Penularan Covid-19 Gelombang Kedua Dipastikan Menerjang Jepang

News | Jumat, 22 Mei 2020 19:09
Penularan Covid-19 Gelombang Kedua Dipastikan Menerjang Jepang

Reporter : Sugiono

Pertarungan melawan virus corona ini benar-benar pertempuran jangka panjang.

Dream - Gelombang kedua infeksi Covid-19 pasti akan melanda Jepang meskipun negara tersebut telah berhasil mencegah penyebaran virus corona sebelumnya, menurut Kenji Shibuya, seorang profesor di sebuah lembaga kesehatan populasi di Inggris.

Shibuya, direktur Institute for Population Health di King's College London, awalnya merasa puas setelah Jepang mampu mencegah ledakan wabah pada skala yang terlihat di banyak negara Barat.

Namun dalam wawancara baru-baru ini, Shibuya merevisi perasaan puasnya menjadi kekhawatiran bahwa Jepang dipastikan mengalami gelombang kedua infeksi virus corona.

" Akan berbahaya jika memiliki kesan seperti itu ketika gelombang infeksi berikutnya datang. Pertarungan melawan virus ini benar-benar pertempuran jangka panjang, dan meminjam metafora bisbol, ini hanya akhir dari inning pertama," kata Shibuya.

2 dari 5 halaman

Upaya Menahan Laju Penularan Corona

Shibuya memuji langkah pemerintah Jepang untuk menahan laju infeksi selama tahap awal wabah.

Upaya publik untuk tetap di rumah dan pernyataan pemerintah tentang keadaan darurat segera setelah angka infeksi mulai meningkat secara eksponensial, membantu mencegah ledakan penyebaran virus corona di Jepang.

" Kebiasaan Jepang seperti menggunakan masker wajah dan tidak banyak berjabatan tangan mungkin juga berhasil secara positif. Tetapi menjaga jarak fisik juga penting," katanya.

3 dari 5 halaman

Pentingnya Membangun Sistem Medis

Shibuya menekankan pentingnya untuk membangun sistem medis yang dapat menahan lonjakan jumlah pasien, serta untuk memperketat pemantauan tren infeksi dengan menguji lebih banyak orang terhadap virus corona.

" Meskipun Jepang mampu menahan laju infeksi melalui pembatasan kluster, sistem medis dan sistem pengujiannya tidak memadai.

" Langkah menginvestasikan sumber daya dalam pengujian pasien yang sakit parah itu sendiri sudah benar, namun masalah terbesarnya adalah mereka yang memiliki gejala ringan atau menularkannya kepada orang lain tanpa menyadarinya," jelas Shibuya.

4 dari 5 halaman

Perusahaan Juga Perlu Dilibatkan

Dia menegaskan perlunya beralih ke sistem pengujian terhadap lebih banyak orang, mengidentifikasi pasien yang terinfeksi dan mengisolasi mereka.

Shibuya juga meminta perusahaan untuk bekerja sama dengan meminta karyawan menjalani tes Covid-19 secara berkala.

" Itu mungkin bisa dilakukan dengan mengambil tes di rumah menggunakan sampel air liur," katanya.

5 dari 5 halaman

Terlambat Menerapkan Pembatasan

Shibuya mengatakan Inggris terlambat dalam membangun sistem pengujian di tengah penyebaran virus yang cepat di Italia dari Februari hingga awal Maret, yang menyebabkan 34.000 kematian.

" Inggris membuang waktu 6 minggu karena baru menerapkan lockdown pada 23 Maret 2020," pungkas Shibuya.

Sumber: Japan Times

Join Dream.co.id