BPOM Temukan 170.119 Produk Makanan Tak Sesuai Standar

News | Senin, 20 Mei 2019 19:01
BPOM Temukan 170.119 Produk Makanan Tak Sesuai Standar

Reporter : Maulana Kautsar

Mengalami kenaikan dibanding tahun lalu.

Dream - Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menggelar pengawasan selama sebelum Ramadan sejak 22 April 2019 lalu. Hasilnya diketahui sebanyak 170.119 kemasan produk mengalami rusak kemasan, kedaluwarsa, dan ilegal.

Ribuan produk tersebut terungkap dari pengawasan yang berlangsung di 33 Balai BPOM dan 40 kantor Badan POM di seluruh Indonesia.

" Produk pangan Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) itu ditemukan di 796 sarana distribusi dengan total nilai keekonomian mencapai lebih dari Rp 3,4 miliar," kata Kepala BPOM, Penny K Lukito, dalam keterangan resminya, Senin, 20 Mei 2019.

Penny mengungkapkan BPOM telah melakukan pemeriksaan terhadap 1.834 sarana ritel sampai dengan 10 Mei 2019.

Dibandingkan data intensifikasi pangan 2018, terjadi peningkatan jumlah temuan dan besaran nilai keekonomian temuan. Pemeriksaan dilakukan terhadap 1.726 sarana ritel atau distributor pangan pada 2018 ditemukan produk pangan tak sesuai standar sebanyak 110.555 kemasan dari 591 sarana distribusi dengan total nilai keekonomian lebih dari Rp2,2 miliar.

”Peningkatan jumlah dan nilai keekonomian temuan tersebut merupakan hasil dari semakin meluasnya cakupan pengawasan intensifikasi pangan hingga ke Kabupaten dan Kota,” ucap dia.

Penny mengatakan, target intensifikasi pengawasan difokuskan pada pangan olahan Tanpa Izin Edar (TIE)/ilegal, kedaluwarsa, dan rusak serta pangan jajanan berbuka puasa (takjil) yang kemungkinan mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks, dan pewarna dilarang (rhodamin B dan methanyl yellow).

Berdasarkan lokasi, kata Penny, temuan pangan kedaluwarsa banyak ditemukan di Kendari, Jayapura, Mimika, Palopo, dan Bima. Di lokasi itu, panganan tak sesuai standar yaitu, produk susu kental manis, sirup, tepung, makanan ringan, dan biskuit.

2 dari 2 halaman

Sebaran Temuan Panganan Tak Layak Konsumsi

Panganan jenis susu kental manis, sereal, teh, dan ikan kemasan kaleng, serta minuman berperisa dengan kondisi tak layak makan banyak ditemukan di Palopo, Banda Aceh, Bima, Kendari, dan Gorontalo.

“ Sementara untuk temuan pangan ilegal banyak ditemukan di Kendari, Tangerang, Makassar, Baubau dan Banjarmasin, dengan jenis produk garam, makanan ringan, cokelat, Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), dan minuman berperisa,” ujar dia.

Untuk pangan jajanan berbuka puasa, dari 2.804 sampel yang diperiksa petugas BPOM di berbagai kota di Indonesia, terdapat 83 sampel atau 2,96 persen produk makanan tak sesuai standar.

Temuan bahan berbahaya yang banyak disalahgunakan pada pangan yaitu formalin (39,29 persen), boraks (32,14 persen), dan rhodamin B (28,57 persen).

”Apabila dibandingkan dengan data intensifikasi pangan pada tahun 2018, tahun ini terjadi penurunan persentase produk takjil yang TMS. Pada pelaksanaan intensifikasi tahap III tahun 2018, sampel yang tidak memenuhi syarat sebesar 5,34 persen,” kata dia.(Sah)

Terkait
Belajar Jadi Orangtua yang Lebih Baik di Fimelahood #MindfulParenting
Join Dream.co.id