Salep Ajaib Siswa Indonesia Menang Lomba di Thailand

News | Selasa, 12 Februari 2019 13:00
Salep Ajaib Siswa Indonesia Menang Lomba di Thailand

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an

Disebut berkhasiat untuk obati luka bakar.

Dream - Prestasi kembali ditorehkan oleh siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di level internasional. Kali ini, siswa MAN Serdai Begai (Serdai), Sumatera Utara, mampu meraih medali perak dalam kompetisi Intellectual Property Invention Innovation And Technology Exposition (IPITEX) 2019 di Bangkok,Thailand.

" Alhamdulillah, kami meraih medali perak. Meski bukan medali emas, tapi ini sudah cukup membanggakan, apalagi ini untuk pertama kali kita ikut dalam kompetisi di luar negara," ujar Kepala MAN Sergai, Fahri, dikutip dari laman resmi Kementerian Agama, Selasa 12 Februari 2019.

Fahri mengatakan, kompetisi yang digelar sejak 2 hingga 6 Februari 2019 ini diikuti oleh ratusan tim yang berasal dari 20 negara Asia. Dalam kompetisi ini, siswa MAN Segai mempresentasikan hasil penelitian salep daun alpukat yang diberi nama Sadukat.

Fahri menyebut, Sadukat memiliki fungsi untuk menyembuhkan luka bakar. Penelitian ini sudah diuji coba terlebih dulu di laboratorium Universitas Sumatera Utara.

Fahri berpesan kepada anak didiknya itu, agar senantiasa rendah hati dan terus mengejar prestasi, serta jangan mudah berpuas diri ketika sudah meraih kesuksesan.

2 dari 4 halaman

Siswa Madrasah `Perang` Robot di Depok

Dream - Mal Depok Town Square, Depok, Jawa Barat, menjadi saksi pertarungan robot-robot karya siswa madrasah. Siswa-siswa madrasah di tingkat Ibdidaiyah (setingkat SD), Tsanawiyah (setingkat SMP), dan Aliyah (setingkat SMA) menguji robot andalannya di kejuaraan robot bertema 'Robot Rescue: Robot Mitigasi Bencana'.

Robot-robot dari madrasah itu tidak bertanding untuk saling mematikan, namun beradu pintar memberi pertolongan dan mitigasi bencana. Kompetisi Robotik ini terbagi dalam dua kategori, yakni kategori Rancang Bangun Mesin Otomasi Bencana dan Kategori Rescue Robot Mobile.

Direktur Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Kementerian Agama, Ahmad Umar, mengatakan kompetisi robot ini bukan sekedar permainan, namun juga melatih kreativitas dan integritas siswa madrasah.

" Kompetisi ini digelar di mal untuk menunjukkan bahwa siswa-siswi madrasah itu gaul, melek teknologi, dan tidak ndeso,” ujar Umar, dalam keterangan tertulisnya, Minggu 4 November 2018.

Umar berharap di masa mendatang Kompetisi Robotik Madrasah dapat diselenggarakan juga di tingkat provinsi sampai tingkat kabupaten/kota. Umar mengatakan banyak orang salah mengira madrasah merupakan sekolah yang hanya mengajarkan ngaji dan menulis Arab.

“ Madrasah itu sekarang menjadi bagian dari komunitas muslim kelas menengah kota,” ujar dia.

 Perang robot siswa madrasah

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin menyebut Kemenag punya visi kuat untuk pengembangan ilmu robotik ini.

“ Kita berkomitmen membuat madrasah menjadi bagian dan berperan kongkrit dalam revolusi industri ke-4 ini” kata Amin.

Kompetisi Robotik ini akan memperebutkan lima kategori dalam tiga tingkatan. Tahun ini sebanyak 182 tim, yang disetiap timnya terdiri dari 2 siswa, berlomba menjadi yang terbaik.

Tahun lalu, kompetisi robotik ini dimenangkan MAN 3 Jakarta, MAN 1 Surakarta, MTsN 6 Sleman Yogyakarta, MTsN 1 Jembrana, Bali, dan MIN 1 Cilegon Banten.

3 dari 4 halaman

Siswi Madrasah Berhasil Temukan Penganan Pencegah Stunting

Dream - Lima siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kota Batu, Jawa Timur, membawa pulang medali emas di ajang Internasional Young Inventor Award (IYIA) ke-5 di Bali, 18-22 September 2018. Mereka adalah Selvin Ceria Mita Ramadan, Azizah Alif Habibillah, Rosiana Fitri Fadilah, Nova Arifianti Putri, Aprilia dan Nanda Indri Rosita.

Kelima remaja ini berhasil menemukan penganan untuk mencegah stunting. Temuan tersebut mereka tuangkan dalam hasil riset berjudul " Fortifikasi Umbi Ganyong dan Daun Kelor (Granyola-Bar) untuk Mencegah Stunting."

Salah satu anggota tim, Selvin, mengatakan bahwa penelitian ini berangkat dari kekhawatiran atas tingginya angka penderita stunting di Indonesia. Dia bersama keempat temannya tergerak mencari solusi dengan memanfaatkan bahan alami yang ada di lingkungan sekitar.

" Bahan yang ada di sekitar tempat kami tinggl adalah umbi ganyong dan daun kelor (Moringa oliefiera) atau yang disebut juga miracle tree," kata Selvin, dikutip dari kemenag.go.id, Senin 24 September 2018.

Bahan tersebut dikreasikan dalam bentuk camilan penuh nutrisi, terutama kalsium, fosfor, dan protein. Riset yang para siswi setingkat SMP ini dijalankan selama tiga bulan.

Mereka juga melakukan pengujian nilai gizi dan tingkat penerimaan konsumen.

4 dari 4 halaman

Bisa Dikembangkan di Masa Depan

Para juri IYIA 2018 menyatakan riset para siswi MTsN Kota Batu ini memiliki urgensi dengan program pemerintah dan dunia untuk menekan banyaknya kasus stunting. Riset ini dinilai dapat dikembangkan di masa depan sekaligus memberikan nilai tambah bagi umbi ganyong dan daun kelor.

Kepala MTsN Kota Batu, Hamidah, mengatakan bahwa IYIA 2018 merupakan ajang riset yang pertama kali diikuti sekolahnya. Dia mengatakan MTsN Kota Batu mengirimkan satu tim riset.

" Kami ikuti prosedur perlombaannya dari pengiriman abstrak, penelitian, pameran dan penjurian berlangsung mulai bulan Juli-September 2018," kata Hamidah.

IYIA merupakan ajang riset skala dunia diperuntukkan bagi para pelajat. IYIA 2018 melibatkan 1.200 peserta dan terselenggara atas kerjasama sejumlah lembaga seperti Indonesian Invention and Innovation Promotion Association(INNOPA), International Federation of Inventors Association (IFIA), dan World Invention Intellectual Property Associations (WIIPA).

Summer Style 2019
Join Dream.co.id