Presiden Dikudeta dan Ditahan, Militer Kendalikan Sudan

News | Jumat, 12 April 2019 13:02
Presiden Dikudeta dan Ditahan, Militer Kendalikan Sudan

Reporter : Ahmad Baiquni

Kudeta justru mendapat penolakan dari warga sipil Sudan.

Dream - Militer Sudan mengkudeta dan menahan Presiden Omar Al Bashir, menyusul protes berbulan-bulan terhadap kekuasaannya yang sudah berjalan hampir 30 tahun.

Dikutip dari Aljazeera, Kepala Komite Keamanan Tertinggi, Jenderal Awad Ibn Auf, memberikan pernyataan bahwa Al Bashir dibawa ke tempat yang aman setelah penggulingan rezim.

Dia juga mengumumkan pada Kamis kemarin membentuk pemerintahan transisi yang akan menjalankan kekuasaan negara selama dua tahun.

" Sepanjang waktu ini, angkatan bersenjata akan mengambil alih elemen-elemen lain dari Komite dengan kewenangan terbatas, bertanggung jawab mengelola negara dan mencegah pertumpahan darah rakyat Sudan yang tidak ternilai," kata Ibn Auf yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden sekaligus Menteri Pertahanan.

Selain itu, Ibn Auf juga menetapkan negara dalam keadaan darurat selama tiga bulan ke depan serta menangguhkan konstitusi 2005. Dia juga menutup wilayah udara dan tapal batas negara selama 24 jam hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Seluruh institusi pemerintah Sudan, termasuk Majelis Nasional dan dewan menteri nasional telah dibubarkan. " Sudan segera menggelar pemilihan umum yang bebas dan adil," kata Ibn Auf.

Militer juga memberlakukan jam malam di seluruh wilayah Sudan, dimulai pada pukul 22.00 waktu setempat.

 

2 dari 2 halaman

Ditolak Demonstran Sipil

Kudeta militer berjalan setelah protes anti-pemerintah terjadi selama enam hari berturut-turut di luar markas militer Sudan di Ibukota Khartoum. Para demonstran meminta militer memberikan dukungan untuk melengserkan Al Bashir dengan jalan damai.

Tetapi, kelompok ujung tombak demonstran, Asosiasi Profesional Sudan (SPA), menolak kudeta yang dijalankan Ibn Auf. Para demonstran juga bakal melanjutkan protes di jalanan.

Melalui Twitter, SPA menuntut kekuasaan diserahkan kepada pemerintahan transisi sipil, mencerminktan kekuatan revolusi.

Meski demikian, tampaknya kekuasaan Sudan akan berada sepenuhnya di tangan Ibn Auf.

Protes terhadap Al Bashir mulai terjadi pada Desember. Salah satu pemicunya adalah kenaikan harga roti yang melambung. Protes kemudian meluas dan menuntut Al Bashir dan kroni-kroni politiknya melepaskan kekuasaan.

Sejumlah pengkritik menuding Al Bashir salah dalam mengelola ekonomi negara, menyebabkan harga pangan melonjak, kekurangan bahan pangan dan kekurangan uang yang meluas. (ism)

Terkait
Summer Style 2019
Join Dream.co.id