Kericuhan di Wamena Papua Dipicu Pendirian Posko?

News | Senin, 23 September 2019 12:55
Kericuhan di Wamena Papua Dipicu Pendirian Posko?

Reporter : Maulana Kautsar

Tidak ada kesepakatan antara mahasiswa dan pengelola kampus?

Dream - Kepolisian Daerah Papua melaporkan kerusuhan di Wamena, Papua terjadi karena pendirian posko di halaman Universitas Cendrawasih (Uncen), Abepura, Jayapura, Papua. Pihak kampus, kata polisi, tidak mengizinkan pendirian posko tersebut.

" Jadi mereka ini adalah mahasiswa luar Papua yang tanpa izin dari Uncen mau mendirikan posko mahasiswa dan itu tidak dibenarkan," kata Kapolda Papua, Irjen Pol Rudolf A Rodja, Senin, 23 September 2019.

Rudolf mengatakan, akibat tidak adanya kesepakatan antara mahasiswa dan kampus, aparat kepolisian turun tangan untuk membubarkan mereka.

Dia menuturkan, pembubaran tersebut dilakukan agar perkuliahan di Uncen tetap berjalan.

" Jadi, kita bubarkan mereka supaya tidak jadi posko dan perkuliahan di Uncen tidak macet. Nah, kami melakukan pendekatan negosiasi supaya persoalan ini tidak jadi keuntungan bagi mereka," ucap dia.

2 dari 6 halaman

Mahasiswa Diangkut Pakai 20 Truk

 Kondisi di Wamena, Jaya Wijaya

Rudolf mengatakan, pembubaran juga dilakukan karena hari ini sedang berlangsung sidang Umum PBB hari pertama. " Sehingga kami berusaha untuk bernegosiasi untuk pulangkan mereka," kata dia.

Negosiasi dengan kelompok mahasiswa bisa berjalan lancar dan tidak terjadi aksi kekerasan. 
" Rekan-rekan wartawan bisa lihat, bahwa mereka bubar atau pulang dengan aman dan tidak ada satupun kaca yang pecah di auditorium Uncen," ucap dia.

Mantan Kapolda Papua Barat itu mengatakan jumlah mahasiswa eksodus itu sekitar 600 orang. 

" Lumayan jumlahnya, ada 20 mobil (truk) yang angkut dikalikan 30 orang. Mereka kita kembalikan ke Expo Wamena, karena titik kumpul mereka di sana," ujar dia.

Situasi terkini di Kampus Uncen Abepura dan sekitarnya lengang pascapendudukan mahasiswa eksodus.

(Sah, Sumber: Merdeka.com/Dedi Rahmadi)

3 dari 6 halaman

Polri dan TNI Redam Kerusuhan di Wamena, Papua

Dream - Polri dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) berusaha meredam tindakan anarkis massa di Wamena, Papua, Senin, 23 September 2019.

" Masih dikendalikan aparat Polri dan TNI setempat untuk diredam agar tidak meluas," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, kepada Liputan6.com.

Dedi mengatakan, hingga pukul 10.22 WIB usaha peredaman massa yang bergejolak terus dilakukan.

Sejumlah fasilitas umum, salah satunya kantor dinas dan beberapa ruko terdampak pembakaran tersebut.

Dedi menceritakan awal mula bentrokan terjadi dipicu unjuk rasa. Tetapi, aksi bereka berubah anarkis dengan pengerusakan dan membakar fasilitas umum. Petugas masih berupaya mendinginkan aksi anarkis tersebut.

4 dari 6 halaman

Demo di Wamena Berakhir Anarkis, Ruko dan Perkantoran Dibakar

Dream - Massa demonstrasi di Wamena, Papua membakar sejumlah fasilitas umum dan kantor dinas. Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo membenarkan peristiwa tersebut.

Meski demikian Dedi belum merinci jumlah bangunan yang rusak akibar aksi massa tersebut. " Kantor dinas dan beberapa ruko dibakar," kata Dedi, dilaporkan Liputan6.com, Senin, 23 September 2019.

Kapolres Jaya Wijaya, AKBP Toni Ananda mengatakan, kondisi di wilayah hukumnya saat ini belum terkendali.

Sementara itu, Operasional Bandara Wamena berhenti sementara. Penghentian operasional itu karena demo anarkis yang terjadi di ibu kota Kabupaten Jawa Wijaya, Papua, tersebut.

 

5 dari 6 halaman

Bandara Ditutup

Dilaporkan Antara, Kepala Bandara Wamena, Joko Harjani menyebut, operasional bandara ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan.

" Saat ini sudah tidak ada pesawat di bandara," kata Joko kepada Antara.

Penghentian operasional bandara dilakukan sejak pukul 10.30 WIT. Tiga pesawat kargo yang berada di bandara, menjadi pesawat terakhir yang diterbangkan.

Joko mengatakan, bandara akan dibuka seandainya ada permintaan dari kepolisian dan militer.

Bandara Wamena yang terletak di Lembah Baliem melayani 120 penerbangan dari dan ke Wamena. Tingginya aktivitas penerbangan itu disebabkan karena Wamena menjadi pintu masuk beberapa kota dan kampung di kawasan pegunungan tengah.

6 dari 6 halaman

Komisioner HAM PBB: Harusnya Tak Ada Kekerasan di Papua

Dream - Komisioner Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Michelle Bachelet, mengaku sangat terganggu dengan kondisi yang terjadi di Provinsi Papua dan Papua Barat selama dua pekan terakhir.

" Terutama kematian beberapa demonstran dan personel pasukan keamanan," kata Bachelet, dalam keterangan resminya, Rabu 4 September 2019.

Bachelet mengatakan, tren ini telah kekerasan di Papua dan Papua Barat telah diobservasi sejak Desember 2018. " Seharusnya tidak ada tempat untuk aksi kekerasan di Indonesia, sebuah negara demokratis dan beragam," tambah dia.

Bachelet mendesak pemerintah berdialog dengan warga Papua dan Papua Barat. Dia juga berharap, pemerintah mendengar aspirasi warga Papua dan Papua Barat. Misalnya, mengembalikan layanan internet dan menahan diri dari tindakan yang menggunakan kekerasan.

" Membatasi akses internet dan komunikasi bertentangan dengan kebebasan ekspresi dan memperburuk ketegangan," ujar dia.

BJ Habibie Dimakamkan di Samping Ainun Habibie
Join Dream.co.id