Tahan 3 Bulan, Mantan Aspri Bongkar Perlakuan Putri Bangsawan Saudi

News | Rabu, 13 Mei 2020 17:01
Tahan 3 Bulan, Mantan Aspri Bongkar Perlakuan Putri Bangsawan Saudi

Reporter : Sugiono

Bayangan hidup enak akhirnya buyar.

Dream - Sebagian orang pasti bermimpi bisa bekerja untuk orang kaya, apalagi jika majikannya adalah putri seorang bangsawan.

Diberi gaji tinggi, diajak keliling dunia, atau ikut makan di restoran mewah menjadi impian bagi orang-orang ini.

Namun tidak demikian dengan kisah perempuan bernama Catherine Coleman. Dia adalah mantan asisten pribadi (Aspri) seorang putri bangsawan Arab Saudi di Riyadh.

Awalnya perempuan Filipina ini bermimpi akan punya masa depan yang cerah jika menjadi Aspri putri bangsawan negara Petrodollar itu.

2 dari 7 halaman

Bayangan Hidup Enak Buyar

Tetapi bayangan Catherine ternyata meleset. Dia teringat bagaimana kejamnya si putri bangsawan yang tidak disebutkan namanya itu.

Sebagai Aspri, Catherine memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pelayan, pembantu, dan sopir.

Dia bahkan diminta untuk mengambil alih peran dalam mendisiplinkan mereka jika melanggar salah satu aturan yang dibuat sang putri.

Menurut Catherine, pelayan tidak boleh mengambil makanan atau barang sisa milik kerajaan yang sudah tidak dipakai tanpa seizinnya.

3 dari 7 halaman

Daftar Panjang Aturan dari Sang Putri

Meski jabatannya lebih dekat dengan sang putri, Catherine sendiri punya daftar aturan yang harus dipatuhi. Saking banyaknya, dia menyebut panjangnya bisa mencapai empat halaman.

Beberapa aturan tersebut di antaranya Catherine dilarang berargumentasi dengan sang putri. Meskipun dia berada di posisi yang benar.

Catherine juga tidak boleh membelakangi bangsawan ketika berbicara. Tidak boleh terlalu akrab dengan bangsawan. Dia bahkan tidak boleh berteman dengan sesama staf.

4 dari 7 halaman

Sering Kerja Sampai Jam 4 Pagi

Dia sering harus bekerja sampai jam 4 pagi. Selama perjalanan ke Paris, dia harus membersihkan kamar mandi para bangsawan.

Catherine juga mencuci pakaian mereka dengan tangan, termasuk lima pakaian ganti sehari.

Catherine, yang awalnya sebagai kepala pelayan dan kemudian naik jadi Aspri lima tahun lalu, juga diperingatkan untuk tidak melanggar peraturan negara.

Jika kedapatan melanggar peraturan negara, dia akan ditangkap. Kedutaan negaranya tidak akan diberitahu atau tidak akan dibela oleh pengacara.

5 dari 7 halaman

Kekejaman Sang Putri Bangsawan

Selama bekerja dengan bangsawan Saudi, Catherine mengklaim bahwa ia melihat foto-foto luka para pelayan sebelumnya setelah mereka mendapat hukuman fisik. Dia merasa mual saat melihat foto-foto tersebut.

Salah satu bentuk hukuman dari sang putri terhadap pelayan adalah menuangkan seember air es di atas kepalanya sebelum mereka dipaksa berdiri di luar sampai pagi pada malam musim dingin.

Pelayan lainnnya menunjukkan luka-luka memar akibat sang putri menendangnya sebelum dihadiahi perhiasan murah.

Para pelayan menjelaskan kepada Catherine bahwa setiap kali mereka dipukuli, mereka diberi perhiasan atau uang.

Jika mereka menerima pemberian sang putri bangsawan berarti mereka menerima permintaan maaf dari orang yang memukul mereka.

6 dari 7 halaman

Baru Kerja 3 Bulan Memutuskan Berhenti

Setelah mendengarkan cerita kekejaman sang putri bangsawan dan pengalamannya sendiri, kebencian Catherine terhadap majikannya makin bertambah.

Baru tiga bulan bekerja, Catherine akhirnya memutuskan untuk berhenti menjadi aspri putri bangsawan Saudi untuk selamanya.

Apalagi Catherine pernah tidak menuruti perintah sang putri saat diminta untuk mendisiplinkan salah satu pelayan.

Sayangnya Catherine tidak bisa berhenti dan keluar begitu saja karena dia terikat kontrak kerja selama 1 tahun.

Jika nekat membatalkan kontrak, maka Catherine harus membayar denda yang tidak sedikit, mencapai US$4.000 atau hampir Rp60 juta.

Tidak sampai di situ saja, dia juga harus membayar biaya kompensasi kepada agen kerja yang menempatkannya di Arab Saudi.

7 dari 7 halaman

Mengancam Lapor ke Wali

Catherine mencoba untuk menggertak sang putri bangsawan agar mengakhiri kontrak dan memberikannya izin keluar.

Dia melakukannya dengan mengancam akan melaporkan kekejaman sang putri kepada walinya, yaitu saudara laki-lakinya yang baik hati dan lembut.

Kaum Wanita di Arab Saudi memiliki wali laki-laki. Selama Catherine bekerja di Saudi, para wanita ini tak bisa berbuat banyak tanpa izin dari para wali mereka.

Catherine mengatakan kepada sang putri bahwa dia tidak akan bicara ke saudara laki-lakinya jika diizinkan pulang tanpa syarat.

Dua jam setelah percakapan itu, Catherine menerima sebuah amplop berisi visa keluar dan terbang pulang keesokan harinya.

(Sah, Sumber: Albawaba)

Join Dream.co.id