Cerita Bahagia Korban Gempa Sulteng karena LOVE Dompet Dhuafa

News | Rabu, 19 Desember 2018 18:01
Cerita Bahagia Korban Gempa Sulteng karena LOVE Dompet Dhuafa

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an

Rumah ini dilengkapi dengan fasilitas umum seperti mushola dan posko kesehatan.

Dream – Musibah gempa bumi di Sulawesi Tenggara membuat ribuan orang kehilangan sanak saudara dan harta bendanya. Penyaluran bantuan dan pemulihan terus dilakukan.

Salah satunya adalah rumah sementara (Rumtara) yang dibangun oleh Dompet Dhuafa.

Dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Dompet Dhuafa membangun 200 unit Rumtara dengan luas 4x5 meter dan tinggi 4,5 meter. Lokasi hunian sementara itu berada di daerah Biromaru, Kabupaten Sigi.

 Dompet Dhuafa membangun 200 rumah sementara untuk korban gempa Sulawesi Tenggara.

Direktur Dakwah dan Layanan Tanggap Darurat Dompet Dhuafa, Ahmad Shonhaji mengatakan, kawasan Rumtara ini juga dilengkapi dengan fasilitas musholla, MCK dan posko kesehatan.

Ahmad mengatakan, pembangunan Rumtara ini masuk dalam program LOVE Sulawesi Tengah. Untuk melaksanakan program ini, Dompet Dhafa menggandeng berbagai pihak agar proses pengumpulan donasi berjalan cepat.

“ Alhamdulillah sudah tiga bulan kita bersama dalam kampanye program Love Sulawesi (LOVES). Telah banyak bantuan yang kita terima, dan kali ini bantuan tersalurkan dalam bentuk 200 unit Rumtara," kata dia.

Ahmad mengatakan program LOVE ini juga turut memberikan fasilitas kesehatan di Palu, Donggala, dan Sigi untuk senantiasa mengecek kondisi kesehatan masyarakat.

" Tim dokter dan medis siap melayani untuk waktu enam bulan pasca bencana," kata dia.

 Rumah sementara itu dilengkapi dengan fasilitas mushola sampai posko kesehatan.

Salah satu warga yang menerima rumtara, Uzwatun Hasanah, mengaku senang. Dia mengaku tak nyaman tinggal di tenda pengungsian, terlebih ketika hujan turun.

“ Alhamdulillah senang dengan adanya rumah sementara, dapat membantu kondisi kehidupan kami pasca bencana,” kata dia.

2 dari 3 halaman

Buktikan Komitmen, Dompet Dhuafa Lanjutkan Program Kemanusiaan

Dream - Masih teringat beberapa waktu lalu, Indonesia begitu dihujani bencana silih berganti. Tak hanya kota yang porak-poranda, korban jiwa pun tak terhitung banyaknya. Dari gempa bumi, tsunami, hingga likuifaksi melanda Indonesia.

Lombok dan Sulawesi Tengah yang begitu indah bentang alamnya, menjadi dua wilayah di Indonesia yang paling parah dampak bencananya. Bahkan, di Kabupaten Donggal dan Sigi, nyaris sejumlah desa luluh-lantak tak sersisa.

Melihat kondisi tersebut, sesuai prosedur, tim relawan Dompet Dhuafa langsung terjun dalam respon bencana. Seperti contohnya pada bencana di Sulawesi Tengah, belum genap 24 jam, tepatnya pada 29 September 2018, tim Dompet Dhuafa melalui tiga daerah, yaitu Gorontalo, Balikpapan dan Makassar, langsung terjun ikut mengevakuasi korban dan melakukan asesement atas kebutuhan warga terdampak bencana.

 Dompet Dhuafa

“ Sesuai prosedur kami, tim respon setiap ada bencana, dalam waktu 24 jam, sebisa mungkin langsung merapat ke lokasi kejadian. Bantuan dasar dan respon evakuasi menjadi bekal utama. Dari situlah, baru kita gulirkan program pendukungnya,” terang Bambang Suherman, selaku Direktur Resource Mobilization Dompet Dhuafa.

Sebulan setelahnya, saat pemerintah mencabut masa tanggap darurat, Dompet Dhuafa tak lantas lepas tangan. Pendirian Rumah Sementara (RUMTARA) bagi warga pengungsi digalakan, ratusan unit terbangun beserta fasilitas MCK.

Klinik kesehatan di tengah kondisi pengungsian yang penuh teror penyakit didirikan, lengkap dengan dokter dan perawat. Tempat ibadah berupa mushala dan masjid dibangun, lengkap dengan Da’i sebagai nutrisi rohani para pengungsi.

 Dompet Dhuafa

Kini masuk di bulan kedua, kondisi sosial geografis sudah mulai stabil. Namun warga masih kebingungan dengan kegiatan yang akan dilakukan. Tapi tak perlu khawatir, atas dukungan para donatur, Dompet Dhuafa masih bertahan di Palu, Sigi, dan Donggala.

Dengan semangat Humanesia, Kebaikan Kuatkan Kita, Dompet Dhuafa terus menggulirkan progam bagi warga terdampak. Mereka yang biasa bertani, diberikan alat berladang. Kemudian yang biasa berdagang, dibina dan diberikan modal.

Kurang lebih, itu alur singkat fase demi fase skema respon lembaga sosial kemanusian Dompet Dhuafa, dalam merespon bencana di Indonsia. Dompet Dhuafa memang dikenal luas berkat responnya terhadap peristiwa dan bencana di Indonesia.

