Soroti Lonjakan Covid-19 di Indonesia, Ini Rekomendasi WHO

News | Sabtu, 19 Juni 2021 10:38

Reporter : Ahmad Baiquni

Kasus yang terjadi di Indonesia disebut menjadi kekhawatiran bersama.

Dream - Badan Kesehatan Dunia (WHO) memantau perkembangan terkini kasus Covid-19 di Indonesia. Saat ini, Indonesia tengah menghadapi dua ancaman yaitu lonjakan Covid-19 serta peningkatan infeksi varian baru virus corona.

WHO menyatakan kondisi ini menjadi kekhawatiran bersama, mengingat sejumlah indikator bahaya sudah terjadi. WHO pun merekomendasikan Indonesia untuk memperketat pembatasan, salah satunya dengan menerapkan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

" Peningkatan drastis pada tingkat keterisian tempat tidur pekan ini di beberapa provinsi berisiko tinggi merupakan kekhawatiran besar dan memerlukan implementasi kebijakan kesehatan publik dan sosial yang lebih ketat, termasuk PSBB," demikian rekomendasi WHO dalam Situation Report edisi Rabu, 16 Juni 2021.

WHO menilai perlu tindakan segera untuk mengatasi peningkatan penyebaran dari Variants of Consent (VoC) di sejumlah provinsi. WHO juga menyatakan kenaikan harian bukan dipicu dari penemuan kasus baru di hari yang sama.

Ini karena pengujian laboratorium membutuhkan waktu maksimal satu pekan untuk mendapatkan hasil. Sehingga pelaporannya untuk sampel yang sudah diambil di hari-hari sebelumnya, bukan hari yang sama.

 

Soroti Lonjakan Covid-19 di Indonesia, Ini Rekomendasi WHO
Ilustrasi
2 dari 6 halaman

3 Provinsi dengan Tingkat Kenaikan Ratusan Persen

Laporan WHO juga menyoroti tingkat kenaikan kasus hingga ratusan persen di sejumlah provinsi dalam periode 7-13 Juni 2021. Terdapat tiga provinsi yang menjadi fokus WHO.

Tiga provinsi tersebut yaitu Papua yang mengalami kenaikan kasus mencapai 967 persen, disusul Sulawesi Tenggara yang mencatat kenaikan hingga 205 persen. Sedangkan provinsi ketiga yaitu DKI Jakarta yang mencatatkan kenaikan kasus mencapai 123 persen.

Untuk Papua, WHO memberikan catatan khusus yaitu kenaikan kasus mingguan sangat tinggi dari 12 menjadi 128. Selain itu, internet masih menjadi kendala di Papua sehingga pelaporan tidak bisa dilakukan dengan cepat.

3 dari 6 halaman

Pakar AS Soroti Lonjakan Corona RI: Covid Tak Hilang dengan Pura-Pura Tidak Ada

Dream - Lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di Indonesia dalam beberapa hari terakhir mengundang sorotan pakar kesehatan AS, Faheem Younus.

Kepala Departemen Penyakit Menular Universitas Maryland, Amerika Serikat, ini membuat cuitan khusus mengenai kondisi Indonesia.

Faheem menyinggung data kenaikan kasus di Indonesia yang melonjak 67 persen. Selain itu, dia juga menyoroti munculnya kasus baru melebihi angka standar.

" 22 per 100 ribu kasus baru (seharusnya <5/100 ribu)," tulis Faheem di Twitternya, @FaheemYounus.

4 dari 6 halaman

"Covid Tak Akan Pergi Hanya Dengan Berpura-pura Tidak Ada"

Tak hanya itu, dia juga menyoroti tingkat vaksinasi. Menurut dia, baru 6 persen populasi Indonesia yang sudah mendapatkan vaksin.

" Karena tingkat pengujian rendah, kasus aktual+kematian lebih tinggi. Covid tidak akan pergi hanya dengan berpura-pura tidak ada," tulis dia.

Kasus baru di Indonesia pada 17 Juni 2021 melonjak sangat tinggi mencapai 12 ribu kasus dalam sehari. Padahal sejak Maret 2021, angka kasus harian selalu berada di bawah 10 ribu.

5 dari 6 halaman

Kasus Covid-19 di DIY Meroket, Sultan: Ya Lockdown

Dream - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mempertimbangkan pemberlakuan tutup total atau lockdown. Pernyataan ini menyusul terjadi penambahan kasus Covid-19 di DIY yang meroket beberapa pekan belakangan.

" Kalau realitasnya masih seperti ini mau apa lagi, ya lockdown," ujar Sultan.

Sultan menilai lockdown bisa menjadi pilihan mengendalikan pandemi setelah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tidak berjalan efektif. PPKM merupakan salah satu antisipasi penularan Covid-19 dengan melibatkan petugas tingkat RT dan RW di garis terdepan.

Tetapi, dalam pandangan Sultan, PPKM di DIY seperti tidak efektif. Ini ditandai dengan adanya kemunculan kasus baru yang cukup tinggi.

Sultan menjelaskan segala cara sudah dijalankan untuk mengendalikan Covid-19. Termasuk pengetatan mobilitas di tingkat RT atau RT.

" Kalau gagal arep ngopo meneh? (mau apa lagi?) Kita belum tentu bisa cari jalan keluar," kata dia.

 

6 dari 6 halaman

BOR Naik Tinggi

Sultan juga menyoroti kenaikan tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit (Bed Occupancy Rate/BOR) di DIY. Kenaikan yang terjadi cukup tinggi, bahkan dua kali lipat.

" Saya enggak tahu sekarang yang mestinya BOR rumah sakit itu 36 persen koma sekian, sekarang kira-kira sudah 75 persen," kata dia.

Lebih lanjut, Sultan menyatakan lockdown dipilih sebagai opsi terakhir mengingatkan penularan sudah sampai level terbawah. Selain itu, mobilitas masyarakat sangat massif di akhir pekan.

Sultan juga mengatakan sebenarnya sudah ada aturan yang menyatakan izin penyelenggaraan kegiatan harus sampai kapawonan (kecamatan) dan tidak lagi hanya kelurahan. Aturan ini dikeluarkan pada 15 Juni 2021 dengan harapan masyarakat bisa membatasi diri.

" Tapi kalau masih tembus lagi, terus arep opo meneh? Kita kan jadi sulit selama masyarakat itu tidak mengapresiasi dirinya sendiri untuk disiplin, gitu lho," kata Sultan, dikutip dari krjogja.com.

Join Dream.co.id