Satu Keluarga di Sigi Jadi Korban Pembunuhan Teroris MIT, Ini Kronologinya

News | Minggu, 29 November 2020 18:36
Satu Keluarga di Sigi Jadi Korban Pembunuhan Teroris MIT, Ini Kronologinya

Reporter : Ahmad Baiquni

Para pelaku membakar enam rumah.

Dream - Satu keluarga terdiri dari empat orang tewas di tangan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Tmur. Peristiwa keji itu terjadi di Desa Lemba Tongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah pada Jumat, 27 November 2020 sekitar pukul 09.00 WITA.

Kapolda Sulawesi Tengah, Inspektur Jenderal Abdul Rakhman Baso, mengatakan pada Jumat pagi, salah satu rumah di Desa Lemba Tongoa didatangi delapan orang tak dikenal. Mereka masuk lewat pintu belakang dan mengambil beras seberat 40 Kilogram.

" Setelah itu melakukan penganiayaan tanpa ada pernyataan apa pun, menggunakan senjata tajam tanpa perikemanusiaan mengakibatkan empat orang korban," ujar Baso dalam konferensi pers.

Baso didampingi Komandan Resor Militer 132/Tadulako, Brigadir Jenderal TNI Farid Makruf dan Wakapolda Sulteng, Brigjen Pol Hery Santoso.

 

2 dari 4 halaman

6 Rumah Dibakar

Usai melakukan penganiayaan, kata Baso, para pelaku melakukan pembakaran rumah. Sebanyak enam rumah menjadi sasaran mereka.

" Saya sendiri sudah cek langsung ke TKP kemarin dan dari enam rumah ini empat yang terbakar habis, dua hanya dapur bagian belakang, itu pun bukan rumah inti, rumah tambahan beratapkan alang-alang," kata dia.

Baso mengatakan diduga pembunuhan keji tersebut dilakukan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Dia mendasarkan hal itu keterangan saksi dan pencocokan data Daftar Pencarian Orang (DPO).

" Dari keterangan saksi yang melihat langsung saat kejadian yang kita konfirmasi dengan foto-foto, DPO MIT Poso, ada kemiripan," kata dia.

 

3 dari 4 halaman

Tidak Ada Gereja Dibakar

Meski demikian, Baso menegaskan tidak ada pembakaran rumah ibadah berupa gereja. Pernyataan ini untuk membantah kabar yang menyebut adanya gereja yang turut dibakar pelaku.

" Saya ingin meluruskan bahwa di situ tidak ada gereja yang dibakar," kata dia.

Para pelaku, kata Baso, hanya membakar rumah yang dijadikan tempat pelayanan umat. Sedangkan lokasi kejadian merupakan kawasan yang dihuni transmigran.

" Di lokasi, TKP, ada 50 rumah transmigrasi setempat dan 50 rumah itu ada sembilan yang dihuni tetap kalau yang lainnya kembali," kata dia.

 

4 dari 4 halaman

Toleransi Terjalin Bagus

Sembilan rumah tersebut, terang Baso, dihuni tidak hanya warga dari satu suku dan agama saja. Toleransi di lokasi tersebut terjalin cukup bagus.

Saat ini, situasi di lokasi sudah kondusif. Aparat keamanan disiagakan di lokasi, sementara sebagian dari mereka melakukan trauma healing kepada masyarakat setempat.

Lebih lanjut, Baso meminta masyarakat tidak terprovokasi atas peristiwa yang terjadi. Karena tujuan utama pelaku adalah memecah persatuan apalagi mendekati Pilkada.

Sumber: Merdeka.com/Lia Harahap

Join Dream.co.id