Covid-19 Terus Meningkat, Satpol PP Razia Masker di Perbatasan Depok dan Jakarta

News | Jumat, 4 September 2020 16:55

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

operasi gabungan tersebut mencakup pengawasan dan penindakan terhadap warga yang melanggar protokol kesehatan Covid-19.

Dream - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Depok dan Provinsi DKI Jakarta menggelar operasi gabungan tertib masker dengan sasaran warga yang melintas di perbatasan kedua wilayah. Operasi ini untuk menekan penularan Covid-19.

" Kami akan melakukan operasi gabungan dengan Provinsi Jabar. Lalu untuk menjaga wilayah perbatasan, kami akan berkolaborasi dengan Satpol PP DKI Jakarta," kata Kepala Satpol PP Kota Depok Lienda Ratnanurdianny di Depok, seperti dilansir pojoksatu.id, Jumat 4 September 2020.

Menurut Lienda, operasi gabungan tersebut mencakup pengawasan dan penindakan terhadap warga yang melanggar protokol kesehatan Covid-19, seperti tidak mengenakan masker saat berada di luar rumah. Guna menghindari tumpang tindih, Lienda mengatakan, pengaturan sudah dilakukan dalam penindakan pelanggar protokol kesehatan selama operasi tertib masker gabungan.

" Untuk sanksinya, bagi pelanggar yang masuk wilayah Depok akan ditangani Satpol PP Kota Depok, yang masuk wilayah Jakarta akan ditangani oleh Satpol PP DKI Jakarta," katanya.

Covid-19 Terus Meningkat, Satpol PP Razia Masker di Perbatasan Depok dan Jakarta
Ilustrasi Razia Masker (Foto: Merdeka.com/Imam Buhori)
2 dari 5 halaman

Lienda mengatakan bahwa operasi gabungan akan terus dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan warga mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah.

“ Rencananya akan terus dilakukan agar kesadaran masyarakat dalam menggunakan masker terus meningkat demi memutus penularan COVID-19,” katanya.

3 dari 5 halaman

Depok Bukan Berlakukan Jam Malam, Tapi...

Dream - Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penangan Covid-19 Kota Depok Dadang Wihana mengatakan, tidak ada pemberlakuan jam malam di Kota Depok.

Kebijakan yang dikeluarkan Pemprov Kota Depok yakni kebijakan Pembatasan Aktivitas Warga (PAW).

" Perlu diluruskan kebijakan yang diterapkan bukan jam malam, tetapi PAW. Jadi, seluruh aktivitas sosial warga dibatasi pada jam tertentu," kata Dadang Wiahana menanggapi pemberitaan sejumlah media yang menyebutkan adanya jam malam di Depok, Kamis 3 September 2020, dikutip dari Liputan6.com.

Dadang menjelaskan, kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor : 443/408-Huk/GT tentang Peningkatan Pencegahan dan Penanganan COVID-19 di Kota Depok yang diterbitkan 31 Agustus 2020, dimana aktivitas sosial masyarakat dibatasi hingga pukul 20.00 WIB.

Ia mengatakan, begitu juga dengan para pelaku usaha toko, rumah makan, kafe, minimarket, midimarket, supermarket, dan mal dengan jam operasional hingga pukul 18.00 WIB. Lalu, bagi layanan pesan antar hingga pukul 20.00 WIB.

4 dari 5 halaman

Lebih lanjut Dadang menjelaskan, pembatasan aktivitas sosial yang dimaksud seperti kumpul di kafe, perkumpulan komunitas, resepsi pernikahan atau aktivitas lainnya yang berpotensi terjadi perkumpulan banyak orang.

Menurut Dadang, warga yang pulang bekerja malam tak ada larangan karena itu tidak termasuk. Pihaknya selama tiga hari ini, mulai 31 Agustus hingga 2 September 2020, terus melakukan sosialisasi.

" PAW ini bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat, sebab masih terjadi peningkatan pasien konfirmasi positif COVID-19 yang 70 persen di antaranya merupakan imported case (kasus impor) dari luar Depok yang berdampak pada penularan klaster keluarga,” jelasnya.

5 dari 5 halaman

Kampung Siaga

Dadang menambahkan, dalam menjalankan kebijakan ini Pemkot Depok akan dibantu oleh Kampung Siaga COVID-19 (KSC). Di Kota Depok terdapat 925 KSC yang akan bekerja sama untuk menjalankan PAW dibantu kecamatan dan kelurahan.

" Setiap kebijakan pasti ada dampaknya. Namun, semua yang dilakukan untuk kebaikan bersama. Aturan ini pun nanti ada sanksinya, tetapi sanksi bukan tujuan utama karena tujuan kami adalah mencegah penyebaran COVID-19," ujarnya.

(Sumber: Liputan6.com)

Join Dream.co.id