Penyesalan Pasien Covid-19 Pernah Arogan Menolak Vaksin

News | Kamis, 22 Juli 2021 10:01

Reporter : Ahmad Baiquni

Mereka sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Dream - Peningkatan kasus Covid-19 dialami sejumlah negara selain Indonesia. Rumah sakit menjadi sesak akibat pasien Covid-19 terlalu banyak.

Dari pasien yang terinfeksi, beberapa di antaranya ternyata pernah menolak menerima vaksin. Kini mereka harus bertarung nyawa karena mengandalkan jantung terus berdetak melalui mesin ventilator.

Rasa menyesal diungkapkan Faisal Bashir, 54 tahun. Faisal merupakan warga negara Inggris yang sempat menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan Bradford Royal Infirmary, West Yorkshire, Inggris.

" Saya ditawari vaksin, tapi saya arogan," ujar Faisal.

Dia mengaku kerap ke gym, bersepeda, berjalan, dan berlari. Dari aktivitas rutin tersebut, Faisal yakin akan kuat dan tetap sehat sehingga merasa tidak perlu mendapat vaksin Covid-19.

" Kenyataannya, saya tidak bisa menghindar dari virus. Virus tetap menyerang saya. Saya tidak tahu bagaimana atau di mana (tertular)," kata dia.

 

Penyesalan Pasien Covid-19 Pernah Arogan Menolak Vaksin
Penyesalan Pasien Covid-19 Pernah Arogan Menolak Vaksin (Foto Ilustrasi Shutterstock)
2 dari 5 halaman

Banyak yang Menyepelekan Covid-19

Faisal sudah pulang setelah sepekan menjalani perawatan intensif. Dia pun memperingatkan orang lain untuk tidak membuat kesalahan.

" Orang-orang memenuhi rumah sakit dengan mengambil risiko dan itu salah. Saya merasa tidak enak. Saya merasa sangat buruk tentang hal itu dan saya berharap dengan berbicara itu membantu orang lain menghindari ini," kata dia.

Faisal adalah salah satu pasien Covid gelombang keempat di Bradford Royal Infirmary. Bulan lalu, jumlah pasien di rumah sakit dengan Covid turun menjadi satu digit untuk pertama kalinya sejak musim panas lalu.

 

 

3 dari 5 halaman

Kasus Didominasi Anak Muda

 Penyesalan Pasien Covid-19, Dulu Arogan Menolak Vaksin
© MEN

Sementara pekan ini menuju 50 pasien karena varian Delta menaklukkan semua sebelumnya. Ini mencerminkan peningkatan angka penularan di masyarakat Inggris.

Angka Covid-19 naik sepertiga dalam minggu lalu, menjadi hampir 400 kasus per 100 ribu. Lonjakan didominasi kaum muda dengan tingkat remaja melebihi 750 per 100 ribu, dan mereka yang berusia 20-an tidak jauh di belakang.

Meskipun beberapa dari mereka berakhir di rumah sakit, pasien sekarang rata-rata lebih muda daripada gelombang sebelumnya. Pasien yang dirawat rata-rata pada usia 30-an dan 40-an.

 

 

 

4 dari 5 halaman

Pengalaman Berharga Peneliti Penyakit

Epidemiolog sekaligus Kepala Institut Penelitian Kesehatan Bradford, John Wright, punya pengalaman senada. Sepanjang kariernya, dia sudah berinteraksi dengan banyak sekali wabah seperti kolera, HIV, maupun Ebola.

Dia sempat mengkhawatirkan vaksin Covid-19 karena kecepatan peluncurannya. Tapi ujungnya, dia harus dirawat intensif selama sembilan hari, momen pertama kalinya Wright menghabiskan malam di rumah sakit sejak tiba dari Maroko pada 1985.

" Sangat menyenangkan bisa hidup kembali," katanya.

 

5 dari 5 halaman

Awalnya Mengira Bisa Kebal

Wright bercerita istrinya sudah mendapatkan vaksin penuh namun tidak dengan dia. Alasannya, dia butuh waktu untuk bisa menerima vaksin.

" Saya berpikir bahwa dalam hidup saya, saya hidup dengan virus, bakteri, dan saya pikir sistem kekebalan saya cukup baik," kata dia.

Wright memiliki gejala Covid pada awal pandemi. Tetapi dia tetap berpikir sistem imun tubuhnya mampu mengenali virus.

" Ini adalah kesalahan terbesar dalam hidup saya. Itu hampir mengorbankan hidup saya. Saya telah membuat banyak keputusan konyol dalam hidup saya, tetapi ini adalah yang paling berbahaya dan serius," kata dia, dikutip dari BBC.

Join Dream.co.id