Ramai-Ramai Grounded Boeing 737 Max-8

News | Selasa, 12 Maret 2019 15:39
Ramai-Ramai Grounded Boeing 737 Max-8

Reporter : Eko Huda S

Sejumlah negara menyetop operasional Boeing 737 Max-8. Asosiasi pilot Argentina bahkan menolak terbang dengan pesawat baru tersebut.

Dream - Dunia penerbangan kembali berduka. Pesawat Ethiopian Airlines jatuh saat terbang dari Bandara Internasional Bole menuju Nairobi, Kenya. Sebanyak 149 penumpang dan delapan kru, meninggal dunia.

Pesawat dengan nomor penerbangan ET 302 itu lepas landas dari Addis Ababa pukul 8.33 pagi waktu setempat. Baru tiga menit mengudara, pesawat hilang kontak. Raib dari radar.

Burung besi dengan nomor registrasi ET-AVJ itu jatuh tepat pukul 8.44 pagi waktu setempat. Jet bikinan Amerika Serikat itu terhempas di Bishoftu, kota berjarak 62 kilometer di tenggara ibu negeri Ethiopia.

Dunia makin terbelalak setelah tahu jet nahas itu Boeing 737 Max-8. Setipe dengan Lion Air JT610, pesawat yang jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat, pada 29 Oktober 2018. Sebanyak 189 orang dalam penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Pangkalpinang meninggal dalam kecelakaan pagi itu.

Tragedi Ethiopian Airlines pada Minggu 10 Maret 2019 tersebut merupakan kecelakaan fatal ke dua yang melibatkan pesawat anyar bikinan Boeing itu. Isu keamanan pada pesawat canggih ini kembali mencuat.

Saat kecelakaan Lion Air JT610 Boeing sudah menjadi sorotan. Pabrikan negeri Paman Sam ini bahkan sempat mengeluarkan petunjuk tambahan untuk Boeing 737 Max-8. Panduan dalam Flight Crew Operating Manual Bulletin (FCOM) ini memperbarui petunjuk sebelumnya.

FCOM berisi informasi tindakan yang harus dilakukan saat pilot mengalami kondisi tertentu karena dugaan akibat erroneous input pada Angle of Attack (AoA) Censor. Buletin ini diterbitkan setelah kecelakaan pesawat Lion Air JT610.

Dalam penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memang menemukan adanya masalah sensor pada Angle of Attack pada JT610. Ada perbedaan 20 derajat antara AoA kanan dan kiri.

 

2 dari 3 halaman

Menolak Terbang

Dan, kecelakaan Ethiopian Airlines kembali memunculkan trauma. Sistem keamanan Boeing 737 Max-8 kembali dipertanyakan. Kecelakaan di Ethiopia itu dikait-kaitkan dengan insiden di Laut Jawa tahun lalu.

Sejumlah negara pun memutuskan untuk menghentikan sementara operasional Boeing 737 Max-8. Setidaknya ada 350 pesawat jenis itu yang diterbangkan oleh maskapai untuk menjelajahi penjuru dunia.

Otoritas Ethiopia mengumumkan grounded Boeing 737 Max-8 hingga batas waktu yang belum ditentukan. Hingga kini, penyebab kecelakaan maut itu belum diketahui secara pasti.

“ Meski kami belum mengetahui penyebab kecelakaan, kami harus memutuskan menghentikan penerbangan untuk pencegahan kemanana ekstra,” demikian pernyataan Ethiopian Airlines.

Pemerintah China juga mengumumkan penghentian sementara operasional Boeing 737 Max-8. “ Mengingat dua kecelakaan yang melibatkan Boeing 737 Max 8 yang baru dikirim dan terjadi selama fase tinggal landas, mereka memiliki beberapa kemiripan,” demikian pernyataan Administrasi Penerbangan Sipil China.

Sejumlah maskapai negeri Tirai Bambu itu mengoperasikan sekitar 90 Boeing 737 Max-8 untuk penerbangan sipil. Di antaranya Air China, China Eastern Airlines, Kunming Airlines, dan China Southern Airlines.

Penghentian sementara juga dilakukan Afrika Selatan, Brasil, Meksiko, Korea Selatan, dan Mongolia. Di Argentina bahkan para pilot menolak terbang dengan Boeing 737 Max-8.

“ Sehubungan dengan dua insiden terakhir Boeing 737 MAX, kami bertanya kepada Otoritas Penerbangan Sipil Nasional Argentina dan Argentine Airlines tentang langkah-langkah pencegahan yang menjamin keselamatan bagi kru dan penumpang,” demikian pernyataan asosiasi pilot Argentina dikutip tellereport.com dari RIA Novosti.

Sementara di Indonesia, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan juga melarang maskapai penerbangan di Tanah Air mengoperasikan pesawat Boeing 737 Max 8.

Di Indonesia, sepuluh Boeing 737 Max-8 diterbangkan oleh Lion Air. Sementara, Garuda Indonesia mengoperasikan satu pesawat. Larangan operasional ini dilakukan untuk memastikan kondisi pesawat tersebut laik terbang (airworthy).

 

3 dari 3 halaman

Ada yang Masih Setia

Namun, tak semua negara memutuskan melarang terbang Boeing 737 Max-8. Negara-negara Eropa, seperti Norwegia, Italia, dan Turki, tetap membiarkan burung besi jenis ini untuk mengangkasa. Islandia bahkan menyebut terlaku prematur mengaitkan kecelakaan di Etiopia dengan Indonesia.

Otoritas Islandia menyebut penyebab kecelakaan bisa saja berbeda, tergantung hasil menyelidikan yang sedang dilakukan, tapi “ untuk saat ini, tidak ada alasan untuk takut pada pesawat ini.”

Badan Penerbangan federal Amerika Serikat, FAA, menyatakan akan melakukan langkah segera bila terdapat masalah keamanan. Sementara, Southwest Airlines, yang mengoperasikan 34 Boeing 737 Max-8 tetap mengoperasikan jet mereka.

“ Kami masih percaya diri dengan keamanan dan kelaikan terbang penerbangan lebih dari 750 pesawat Boeing kami,” demikian pernyataan Southwest Airlines.(Sah)

Summer Style 2019
Join Dream.co.id