Mendaftar Sejak Kelas 3 SD, Remaja Pamekasan Kini Berangkat Haji

News | Kamis, 11 Juli 2019 15:00
Mendaftar Sejak Kelas 3 SD, Remaja Pamekasan Kini Berangkat Haji

Reporter : Maulana Kautsar

Bangga bisa temani orang tua.

Dream - Wajah Mohammad Al Jufri Ahyi Singgit, 17 tahun, tampak berbeda di antara para jemaah haji lain di kloter SUB 11. Di antara para jemaah yang sudah tampak lanjut dan dewasa, Singgit tampak lebih muda.

Dia tercatat sebagai salah satu jemaah haji termuda Indonesia. Singgit sudah mendaftar haji sejak umur sembilan tahun.

" Usia sembilan tahun didaftarkan, pergi sama orang tua," kata Singgit, dikutip dari Liputan6.com, Kamis 11 Juli 2019.

Saat ini, Singgit tinggal di Hotel Mather Al Tayiba, Madinah, bersama orang tuanya.

2 dari 8 halaman

Doa Ibunda

Remaja yang menempuh pendidikan di Pesantren Gontor, Jawa Timur, itu pandai berbahasa Arab. Dia sangat bersyukur dapat berhaji bersama orang tuanya.

" Alhamdulillah bahagia (pergi haji). Untuk ibadah ini, saya izin sekolah selama dua bulan," kata dia.

Singgit ingin keberangkatannya ke Tanah Suci dapat menjadi contoh anak-anak muda Indonesia. " Jadilah orang yang selalu mencari rida Allah, membahagiakan orang tua, bisa meluruskan umat," kata dia.

Ibunda Singgit, Suhartini, sudah tiga kali naik haji. Dia menyebut, kemampuannya memberangkatkan Singgit ke Tanah Suci karena pertolongan Allah SWT.

Suhartini berharap sang putera dapat beribadah dengan baik. " Saya berdoa buat Singgit semoga jadi anak yang soleh, punya ilmu, sukses, dan diridai Allah," kata Suhartini.

3 dari 8 halaman

Ini Videonya

 

4 dari 8 halaman

Dulu Harus Utang untuk Makan, Pasangan Penjual Bakso Itu Kini Naik Haji

Dream - Bagi mereka yang memiliki latar belakang kurang mampu, melaksanakan haji bukanlah sekadar memenuhi kewajiban agama. Lebih dari itu, haji dimaknai sebagai panggilan Ilahi untuk lebih dekat pada Tuhan.

Tidaklah mengherankan jika para Muslim berjuang keras demi bisa berkunjung ke Baitullah. Selain rajin ibadah, mereka giat mencari rezeki halal demi bisa sholat dan beribadah langsung di dekat Kabah.

Seperti kisah penjual bakso asal Kota Kendari, Samsul Irawan, 45 tahun. Bersama istrinya, Jumatia, 44 tahun, Samsul pergi memenuhi panggilan Allah untuk melaksanakan haji tahun ini.

Dikutip dari Liputan6.com, kisah naik haji Samsul dengan Jumatia tidaklah sepele. Pasangan ini berjuang keras demi bisa menunaikan rukun Islam kelima itu.

Selama 26 tahun, mereka menyisihkan sebagian pendapatan. Niat untuk bisa naik haji muncul setelah menikah dan meninggalkan tempat kelahiran di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, untuk merantau ke Kota Kendari.

5 dari 8 halaman

12 Kali Pindah Kontrakan

Di perantauan, pasangan ini hidup dengan sederhana. Sejak 1993 hingga 1997, Samsul mengaku sudah 12 kali pindah rumah kontrakan.

" Karena memang cari rumah yang sesuai dengan isi kantor, apalagi sudah ada anak-anak," kata Samsul.

Selama di perantauan, Samsul dan Jumatia mencari nafkah sebagai penjual bakso. Dia berkeliling menawarkan dagangannya dengan gerobak dorong.

" Saya yang menjual, istri yang bikin baksonya," kata Samsul.

Dia menjelaskan menjual bakso saat itu adalah pilihan yang bisa diambil. Pertimbangannya, modal yang terjangkau serta mengikuti jejak keluarga.

6 dari 8 halaman

Niat Pergi Haji Menguat

Keinginan untuk pergi haji semakin menguat pada 2000. Penyebabnya, Jumatia kerap menghadiri syurukuan kerabat yang hendak berangkat haji.

Samsul mengakui tidak setiap hari usahanya mendapat banyak untung. Dia pernah mengalami dagangan tidak laku sama sekali.

Jika keadaan itu terjadi, mereka harus bersabar dan pandai-pandai berhemat. Pernah pula mereka berutang untuk mencukupi kebutuhan hidup.

" Saya pernah beberapa utang uang untuk beli makan dan bahan baku. Waktu itu, jualan tak laku," kata Jumatia.

Jumatia mengatakan pendapatan dari hasil berjualan bakso keliling kadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Meski begitu, kondisi serba terbatas yang dihadapi keluarganya tidak menyurutkan niat untuk naik haji.

7 dari 8 halaman

Rajin Menabung Meski Untung Sedikit

Wanita itu juga mengakui terkadang niatan untuk bisa ke Baitullah sempat kendor. Terutama ketika harus berutang.

" Berjualan bakso, kadang untungRp50 ribu sehari kadang Rp100 ribu," kata Jumatia.

Sebagian keuntungan tersebut mereka tabung. Tentu setelah dikurangi untuk biaya sekolah anak dan makan.

Pasangan ini memiliki empat orang anak. Beruntung, anak pertama mereka berusia 22 tahun sudah menikah.

" Tinggal biayai tiga anak yang masih sekolah," kata Jumatia.

8 dari 8 halaman

Mimpi Ditarik Adik

Sebelum mendaftar haji pada 2011, Jumatia mengaku mendapatkan mimpi. Dalam mimpinya, Jumatia sedang naik gunung.

" Dalam mimpi, saya ditarik adik saya naik ke atas gunung," kata dia.

Setelah itu, Jumatia dan Samsul mendaftar untuk pergi haji. Saat itu, pasangan ini hanya punya uang Rp30 juta.

" Mimpi saya jadi nyata, adik saya yang menarik tangan saya dalam mimpi. Dia yang tambahkan uang saya mendaftar haji," kata dia.

Sebentar lagi, Samsul dan Jumatia berangkat ke Tanah Suci. Pasangan ini mengaku senang karena berangkat bersama rombongan Wali Kota Kendari.

" Saya senang, meskipun saya penjual bakso bakar, tapi bisa naik haji bersama Wali Kota Kendari," ucap dia.

Sumber: Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua

Summer Style 2019
Join Dream.co.id