Pesantren dan Pendidikan Keagamaan Mulai Beraktivitas, Ini Panduannya

News | Jumat, 19 Juni 2020 14:00
Pesantren dan Pendidikan Keagamaan Mulai Beraktivitas, Ini Panduannya

Reporter : Ahmad Baiquni

Panduan ini mengikuti ketentuan dalam SKB Mendikbud, Menag, Menkes, dan Mendagri.

Dream - Kementerian Agama menerbitkan panduan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran bagi pesantren dan pendidikan keagamaan menyusul segera dimulainya Tahun Ajaran Baru 2020-2021 di tengah pandemi Covid-19.

Panduan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari surat keputusan bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri tentnag Panduan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Coronavirus Disease.

Panduan tersebut meliputi pendidikan keagamaan tidak berasrama, pesantren dan pendidikan keagamaan berasrama.

" Untuk pendidikan keagamaan yang tidak berasrama, berlaku ketentuan yang ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, baik pada jenjang pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi," ujar Menteri Agama, Fachrul Razi, dikutip dari Kemenag.go.id, Jumat 19 Juni 2020.

Pendidikan keagamaan tidak berasrama mencakup Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) dan Lembaga Pendidikan Alquran (LPQ), SD Teologi Kristen (SDTK), SMP Teologi Kristen (SMPTK), Sekolah Menengah Teologi Kristen (SMTK), dan Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen (PTKK), Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) dan Perguruan Tinggi Katolik (PTK), Pendidikan Keagamaan Hindu, Lembaga Sekolah Minggu Buddha, Lembaga Dhammaseka, Lembaga Pabajja, serta Sekolah Tinggi Agama Khonghucu dan Sekolah Minggu Konghucu di Klenteng.

Terkait pesantren, Fachrul menjelaskan ada sejumlah satuan pendidikan, yaitu Pendidikan Diniyah Formal (PDF), Muadalah, Ma’had Aly, Pendidikan Kesetaraan pada Pesantren Salafiyah, Madrasah/Sekolah, Perguruan Tinggi, dan Kajian Kitab Kuning (nonformal).

Sedangkan pendidikan keagamaan Islam yang diselenggarakan secara berasrama dalam bentuk MDT dan LPQ. Dalam agama Kristen, ada SDTK, SMPTK, SMTK dan PTKK yang memberlakukan sistem asrama. Untuk Katolik, ada SMAK dan PTK Katolik yang berasrama. Sedang Buddha, menyelenggarakan Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) secara berasrama.

2 dari 5 halaman

Harus Patuhi Ketentuan Utama

Secara umum, setiap lembaga pendidikan keagamaan diharuskan menjalankan empat ketentuan utama dalam pembelajaran di tengah pandemi.

Ketentuan tersebut yaitu membentuk gugus tugas percepatan penanganan Covid-19, memiliki fasilitas memenuhi protokol kesehatan, aman Covid-19 dinyatakan dengan surat keterangan dari gugus tugas pemerintah setempat, serta baik pimpinan, pengelola maupun peserta didik dalam keadaan sehat dinyatakan melalui bukti tertulis dari fasilitas kesehatan setempat.

" Keempat ketentuan ini harus dijadikan panduan bersama bagi pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan yang akan menggelar pembelajaran di masa pandemi," kata Fachrul.

 

3 dari 5 halaman

Ketentuan Bagi Pesantren Sudah Belajar Tatap Muka

Fachrul mengakui saat ini sudah ada sejumlah pesantren dan pendidikan keagamaan yang telah menggelar aktivitas pembelajaran tatap muka. Sehingga dalam panduan tersebut, pihak pengelola diharuskan berkoordinasi dengan gugus tugas dan fasilitas kesehatan setempat untuk memastikan kondisi kesehatan peserta didik.

" Bila ada yang tidak sehat, agar segera mengambil langkah pengamanan sesuai petunjuk fasilitas pelayanan kesehatan atau dinas kesehatan setempat," kata dia.

Fachrul juga mengingatkan pesantren dan lembaga pendidikan wajib menjalankan protokol kesehatan.

" Pesantren dan pendidikan keagamaan yang sudah menyelenggarakan pembelajaran tatap muka juga harus menaati protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya," kata dia.

