Ini Penyebab Suhu Pagi Hari Belakangan Terasa Lebih Dingin

News | Rabu, 7 Agustus 2019 17:00
Ini Penyebab Suhu Pagi Hari Belakangan Terasa Lebih Dingin

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an

Sebagian daerah mengalami suhu dingin di malam hingga pagi hari.

Dream - Beberapa hari belakangan masyarakat mungkin merasakan suhu udara pagi lebih dingin dari biasanya. Terutama yang tinggal di Jabodetabek.

Menurut Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu terasa lebih dingin di malam hingga pagi hari karena tidak adanya awan yang menahan panas di bumi.

"Dinginnya udara malam hari akan berlangsung hingga pagi hari," demikian penjelasan BMKG di akun Instagram resminya, diakses Dream, Rabu 7 Agustus 2019.

Menjelang siang, awan biasanya muncul dan menyerap energi gelombang pendek dari matahari. Gelombang tersebut lalu dipancarkan ke atmosfer.

"Pada saat itulah kita akan kembali merasakan kehangatan atau panas bumi," tulis BMKG.

 
 
 
View this post on Instagram

Sebelum besok pagi ada yang ngeluh lagi karena kedinginan . . Tahukah sobat sekalian bahwa panas yang kita rasakan di bumi merupakan energi gelombang panjang yang dipancarkan bumi setelah menyerap radiasi matahari berupa gelombang pendek. Panas permukaan bumi tersebut membuat kita hangat karena energi gelombang panjang tersebut dipantulkan kembali ke bumi oleh awan-awan diatas sana. . . Nah Lebih dinginnya udara yang dirasakan sobat sekalian terutama pada musim kemarau ini disebabkan karena tidak adanya awan pada malam hari sehingga panas permukaan bumi atau gelombang panjang dipancarkan seluruhnya dan tidak ada yang dipantulkan kembali ke Bumi. Dinginnya udara malam hari akan berlangsung hingga pagi hari menjelang siang hari hingga bumi kembali menyerap energi gelombang pendek dari matahari kemudian dipancarkan lagi ke atmosfer dan pada saat itulah kita akan kembali merasakan kehangatan/panas bumi. . . Jadi mulai skrg siapin jaket buat berangkat ke sekolah, ke kampus atau bekerja besok. Jangan lupa minuman hangatnya. Kalau masih kedinginan juga berarti kamu..... (Silahkan isi sendiri)

A post shared by BMKG (@infobmkg) on

Banyak sedikitnya awan di langit berpengaruh terhadap terjadinya suhu dingin. Semakin sedikit awan, bahkan jika tidak ada, memicu udara semakin dingin.

"Lebih dinginnya udara yang dirasakan sobat sekalian terutama pada musim kemarau ini disebabkan karena tidak adanya awan pada malam hari," tulis BMKG.

2 dari 6 halaman

Jokowi Minta BMKG Blak-blakan Soal Kawasan Rawan Bencana

Dream - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendesak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tegas melarang pembangunan di sejumlah infrastruktur zona merah.

" Ini rawan gempa, lokasi ini rawan banjir. Jangan dibangun bandara, jangan dibangun bendungan, jangan dibangun perumahan," ucap Jokowi, dilaporkan Liputan6.com, Selasa, 23 Juli 2019.

Menurut Jokowi, BMKG harus menyampaikan setiap informasi yang dimiliki apa adanya. Informasi tersebut dibutuhkan agar setiap pembangunan dilakukan mengacu pada laporan BMKG.

" Kalau daerah-daerah rawan bencana ya tolong diberitahukan sampai ke daerah," ujarnya.

BMKG, lanjut presiden, harus tegas menyampaikan kerawanan suatu lokasi. Cara itu dibuat agar kesalahan jelang pembangunan dapat dikurangi.

" Tegas sampaikan. jangan sampai kita mengulang sebuah kesalahan yang jelas-jelas di situ jelas garisnya lempengan tektonik, kok dibangun perumahan besar," kata dia.

Jokowi juga meminta BMKG mengedukasi masyarakat secara instentif.

Selain itu, Jokowi juga meminta masyarakat tak mencuri atau merusak perlengkapan deteksi bencana milik BMKG.

(Sah, Sumber: Liputan6.com/Lizsa Egeham)

3 dari 6 halaman

Kisah Sutopo Berjuang Kabarkan Bencana Saat Kanker Menyerang

Dream - Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho menyisakan duka mendalam bagi rakyat Indonesia. Pria asal Boyolali, Jawa Tengah itu menghembuskan napas terakhir saat menjalani perawatan akibat kanker paru-paru di Guangzhou, Tiongkok, pada Minggu, 7 Juli 2019 pukul 02.00 waktu setempat atau 01.00 WIB.

Kiprah Sutopo di dunia kebencanaan tidak bisa dianggap remeh. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini menjadi pusat informasi bencana yang di Indonesia bagi jurnalis hingga lembaga-lembaga dunia.

Divonis kanker stadium 4 pada Desember 2017 lalu tidak menyurutkan tekad Sutopo mengabarkan situasi bencana ke seluruh Indonesia bahkan dunia. Dia terus memberikan perkembangan data bencana hingga dampak dan kondisi terkini dari para korban meski dalam fisik yang terus melemah.

