Said Aqil: Covid-19 Munculkan Perang Biologi, Pengimpor Vaksin Jadi Negara Kalah

News | Kamis, 24 Juni 2021 10:14

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj mengatakan, pandemi Covid-19 telah melahirkan perang baru yakni biologi.

Dream - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siraj, mengatakan, saat ini ada lima perang non-fisik atau perang peradaban yang harus dimenangkan sebuah negara. Ia menyebut, pandemi Covid-19 juga telah melahirkan perang baru yakni biologi.

Pernyataan mengejutkannya itu disampaikan dalam acara Haul Emas KH Wahab Chasbullah ke-50 yang disiarkan melalui kanal YouTube NU Channel, Selasa 22 Juni 2021.

" Dengan adanya Covid-19, ada perang baru ini, perang biologi. Perang vaksin," ucap Said Aqil.

Said Aqil: Covid-19 Munculkan Perang Biologi, Pengimpor Vaksin Jadi Negara Kalah
Ketum PBNU Said Aqil Siraj (Foto: Liputan6.com)
2 dari 5 halaman

Negara Kalah Perang

Dalam pernyataannya, Said Aqil mengungkapkan negara-negara yang mampu memproduksi vaksin corona akan menjadi negara pemenang dalam perang baru ini.

" Negara yang mampu memproduksi vaksin akan menjadi pemenang dalam perang ini. Negara yang tidak mampu, hanya mengimpor saja, itulah negara yang kalah," ujarnya.

Said menyinggung Indonesia masih belum mampu membuat vaksin virus corona sampai saat ini. Padahal virus tersebut sudah bermutasi lebih berbahaya dari sebelumnya.

" Padahal pandemi ini sudah berubah varian, muncul yang lebih ganas itu varian Delta. Itu butuh vaksin yang lebih canggih lagi, lebih canggih lagi. Kita belum mampu membuat vaksin yang pertama, tapi pandeminya udah meningkat ke level ke tiga," kata dia.

3 dari 5 halaman

Indonesia Bisa Didikte

Melihat fenomena itu, Said khawatir Indonesia bisa didikte oleh negara-negara produsen vaksin Corona di kemudian hari.

Meski demikian, Said mengaku masih belum tahu sejauh mana pengaruh perang vaksin global bagi Indonesia. Dia berharap dampaknya tak sampai membahayakan Indonesia.

" Perang biologi, penguasa industri, kesehatan, industri vaksin misalnya, menjadi panglima yang dapat menguasai kebijakan suatu negara. Kita akan didikte oleh negara yang memproduksi vaksin," kata dia.

4 dari 5 halaman

Ketum PBNU: Wahabi dan Salafi Pintu Masuk Terorisme

Dream - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Saiq Aqil Siraj, menyatakan bahaya laten terorisme masih mengancam Indonesia.

Ini dapat dilihat dari masih adanya kasus teror bom, yang terkini terjadi di Makassar pada Minggu, 28 Maret 2021.

Kiai Said menegaskan jika semua pihak sepakat untuk menghabiskan terorisme di Indonesia, maka harus menghadapi pintu masuknya. Menurut Kiai Said, pintu masuk yang dimaksud adalah paham Wahabi dan Salafi.

" Ajaran Wahabi itu adalah pintu masuk terorisme," ujar Kiai Said dalam webinar disiarkan TVNU.

Kiai Said menjelaskan Wahabi dan Salafi memang bukan ajaran terorisme namun menjadi pintu masuk untuk paham teror.

Ajaran ini dengan mudah menganggap amalan yang tidak sesuai dengan pahamnya sebagai musyrik, bidah, maupun kafir. 

" Itu langsung satu langkah lagi, satu step lagi sudah halal darahnya, boleh dibunuh," kata dia.

5 dari 5 halaman

Wahabi dan Salafi Ajaran Ekstrem

Selanjutnya, Kiai Said mengatakan Wahabi dan Salafi merupakan ajaran ekstrem yang bertujuan untuk memurnikan Islam.

Penganut ajaran ini menganggap semua hal yang tidak ada di zaman Rasulullah Muhammad SAW adalah bidah.

" Maunya, ngakunya dalam rangka memurnikan Islam seperti zaman Rasulullah. Semua dianggap bidah, dianggap sesat kalau tidak persis seperti di zaman Rasulullah, walaupun mereka naik mobil sih, bukan naik onta," kata dia.

Sehingga semua amalan yang tidak seperti dilakukan Rasulullah, ucap Kiai Said, dianggap bidah. Sedangkan setiap bidah sesat dan masuk neraka.

" Jadi ajaran seperti ini pintu masuk untuk menjadi terorisme," kata dia.

Langkah lain yang juga perlu dilakukan untuk melawan terorisme, kata Kiai Said, yaitu memperbaiki mata pelajaran agama Islam di institusi pendidikan umum.

Dia menyarankan, materi mengenai akidah syariah yang selama ini mendominasi pembelajaran dikurangi dan ditambah dengan materi akhlak, yang merupakan ajaran dari Allah dari disebarkan Rasulullah.

" Jadi kalau pelajaran agama yang disampaikan di fakultas bukan agama terulang-ulang soal surga neraka, kafir-dlalal, wah, radikal semua nanti itu," kata dia.

Join Dream.co.id