 

4 dari 5 halaman

Untuk Pesantren Akan dan Belum Selenggarakan Belajar Tatap Muka

Sementara untuk pesantren dan pendidikan keagamaan yang akan melaksanakan pembelajaran tatap muka diharuskan berkoordinasi dengan gugus tugas pemerintah daerah dan dinas kesehatan setempat. Ini untuk memastikan asrama dan lingkungannya aman dari Covid-19.

" Apabila ketentuan aman dari Covid-19 dan protokok kesehatan tidak terpenuhi, maka pesantren dan pendidikan keagamaan yang bersangkutan tidak dapat menyelenggarakan pembelajaran tatap muka," kata Fachrul.

Sedangkan untuk pesantren dan pendidikan keagamaan yang belum menggelar pembelajaran tatap muka, maka terdapat ketentuan seperti pengelola institusi mengupayakan semaksimal mungkin menggelar pembelajaran daring. Kemudian memberikan petunjuk kepada peserta didik di rumah untuk menjaga kesehatan dan menaati protokol Covid-19 serta menyiapkan peralatan dan perlengkapan untuk pembelajaran daring.

 

5 dari 5 halaman

Protokol Kesehatan di Pesantren dan Pendidikan Keagamaan

Berikut protokol kesehatan untuk pesantren dan pendidikan keagamaan.

1. Ketentuan protokol kesehatan yang berlaku pada pendidikan keagamaan yang tidak berasrama berlaku juga untuk pesantren dan pendidikan keagamaan yang berasrama.

2. Membersihkan ruangan dan lingkungan secara berkala dengan desinfektan, khususnya handel pintu, saklar lampu, komputer dan papan tik, meja, lantai dan karpet masjid/rumah ibadah, lantai kamar/asrama, ruang belajar, dan fasilitas lain yang sering terpegang oleh tangan.

3. Menyediakan sarana CTPS (cuci tangan pakai sabun) dengan air mengalir di toilet, setiap kelas, ruang pengajar, pintu gerbang, setiap kamar/asrama, ruang makan dan tempat lain yang sering di akses. Bila tidak terdapat air, dapat menggunakan pembersih tangan (hand sanitizer).

4. Memasang pesan kesehatan cara CTPS yang benar, cara mencegah penularan Covid-19, etika batuk/bersin, dan cara menggunakan masker di tempat strategis seperti di pintu masuk kelas, pintu gerbang, ruang pengelola, dapur, kantin, papan informasi masjid/rumah ibadah, sarana olahraga, tangga, dan tempat lain yang mudah di akses.

5. Membudayakan penggunaan masker, jaga jarak, CTPS, dan menerapkan etika batuk/bersin yang benar.

6. Bagi yang tidak sehat atau memiliki riwayat berkunjung ke negara atau daerah terjangkit dalam 14 (empat belas) hari terakhir untuk segera melaporkan diri kepada pengelola pesantren dan pendidikan keagamaan.

7. Mengimbau agar menggunakan kitab suci dan buku/bahan ajar pribadi, serta menggunakan peralatan ibadah pribadi yang dicuci secara rutin.

8. Menghindari penggunaan peralatan mandi dan handuk secara bergantian bagi lembaga pesantren dan pendidikan keagamaan yang berasrama.

9. Melakukan aktivitas fisik, seperti senam setiap pagi, olahraga, dan kerja bakti secara berkala dengan tetap menjaga jarak, dan menganjurkan untuk mengonsumsi makanan yang sehat, aman, dan bergizi seimbang.

10. Melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan warga satuan pendidikan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) minggu dan mengamati kondisi umum secara berkala:

11. Apabila suhu di atas 37,3 derajat Celcius, maka tidak diizinkan untuk memasuki ruang kelas dan/atau ruang asrama, dan segera menghubungi petugas kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan setempat

a. Apabila disertai dengan gejala batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan/atau sesak nafas disarankan untuk segera menghubungi petugas kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan setempat;

b. Apabila ditemukan peningkatan jumlah dengan kondisi sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b segera melaporkan ke fasilitas pelayanan kesehatan atau dinas kesehatan setempat.

12. Menyediakan ruang isolasi yang berada terpisah dengan kegiatan pembelajaran atau kegiatan lainnya.

13. Menyediakan sarana dan prasarana untuk ctps (cuci tangan dengan sabun) termasuk sabun dan pengering tangan (tisu) di berbagai lokasi strategis.

14. Menyediakan makanan gizi seimbang yang dimasak sampai matang dan disajikan oleh penjamah makanan (juru masak dan penyaji) dengan menggunakan sarung tangan dan masker.

Join Dream.co.id