Cerita Relawan Uji Coba Vaksin Covid-19: Demam 2 Hari, Lelah, dan Mengantuk

News | Jumat, 10 April 2020 12:30
Cerita Relawan Uji Coba Vaksin Covid-19: Demam 2 Hari, Lelah, dan Mengantuk

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Bagaimana hasilnya?

Dream - Sejumlah ilmuwan kini tengah berjuang menemukan vaksin untuk virus corona. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan sudah ada sekitar 35 perusahaan dan lembaga akademik yang mengerjakan riset dan uji coba vaksin tersebut.

Di China, sudah dilakukan tes sejak 19 Maret lalu yang melibatkan 108 relawan asal Wuhan. Di antara mereka, ada relawan bernama Xiang Yafei, 30 tahun.

Xiang yang merupakan pemilik restoran di Wuhan menceritakan pengalamannya sebagai seorang mantan relawan percobaan vaksin virus corona di China. Dia mengaku telah melakukan berbagai pekerjaan sukarela sejak akhir Januari ketika Wuhan memberlakukan lockdown, seperti dilaporkan South China Morning Post.

Pada pertengahan Maret, salah satu temannya memberikan informasi tentang studi vaksin dan bertanya apakah ia berminat untuk bergabung menjadi sukarelawan.

Awalnya Xiang merasa takut karena tidak ada kepastian tentang vaksin tersebut. Dia juga bertanya tentang risiko yang akan timbul namun merasa lebih baik ketika melakukan riset kecil-kecilan.

Vaksin yang dibuat di Wuhan ini ternyata dikembangkan oleh Akademi Ilmu Kedokteran Militer dan CanSino asal Amerika Serikat.

2 dari 6 halaman

Pengalaman Menjadi Relawan

Pada 16 Maret 2020, Xiang pergi ke kantor tim penelitian dan bertemu dengan Mayor Jenderal Chen Wei. Ia merupakan ketua tim pengembangan vaksin.

" Saya diberikan injeksi vaksin pertama kali pada 19 Maret dan segera dimasukan ke karantina selama 14 hari. Sebelum injeksi, saya menjalani pemeriksaan fisik yang ketat. Kemudian saya baru mengetahui ada lebih dari 5.200 orang yang melamar menjadi sukarelawan," jelas Xiang.

Sebagai relawan, tugas Xiang yaitu membantu para ilmuwan untuk mengembangkan vaksin tersebut. Dia tidak merasakan gejala apapun saat itu. Dibenak ia berpikir vaksin ini sukses dan dapat segera dipasarkan.

Setelah menerima injeksi tersebut, Xiang mengalami demam 37,6 derajat selama dua hari. Dia merasa seperti masuk angin dengan gejala kelelahan dan kantuk. Tetapi di hari ketiga, kondisinya membaik dan merasa sehat.

3 dari 6 halaman

Dikarantina Bersama 108 Relawan Lain

Xiang bercerita, dalam fasilitas tersebut ada 108 relawan dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan dosis obat rendah, sedang dan tinggi. Dia sendiri masuk ke kelompok rendah sehingga hanya mendapat satu dosis. Relawan dengan kelompok menengah mendapat satu dosis juga dan relawan kelompok tinggi mendapat dua dosis.

" Setelah masa karantina saya berakhir pada 2 April, saya diberi CAT scan dan para peneliti mengambil sampel darah saya untuk diuji," jelas Xiang.

Pemilik restoran tersebut ragu pihak peneliti akan memberi tahu hasilnya kepadanya. Tetapi menurut anjuran, Xiang harus melakukan empat kali tes darah selama lima bulan ke depan untuk mengetahui ada tidaknya antibodi virus korona di tubuhnya.

Ketika masa karantina, dia hanya beristirahat. Sebelumnya dia pernah menjadi sopir ambulans secara sukarela di Wuhan dan bekerja setiap hari untuk membawa pasien virus korona ke rumah sakit.

" Saya benar-benar sibuk selama lebih dari sebulan, jadi masa karantina 14 hari di fasilitas penelitian memberi saya kesempatan santai dan tidur. Makannya juga bergizi dan bervariasi," candanya.

4 dari 6 halaman

Aktivitas Saat Karantina

Xiang dan relawan lain harus tinggal di kamar masing-masing dan tidak diperbolehkan saling mengunjungi. Dia juga diharuskan memeriksa suhu setiap hari dan harus melapor ketika merasakan gejala.

" Saya membaca buku dan berolahraga di kamar saja. Beberapa sukarelawan berlatih kaligrafi, beberapa bermain sepak bola dengan gulungan kertas toilet, beberapa jogging, beberapa mengarang lagu dan beberapa membuat video tentang kehidupan mereka di karantina dan mengunggahnya ke media sosial. Kami melakukan semuanya hanya di kamar kami sendiri," jelas dia.

 

5 dari 6 halaman

Pengalaman Sebagai Driver Ambulans

Menjadi sopir ambulans di tengah pandemi corona seperti sekarang merupakan hal yang menegangkan. Begitupun yang dirasakan Xiang.

Menurut dia, menjadi sopir ambulans ketika itu adalah perlombaan melawan waktu untuk mencoba membuat orang sampai ke rumah sakit secepat mungkin.

Awalnya dia merasa takut tertular dan terinfeksi. Tetapi dia diberitahu tidak ada yang mau dan berani menjadi sopir ambulans.

" Saya memiliki lisensi untuk mengendarai minivan, jadi saya memutuskan untuk melakukannya. Saya pikir kami kaum muda harus memberikan kontribusi kepada masyarakat, terutama selama masa yang sulit," kata Xiang.

Dia juga membawa sebuah labu di minivannya sebagai keberuntungan menurut mitos China.

 

6 dari 6 halaman

Bisnis Restoran di Wuhan

Xiang mengaku kehilangan setengah juta yuan, setara Rp1,1 miliar penghasilan ketika wabah corona ini datang. Dia memutuskan menutup restorannya sementara pada 21 Januari, sebelum pengumuman lockdown secara resmi.

Dia ingin para pekerjanya meninggalkan Wuhan dan kembali ke kampung halaman agar bisa bersama keluarga mereka.

" Saat ini saya sedang bersiap untuk membuka kembali restoran saya. Saya perlu melakukan banyak pembersihan dan desinfektan agar pelanggan saya merasa nyaman," jelasnya.

Situasi di Wuhan saat ini semakin membaik. Dia bangga dengan segala yang dilakukan masyarakat Wuhan dan berharap kasus corona dapat mencapai nol serta kehidupan kembali normal.

" Saya juga merasa senang dan bangga pada diri saya sendiri," kata Xiang.

Melihat Kelanjutan Nasib Konser Tunggal Ayu Ting Ting
Join Dream.co.id