Di 2018, sudah terjadi puluhan bencana alam di Indonesia baik itu gempa bumi, banjir, erupsi gunung berapi dll. Satu hal yang sama, setiap ada bencana, Dompet Dhuafa selalu terlihat hadir membantu.

 Dompet Dhuafa

“ Jika ada bencana maka Dompet Dhuafa akan terlibat dalam pengelolaan bencana tersebut, baik di fase awal maupun fase-fase selanjutnya. Terlebih seperti sekarang ini, bulan kemanusiaan telah tiba, saatnya kita perkuat dengan kebaikan bagi sesama, bersama Humanesia,” jelas Bambang.

Dalam respon bencana, Dompet Dhuafa membagi tiga fase. Pertama, fase tanggap darurat dengan terjunnya tim respon untuk mengelola penanganan cepat dan membantu para korban.

Fase awal turun dengan empat tema besar, makanan, kesehatan, proteksi (hunian) dan sanitasi penyiapan perangkat-perangkat kebutuhan mck dan lain-lainnya.

Fase kedua, yaitu fase recovery. Dompet Dhuafa punya tujuan untuk mempercepat normalisasi kehidupan, agar setiap keluarga secara pragmatis memiliki hunian yang memungkingkan untuk menyelesaikan permasalahan secara bersama.

Sekolah sementara juga menjadi konsen Dompet Dhuafa, semakin cepat anak-anak sekolah, maka semakin cepat rilis trauma yang dihadapi. Bencana merubah ritme anak-anak.

 Dompet Dhuafa

Fase ketiga adalah normalisasi atau fase rekonstruksi. Maka Dompet Dhuafa masuk melalui pemberdayaan reguler. Basis yang sudah diintervensi fase recovery, diperkuat dan diperluas dengan aktivasi bisnis-bisnis masyarakat yang sempat terhenti karena bencana.

Kemudian setelah fase-fase tersebut selesai, pada fase mitigasi Dompet Dhuafa tetap bekerja dengan membuat kampung tanggap bencana. Dalam satu kawasan dibuatkan peta dan penunjuk arah seperti jalur evakuasi aman bagi warga.

Bahkan Dompet Dhuafa mempertahankan kearifan lokal, sebagai modal dalam menjadikan kampung sadar bencana. Sebagaimana yang terjadi di desa-desa di Jawa Barat dan Jawa Tengah, mereka biasa menggunakan alat kentongan, maka kami juga meneruskan itu. Jadi tim Dompet Dhuafa tidak mengubah apa yang sudah masyarakat pahami.

3 dari 3 halaman

Relawan Dompet Dhuafa Berangkat ke Palu Demi Misi Kemanusiaan

Dream - Dalam setiap pekerjaan kemanusiaan, terdapat kisah menarik di baliknya yang begitu inspiratif untuk disimak. Setiap relawan memiliki cerita tersendiri di setiap keberangkatannya dalam misi kemanusiaan.

Banyak dari mereka rela meninggalkan rutinitasnya, berpisah sejenak dengan keluarga di rumah, keluar dari zona nyaman serta melepaskan pekerjaannya demi membantu para pengungsi. Hal inilah yang sedang dialami oleh beberapa relawan dari Dompet Dhuafa.

 Dompet Dhuafa

Dokter Muhammad Syahrimal Ishak salah satunya. Dokter relawan Dompet Dhuafa yang berani melepas kenyamanan sebagai dokter di puskesmas untuk berangkat ke medan bencana.

Kini ia resmi melayani para korban gempa dan tsunami di Palu, Donggala dan Sigi, Sulawesi tengah.

“ Saya merasa ini adalah panggilan hati untuk menjadi relawan di kawasan bencana. Mungkin ini juga karena cinta, yang menguatkan terjun sebagai relawan. Bismillah,” ucap dr. Muhammad Syahrimal Ishak.

 Dompet Dhuafa

Di sisi lain, Absharina Izzaty sempat mengalami kegundahan hati karena beratnya meminta izin ke mertua. Di sisi lain, ia harus segera menangani trauma masyarakat di pengungsian. Kuatnya keinginan untuk menangani trauma pengungsi, membuatnya penuh yakin untuk misi kemanusiaan ini.

“ Alhamdulillah akhirnya saya bisa berangkat sebagai relawan tim Psycological First Aid Dompet Dhuafa dengan beragam upaya izin, dan suami mengijinkan. Dari sanalah (Lombok), saya mendapatkan insight luar biasa bagi kehidupan. Itu yang menambah kebahagiaan saya, bisa berbagi dan bermanfaat untuk orang lain,” tutur Izzaty, berkaca-kaca.

 Dompet Dhuafa

Kemudian ada cerita dari  Narwan, salah satu tim respon Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa harus meninggalkan istri tercintanya untuk membantu proses evakuasi korban gempa dan tsunami di Sulawesi tengah.

Narwan baru saja menikahi istrinya dua hari sebelum keberangkatan. Sebagai pengantin baru, tentu saja ada rasa berat saat meninggalkan sang pujaan hati.

“ Kamis pagi saya nikah, terus Jumatnya dapat kabar Palu gempa dan tsunami. Eh, Sabtu Subuhnya, saya sudah harus terbang kesana. Dibilang rindu ya pastilah, tapi alhamdulillah istri sudah memahami pekerjaan ini,” cerita Narwan.

Langkah kebaikan tersebut yang mempersatukan tekad kuat dari dr Imal, Izzaty, Narwan dan ratusan bahkan ribuan relawan lainnya. Atas nama kemanusiaan, mereka bersatu membantu sesama.

Summer Style 2019
Join Dream.co.id