Di waktu bersamaan, Sutopo juga mengazamkan diri untuk melawan segala bentuk hoaks atau kabar bohong seputar kebencanaan. Dia begitu sigap memberikan klarifikasi hingga membuat banyak unggahan media sosial untuk menangkal hoaks.

Semangat Sutopo muncul tidak lain dari motivasi ingin memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. Dia amat mencintai pekerjaan dan berjuang dengan penuh ketekunan menjalankan amanah yang diemban.

4 dari 6 halaman

Innalillahi, Sutopo Purwo Nugroho Meninggal Dunia

Dream - Kabar duka kembali datang dari kalangan tokoh nasional. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, meninggal dunia di Guangzhou, Tiongkok, Minggu, 7 Juli 2019 dini hari.

Kabar ini disampaikan Direktorat Pengurangan Risiko Bencana (PRB) BNPB lewat Twitter.

" Telah meninggal dunia Bapak @Sutopo_PN, Minggu, 07 July 2019, sekitar pukul 02.00 waktu Guangzhou/pukul 01.00 WIB. Mohon doanya untuk beliau," demikian tulis Direktorat PRB.

Sebelumnya, Sutopo divonis mengidap kanker paru-paru pada Desember 2017. Sejak itu, dia sering keluar masuk rumah sakit untuk menjalani perawatan dan kemoterapi.

Namun demikian, Sutopo tidak pernah absen dari tugas. Meski tengah dirawat, pria asal Boyolali itu terus memberikan informasi mengenai bencana dan perkembangan proses penanganannya.

Pada Sabtu, 15 Juni 2019, Sutopo terbang ke Guangzhou untuk menjalani perawatan. Saat itu, sel kanker telah menyebar ke tulang dan organ tubuh lainnnya.

5 dari 6 halaman

Sutopo BNPB Berobat ke China: Mohon Dimaafkan Kesalahan dan Dosa Saya

Dream - Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, pamit ke warganet. Melalui Instagram pribadinya, Sutopo mengatakan ingin menjalani pengobatan di Guangzhou, China.

"Hari ini saya ke Guangzhou untuk berobat kanker paru yang telah menyebar di banyak tulang dan organ tubuh," tulis Sutopo, Sabtu 15 Juni 2019.

Sutopo mengatakan, kanker paru-paru yang telah menyebar itu terasa sangat menyakitkan. Pada unggahan itu, dia juga meminta doa restu kepada warganet.

"Jika ada kesalahan mohon dimaafkan. Sekaligus saya dimaafkan atas kesalahan dan dosa," ucap dia.

      View this post on Instagram

Hari ini saya ke Guangzho untuk berobat dari kanker paru yang telah menyebar di bsnyak tulang dan organ tubuh lali. Kondisinya sangat menyakitkan sekali. . Saya mohon doa restu kepada kepada semua netizen dan lainnyanny. Jika ada kesalahan mohon dimaafkan. Sekaligus saya dimaafkan atas kesalahan dan dosa,. . Saya di Guangzho selama 1 bulan. Maaf jik tidak bisa menyampaikan info bencana dengan cepat. Mohon maaf ya

A post shared by Sutopo Purwo Nugroho (@sutopopurwo) on 

Sutopo akan menjalani pengobatan di Ghuangzhou selama satu bulan. Dia juga meminta maaf seandainya tidak bisa menyampaikan info bencana dengan cepat.

Warganet pun mendoakan agar pengobatan Sutopo berlangsung lancar dan segera sembuh. "Semangat pak. Tante saya sembuh 99% pulang dari sana. Yakin dan percaya itu adalah salah satu kuncinya," tulis akun @yohannestobing.

Akun @riniwulandarijatmiko berpesan, "Hati² ya mas.... Smg perjalanan lancar selamat sampai tujuan dan sgr mendaparkan kesembuhan."

"Semoga Allah memberi kemudahan dan mengangkat penyakit Bapak Aamiin Yaa Allah, selalu semangaat ya pak," doa akun @ifa3k_hidi.

Sementara, akun @wayan_ami berharap, "Semoga lekas sembuh pak. Dan tetap bersemangat."

Semoga cepat sembuh Pak Topo.

6 dari 6 halaman

Sutopo Alami Keanehan Usai Jalani Kemoterapi

Dream - Sutopo Purwo Nugroho kini harus menjalani kemoterapi secara rutin. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat, di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu tengah berjuang melawan kanker paru-paru stadium 4.

Prosedur kemoterapi dilakukan secara intensif demi bisa membunuh sel kanker jahat yang menggerogoti paru-parunya. Biasanya, para pasien kanker yang menjalani kemoterapi akan mengalami kerontokan rambut yang parah.

Sebab, obat kemoterapi sangat keras. Bukan hanya mematikan sel kanker yang jahat tapi juga sel tubuh yang masih sehat, seperti sel rambut. Namun, yang terjadi pada Sutopo justru sebaliknya.

Selama ini pria yang akrab disapa Pak Topo ini mengalami kebotakan. Rambutnya tak tumbuh di kepala bagian depan dan tengah. Tapi setelah menjalani kemoterapi, rambut-rambut baru justru tumbuh di area itu.

Terkait
Wasiat Terakhir Ustaz Arifin Ilham
Join Dream.co.id