BMKG Beber Studi Potensi Megathrust yang Dapat Picu Gempa & Tsunami di Sukabumi

News | Senin, 2 Maret 2020 09:00
BMKG Beber Studi Potensi Megathrust yang Dapat Picu Gempa & Tsunami di Sukabumi

Reporter : Maulana Kautsar

Gempa berkekuatan besar pernah tercatat pada 1780.

Dream - Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono, membagikan potensi gempa dan tsunami di Sukabumi, Jawa Barat. Menurut dia wilayah pesisir Sukabumi secara tektonik berhadapan dengan zona megathrust Samudera Hindia.

" Yang merupakan zona subduksi lempeng aktif dengan aktivitas kegempaan yang tinggi," tulis Daryono, di Instagram pribadinya @daryonobmkg, Jumat 28 Februari 2020.

Daryono menyebut, berdasar catatan sejarah, wilayah selatan Jawa Barat dan Baten sudah beberapa kali terjadi gempa kuat. Misalnya, 22 Januari 1780 dengan gempa berkekuatan 8,5 magnitudo, 27 Februari 1903 dengan gempa berkekuatan 8,1 magnitudo, dan 17 Juli 2006 dengan gempa berkekuatan 7,8 magnitudo.

" Hasil kajian BMKG yang dilakukan pada tahun 2011 menunjukkan bahwa zona megathrust selatan Sukabumi memiliki magnitudo gempa tertarget yaitu M=8,7," ucap dia.

2 dari 5 halaman

Besaran Gempa Hanya Pemodelan

 Titik gempa di pesisir Sukabumi© Instagram

Titik gempa di pesisir Sukabumi

Kajian potensi bahaya, tambah Daryono, sangat penting dilakukan untuk tujuan mitigasi dan pengurangan risiko bencana, bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan agar pemerintah daerah segera menyiapkan upaya mitigasinya secara tepat, baik mitigasi struktural (teknis) maupun kultural (non teknis).

" Hasil pemodelan peta tingkat guncangan gempa (shakemap) oleh BMKG dengan skenario gempa dengan magnitudo M=8,7 di zona megathrust, menunjukkan dampak gempa di Sukabumi dapat mencapai skala intensitas VIII-IX MMI yang artinya 'dapat merusak bangunan'," kata dia.

Meski demikian, Daryono menekankan, satu hal penting yang harus dipahami masyarakat bahwa besarnya magnitudo 8,7 tersebut merupakan adalah potensi hasil kajian dan bukan prediksi.

" Meskipun kajian ilmiah mampu menentukan potensi magnitudo di zona megathrust, akan tetapi hingga saat ini teknologi belum mampu memprediksi dengan tepat dan akurat kapan gempa akan terjadi," ucap dia.

3 dari 5 halaman

Video Tanah di Turki 'Muntahkan Darah' Usai Terjadi Gempa Dahsyat

Dream - Cerita mendebarkan di balik gempa berkekuatan magnitudo 6,8 yang melanda Turki bulan lalu tidak berhenti seputar korban jiwa atau kepanikan warga. Kabar itu diikuti dengan susulan fenomena aneh dan langka yang mengejutkan publik.

Setelah gempa terjadi, tanah seperti memuntahkan darah. Cairan berwarna merah darah terus mengalir keluar dari retakan akibat gempa bumi dahsyat.

 Tanah bekas gempa di Turki 'muntahkan darah'.© Cuplikan Video Facebook

Tanah di Turki yang mengeluarkan cairan merah seperti darah itu sempat viral seperti ditunjukkan dalam video yang diposting di Facebook Extreme Weather World 24.

Gempa yang berpusat di dekat Sivrice, Turki, juga menyebabkan serangkaian gempa susulan dengan kekuatan berkisar antara magnitudo 5,4 sampai magnitudo 3,3.

4 dari 5 halaman

Menimbulkan Berbagai Macam Spekulasi

Namun, sumber pasti dari air merah yang mengalir dari tanah itu tidak diketahui. Tetapi, berbagai spekulasi muncul menyusul penemuan aneh itu.

Ada yang mengatakan bahwa kemungkinan itu adalah pewarna yang dimasukkan ke dalam air untuk mendeteksi kebocoran usai terjadi gempa.

Namun pernyataan itu ditentang karena tidak masuk akal. Sebab untuk mendeteksi kebocoran bisa menggunakan warna yang lebih terang, seperti kuning dan hijau.

Sementara netizen lain mengaitkan fenomena keluarnya cairan merah seperti darah itu dengan pertanda akhir zaman.

Sumber: World of Buzz

5 dari 5 halaman

Lihat Videonya

Setelah gempa terjadi, tanah seperti memuntahkan darah. Cairan berwarna merah darah itu terus mengalir keluar dari retakan akibat gempa bumi dahsyat.

Join Dream.co.id