, ibunya didiagnosa terkena Covid-19.

(Sah, Laporan: Razdkanya Ramadhanty)

6 dari 7 halaman

Malaysia Lockdown Corona, Lansia Jalan Kaki ke Singapura

Dream - Baru-baru ini, media massa di Malaysia ramai dengan pemberitaan perempuan lanjut usia (Lansia) yang berjalan kaki ke Singapura. Perempuan tersebut mulai berjalan dari titik Bea Cukai Johor Baru ke Singapura dengan berjalan kaki.

Menurut sumber, wanita tersebut terpaksa berjalan kaki karena adanya kebijakan Lockdown atau penutupan akses keluar masuk dari pemerintah Malaysia terkait pencegahan penularan Corona Covid-19.

Pemerintah Malaysia memberlakukan kebijakan lockdown sejak 18-31 Maret dan kemudian diperpanjang hingga 14 April 2020 mendatang.

7 dari 7 halaman

Pulang Saat Dengar Suami Sakit

 6. Membantu Lansia yang Hidup Sebatang Kara di Sekitar Kita© MEN

Wanita tersebut dilaporkan baru saja pindah ke Johor selama dua minggu ketika lockdown diberlakukan di Malaysia. Saat itu, putranya sangat membutuhkan bantuannya untuk merawat anak-anaknya.

Tak lama berselang, dia mendengar suaminya yang telah berusia 80 tahun jatuh sakit dan membutuhkan perawatan. Perempuan itu memutuskan untuk kembali ke Singapura dengan berjalan kaki.

Perempuan itu memulai perjalanannya dari Johor sekitar pukul 5 sore pada hari Minggu (29 Maret), dan mencapai Boon Lay, Singapura pada pukul 21:30. Dia menempuh jarak selama empat jam dengan berjalan kaki dengan membawa tas.

" Sebagai putranya, saya merasa sangat tersentuh ketika melihat gambar ini karena mengingatkan saya bahwa seorang ibu bersedia melakukan apa pun untuk keluarganya, bahkan jika itu berarti mengorbankan waktunya," kata Herman Sudil.

 

Join Dream.co.id