Penyebab Jabodetabek Belum Turun Level PPKM

News | Kamis, 23 September 2021 09:01

Reporter : Ahmad Baiquni

Padahal sudah banyak daerah di Jabodetabek yang turun ke level 2 bahkan 1.

Dream - Wilayah anglomerasi Jabodetabek saat ini masih berstatus level 3 dalam penerapan PPKM Jawa-Bali. Padahal sudah banyak daerah yang sudah turun ke level 2, bahkan ada yang sudah level 1.

Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan Pemerintah telah menetapkan syarat tambahan bagi suatu daerah jika ingin turun level. Syarat tambahan tersebut yaitu cakupan vaksinasi dosis pertama untuk masyarakat umum serta lanjut usia.

" Syarat penurunan level 3 ke level 2 harus didukung dengan cakupan vaksinasi dosis pertama minimal total 50 persen dan vaksinasi dosis pertama untuk lansia minimal 40 persen," ujar Nadia, disiarkan Sekretariat Presiden.

Sementara syarat untuk turun level dari 2 ke 1, Nadia menegaskan cakupan vaksinasi dosis pertama suatu daerah sudah mencapai 70 persen. Sedangkan cakupan vaksinasi lansia sebesar 60 persen.

Khusus untuk wilayah aglomerasi, terang Nadia, status ditetapkan berdasarkan capaian vaksinasi terendah di kabupaten kota. Dia mencontohkan kawasan Jabodetabek yaitu Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi.

" Cakupan vaksinasi di Kabupaten Bogor, Tangerang, Kota Depok dan Kabupaten Bekasi belum mencapai angka 50 persen, maka keseluruhan Jabodetabek belum bisa turun ke PPKM Level 2," kata Nadia.

Penyebab Jabodetabek Belum Turun Level PPKM
© MEN
2 dari 5 halaman

Pandemi Covid-19 Terkendali, Menko Luhut Awasi Risiko dari Luar Negeri

Dream – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan mengapresiasi kerja keras semua tim dalam menangani pandemi Covid-19 yang dianggap telah bisa dikendalikan. Namun tugas untuk mengendalikan wabah ini diakui masih belum selesai.

Menurut Luhut, semua tim dan masyarakat saat ini harus mengantisipasi risiki munculnya kasus baru dari luar negeri.

“ Saya nyatakan bahwa angka ini kerja keras semua tim, membuahkan hasil yang cukup menggembirakan,” ujar Luhut pada konferensi pers evaluasi PPKM seperti dikutip dari YouTube Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Meski menampakkan hasil menggembirakan, Luhut mengungkapkan Presiden Joko Widodo telah mengingatkan seluruh kabinet dan masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati menghadapi peningkatan kasus yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

“ Presiden mengingatkan kami, untuk kita semua, tetap waspada dan hati-hati,” lanjutnya.

3 dari 5 halaman

Wilayah Jawa-Bali Bebas dari PPKM Level 4

 Ilustrasi© Liputan6.com

Lebih lanjut Luhut menyampaikan capaian kasus harian menunjukkan tren yang semakin membaik yaitu berada di bawah dua ribu kasus, dengan kasus aktif kurang dari 60 ribu. Sementara kasus harian juga turun hingga 98 persen dari titik puncak pada 15 Juli lalu.

Perkembangan positif juga terlihat dari tidak adanya Kabupaten/kota yang berada di level 4 di Jawa-Bali. Semua Kabupaten/kota di daerah yang menjadi tugas penanganannya telah berada di level 3 dan 2.

 “ Kali ini tidak ada lagi kabupaten/kota yang berada di level 4 Jawa-Bali,” jelasnya.

4 dari 5 halaman

Jangan Terlalu Euforia

Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan itu menegaskan bahwa masa kasus rendah ini hendaknya dimanfaatkan untuk melakukan konsolidasi. Luhut juga mengingatkan kepada semua elemen untuk tidak terlalu euforia dengan penurunan kasus ini.

“ Kasus rendah ini betul-betul kami manfaatkan untuk konsolidasi, maka dari itu kita jangan cepat cepat euforia terhadap ini, karena sangat mungkin terjadi hal-hal di luar dugaan kita, karena banyak ketidaktahuan kita terhadap varian baru ini,” terang Luhut.

Sementara Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyampaikan pesan Presiden Jokowi untuk selalu mengacu pada empat strategi awal penanganan pandemi.

“ Dengan kondisi yang baik ini kita harus tetap waspada, dan tetap mengacu pada empat strategi awal penanganan pandemi, memperkuat protokol kesehatan, kedua menjalankan strategi deteksi, ketiga mempercepat vaksinasi, dan yang keempat mempercepat strategi pelayanan rumah sakit,” jelas Budi.

5 dari 5 halaman

Risiko Kasus dari Luar Negeri

Menko Luhut juga mengatakan risiko peningkatan kasus Covid-19 ini masih tinggi dan bisa terjadi sewaktu waktu. Salah satunya berasal dari luar negeri yang saat ini justru menunjukkan kecenderungan peningkatan kasus Covid-19 yang masih tinggi di negara-negara tetangga.

“ Jangan sampai varian baru masuk ke Indonesia. Pemerintah membatasi perjalanan internasional dan memperketat karantina bagi warga negara asing,” ujarnya.

Pemerintah akan tetap memperketat pintu masuk dari berbagai jalur seperti udara, laut, dan darat. Selain itu, pemerintah juga akan memperketat karantina dan testing bagi pelaku perjalanan internasional.

“ Khusus pintu masuk udara hanya dibuka di Jakarta dan manado. untuk laut di batam dan tanjung pinang. Kita tidak ingin mengulangi kesalahan itu lagi,” lanjutnya.

“ Waktu karantina 8 hari, PCR tiga kali, meningkatkan karantina dan testing terutama di pintu masuk,” tambahnya.

Join Dream.co.id