Peneliti Ingatkan Corona Picu Kerusakan Otak, Ada yang Halusinasi Lihat Singa

News | Rabu, 15 Juli 2020 10:00
Peneliti Ingatkan Corona Picu Kerusakan Otak, Ada yang Halusinasi Lihat Singa

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

"Kita harus waspada dan melihat komplikasi ini pada orang dengan Covid-19,"

Dream - Para peneliti dari Inggris memperingatkan virus corona dapat menyebabkan gelombang kerusakan otak pada pasien yang terinfeksi. hasil Hemuan penelitian mengejutkan tersebut diungkap para peneliti  saat dirilis sepakan yang lalu.

Para ahli dari University College London (UCL) adalah peneliti terbaru yang menggambarkan keganasan virus Covid-19 yang bisa menyebabkan komplikasi neuorlogis seperti stroke, kerusakan saraf, dan berpotensi menyebabkan radang otak parah - bahkan walaupun pasien tak menunjukkan gejala sakit pernapasan parah yang berkaitan dengan Covid-19.

" Kita harus waspada dan melihat komplikasi ini pada orang dengan Covid-19," kata salah satu penulis senior gabungan, Dr Michael Zandi, dalam siaran pers UCL, dilansir Merdeka, Selasa 14 Juli 2020.

2 dari 5 halaman

Namun Michael mengaku bahwa masih banyak hal yang harus dikaji untuk bisa membuktikan epidemi skala besar Covid-19 bisa membuat kerusakan pada organ otak.

Mereka mengatakan, diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami potensi konsekuensi neurologis jangka panjang dari pandemi.

 Pasien Covid-19© Merdeka.com

Penelitian ini, diterbitkan dalam jurnal Brain, meneliti 43 pasien yang dirawat di Rumah Sakit UCL baik yang terkonfirmasi positif Covid-19 atau masih dicurigai (suspect), dari April sampai Mei. Pasien beragam dari segi umur mulai dari 16 sampai 85 tahun, dan menunjukkan beragam gejala dari ringan sampai parah.

Di antara para pasien, peneliti menemukan 10 kasus " disfungsi otak sementara" dan mengalami igauan; 12 kasus radang otak; delapan kasus stroke; dan delapan kasus kerusakan saraf.

Sebagian besar pasien yang menunjukkan peradangan otak didiagnosis dengan kondisi spesifik, langka dan kadang-kadang mematikan yang dikenal sebagai Acute disseminated encephalomyelitis (ADEM). Sebelum pandemi, tim peneliti di London menemukan sekitar satu pasien ADEM per bulan. Selama masa penelitian, jumlahnya naik menjadi setidaknya satu setiap pekan.

3 dari 5 halaman

Berhalusinasi Singa dan Monyet

Seorang perempuan berhalusinasi melihat singa dan monyet di rumahnya. Pasien lainnya melaporkan mati rasa di anggota badan atau wajah mereka, penglihatan ganda, dan disorientasi. Satu pasien yang parah hampir tidak sadar, merespons hanya ketika kesakitan.

Peneliti masih mencoba mencari tahu kenapa pasien mengalami komplilasi otak ini. Virus penyebab Covid-19 tak ditemukan dalam cairan otak, berarti virus tidak muncul secara langsung menyerang otak. Satu teori, sebaliknya, adalah bahwa komplikasi secara tidak langsung dipicu oleh respon imun dari tubuh pasien - bukan dari virus itu sendiri.

 Ilustrasi Pasien Covid-19© Shutterstock.com

Temuan ini penting untuk menginformasikan bagaimana dokter di seluruh dunia memantau dan merawat pasien - tetapi mereka juga mengajukan pertanyaan dan tantangan baru.

 

 

4 dari 5 halaman

Untuk pasien yang tidak menunjukkan gejala pernapasan parah seperti kesulitan bernapas, mungkin sulit untuk mengidentifikasi komplikasi otak ini cukup awal untuk mencegah atau meminimalkan kerusakan. Sedangkan untuk pasien yang sakit kritis, kesehatan mereka yang genting dapat membatasi seberapa banyak dokter dapat melakukan untuk menyelidiki apa yang terjadi di otak mereka.

Para penulis memperingatkan bahwa penelitian lebih lanjut menjadi penting dilakukan dalam mencari tahu bagaimana sebenarnya virus menyebabkan kerusakan otak, dan bagaimana cara mengobatinya.

" Mengingat bahwa penyakit ini baru ada selama beberapa bulan, kita mungkin belum tahu apa kerusakan jangka panjang yang bisa disebabkan Covid-19," jelas penulis Dr. Ross Paterson dalam siaran pers.

" Dokter perlu waspada kemungkinan efek neurologis, karena diagnosis dini dapat meningkatkan jumlah pasien."

5 dari 5 halaman

David Strain dari Fakultas Kedokteran Universitas Exeter, yang bukan bagian dari penelitian, menyebut temuan itu penting tetapi " tidak mengejutkan" mengingat kasus-kasus virus corona sebelumnya.

" Keterbatasan utama adalah bahwa kita tidak tahu apa penyebutannya sehingga kita tidak tahu seberapa sering komplikasi ini muncul," jelasnya dalam sebuah pernyataan pada Rabu.

" Kami telah melihat beberapa orang dengan Covid-19 mungkin memerlukan periode rehabilitasi yang lama - baik rehabilitasi fisik seperti olahraga, dan rehabilitasi otak. Kita perlu memahami lebih lanjut tentang dampak infeksi ini pada otak."

(Sumber: Merdeka.com)

Terkait
Join Dream.co.id