Kapan Erupsi Gunung Anak Krakatau Akan Berhenti?

News | Jumat, 28 Desember 2018 13:01
Kapan Erupsi Gunung Anak Krakatau Akan Berhenti?

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an

Ada tiga tanda yang bisa mengindikasikan erupsi Gunung Anak Krakatau akan berhenti.

Dream - Gunung Anak Krakatau telah ditetapkan berstatus siaga (level III) oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sejak Kamis, 27 Desember 2018. Masyarakat diimbau agar tidak mendekati dalam radius 5 kilometer dari puncak kawah.

Status ditetapkan karena lontaran lava pijak yang sudah melewati 2 kilometer sehingga dapat membahayakan.

Hingga siang ini erupsi Gunung Anak Krakatau masih terus terjadi. Lalu, kapan selesai proses erupsinya?

Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG, Gede Suantika mengatakan, selesainya proses erupsi itu hingga kini belum ada yang bisa mengetahuinya kecuali Allah SWT.

Tapi, PVMBG memprediksi erupsi Gunung Anak Krakatau akan terjadi selama beberapa tahun. Meski demikian, Gede berharap erupsi Gunung Krakatau ini akan berlangsung cepat.

" Biasanya lama bertahun-tahun, bisa dua tahun," ujar Gede saat dihubungi Dream, Jumat 28 Desember 2018.

Ia menjelaskan, tahap berkurangnya erupsi gunung biasanya bisa dilihat dari menurunnya aktivitas pergerakan getaran yang tertangkap sensor seismograf.  Tanda lain yang terlihat dengan mata telanjang adalah asap dan abu yang sudah menghilang.

" Kalau bahasa awamnya itu, seismograf itu tidak ribet lagi," ujar dia.

2 dari 4 halaman

Penampakan Terbaru Gunung Anak Krakatau Pasca Longsor

Dream - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) merilis citra satelit Gunung Anak Krakatau. Peta citra satelit itu menunjukkan perubahan bentuk Gunung Anak Krakatau sejak 1 Agustus hingga 23 Desember 2018.

" Berdasarkan pengamatan pada citra Sentinel-A1 1 Agustus sampai 23 Desember 2018, diketahui bahwa telah terjadi perubahan morfologi yang signifikan pada daerah kawah dan sekitarnya akibat erupsi tanggal 22 Desember 2018," tulis Lapan, Kamis, 27 Desember 2018.

Sentinel-A1 merupakan satelit milik Badan Antariksa Eropa-ESA.

Perubahan bentuk Gunung Anak Krakatau

 Perubahan bentuk Gunung Anak KrakatauPerubahan bentuk Gunung Anak Krakatau © Lapan

Foto: Lapan

Berdasarkan citra satelit itu, kawah Gunung Anak Krakatau bertambah lebar. Kondisi ini disebabkan karena relatif besarnya kekuatan erupsi pada 22 Desember 2018 lalu.

" Erupsi itu lebih besar dibandingkan dengan erupsi dalam periode 31 Juli sampai 10 Desember 2018."

Seperti yang diketahui, erupsi pada 22 Desember 2018 mengakibatkan longsoran Gunung Anak Krakatau di sisi barat. Longsoran inilah yang disebut mengakibatkan tsunami di Selat Sunda.

3 dari 4 halaman

Gunung Anak Krakatau Longsor Lagi?

Dream - Erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu, 22 Desember 2018 menghasilkan longsor. Material longsor seluas 64 hektar itu mengakibatkan tsunami di Selat Sunda.

Lalu, apakah akan terjadi lagi longsoran lereng Gunung Anak Krakatau?

Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gede Suantika mengatakan, longsoran lereng bisa saja terjadi kembali. Tergantung dari seberapa besar kekuatan erupsi yang terjadi.

" Tergantung besar kecil letusannya," ujar Gede saat dihubungi Dream, Kamis, 27 Desember 2018.

Gede mengatakan, kekuatan besar erupsi Gunung Anak Krakatau dapat mengakibatkan kaldera robek dan menyebabkan tsunami kecil.

" Kalau (kekuatannya) besar dia bisa robek ke dinding tempat berdiri, Anak Krakatau itu kan di dinding kaldera. Kaldera 1883 itu robek, ya mungkin ada tsunami kecil lagi. Kalau itu (erupsi) ya," ucap dia.

4 dari 4 halaman

Gunung Anak Krakatau Bakal Dipasangi Detektor Longsor

Dream - Tsunami yang terjadi di Selat Sunda pada Sabtu malam, 22 Desember 2018 diketahui muncul karena longsoran lereng Gunung Anak Krakatau. Lereng tersebut longsor akibat erupsi.

Sekretaris Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Antonius Ratdomopurbo, mengatakan lereng yang longsor itu berada di sisi barat daya Gunung Anak Krakatau. Luasnya sekitar 64 hektar.

" Yang perlu diwaspadai, terjadi kemarin longsor lereng, itu yang perlu diwaspadai," ujar Purbo di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis 27 Desember 2018.

Purbo mengatakan gerakan longsor mengarah ke bagian yang lebih curam di sekitar gunung. Terjadinya sekaligus dan dalam waktu cepat sehingga memicu tsunami.

" Longsoran ada dua. Ada longsoran cepat seperti yang terjadi tanggal 22 itu, atau rayapan yang masuknya pelan-pelan, kan tidak menimbulkan tsunami. Tapi kita tetap waspada melihat peluang yang bisa turun cepat itu yang mana," terang dia.

Terjadinya longsoran tidak dapat diprediksi. Tetapi, dampaknya bisa diantisipasi dengan memasang alat pendeteksi.

" Kalau kita kesulitan deteksi longsor, ya kita deteksi seawal mungkin efek dari longsor," kata dia.

Lebih lanjut Purbo menjelaskan, Badan Geologi segera merekomendasikan pemasangan pendeteksi dampak longsoran lereng Gunung Anak Krakatau ke Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Juga merekomendasikan alat pendeteksi kenaikan air yang terdampak longsoran. Alat ini akan dipasang di Pulau Panjang yang jaraknya 5 kilometer dari Gunung Anak Krakatau.

" Sekarang kita memberi masukan ke BMKG untuk memasang alat yang paling dekat, misal ambil di Pulau Pandang, kan masih jauh, jarak Krakatau ke pantai 42 kilometer," ujar dia.

Babak Baru Daus Mini Vs Daus Mini ‘KW'
Join Dream.co.id