Pembelaan Margriet: Tuhan Pasti Turun Tangan

News | Kamis, 22 Oktober 2015 13:42
Pembelaan Margriet: Tuhan Pasti Turun Tangan

Reporter : Sandy Mahaputra

Lewat kuasa hukumnya, Hotma Sitompoel, Margriet menegaskan Tuhan yang akan menuntun kita agar kembali kepada kebenaran.

Dream - Terdakwa pembunuh Engeline, Margriet Christina Megawe langsung menyampaikan eksepsi (pembelaan) atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Purwanta Sudarmaji.

Eksepsi yang dibacakan kuasa hukumnya, Hotma Sitompoel dan rekan itu menampik dengan tegas tuduhan yang disampaikan jaksa.

Hotma menyebut eksepsinya diberi judul 'Tuhan pasti turun tangan'. " Karena kami percaya dalam pemeriksaan perkara ini Tuhan tidak akan tinggal diam. Tuhan pasti akan menyingkap segala tabir kegelapan. Tuhan akan mengungkapkan segala kebohongan, intrik, rekayasa yang telah terjadi terjadi selama ini," kata Hotma Sitompoel di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Kamis 22 Oktober 2015.

Menurut Hotma, Tuhan yang akan menuntun kita agar kembali kepada kebenaran, sehingga pada akhirnya kasus ini dapat menemukan titik terang terhadap semua fakta yang sebenarnya terjadi. " Kita percaya Tuhan yang adil itu pasti Tuhan turun tangan memberi keadilan bagi kita semua," tegas Hotma.

Kata Hotma, sepanjang bergulirnya perkara ini, bahkan saat penyelidikan baru saja dimulai sudah terlalu banyak pelanggaran hukum yang terjadi akibat kebohongan, intrik dan rekayasa serta terlalu banyak pihak yang ikut campur.

Hotma tak tahu apa motivasi mereka. Yang pasti, ia menduga turut serta berbagai pihak dalam kasus kematian Engeline bukan karena niat dan ketulusan membantu mengungkapkan kebenaran dalam kasus ini.

" Mungkin saja karena mereka ingin mencari popularitas, menumpang, menaikkan pamor atau mencari donatur yang tertarik membiayai organisasinya," sindir Hotma.

Terdakwa, Hotma melanjutkan, adalah orang paling merasakan duka, paling merasakan terpukul atas kematian Engeline.

" Karena selama ini terdakwa yang dengan penuh kasih sayang merawat dan membesarkan Engeline sejak umur tiga hari dan selama delapan tahun mengurus Engeline dengan penuh kasih sayang. Sebagaimana kasih sayang ibu kandung sendiri," ulas Hotma.

Terdakwa juga yang menurutnya paling mengetahui bagaimana kondisi Engeline setiap hari. Karena terdakwa yang setiap hari hidup dan tinggal, makan sepiring dengan Engeline dan tidur bersama.

" Selama delapan tahun tidak ada komplain dari siapapun juga baik gurunya, tetangganya, keluarganya, dokter rumah sakit maupun aktivis pemerhati anak, tidak ada komentarnya, apalagi polisi," bebernya.

" Dan aneh bin ajaib setelah Engeline hilang berduyun-duyun orang, berlomba-lomba orang menjadi saksi seolah-olah sangat mengetahui keadaan Engeline," tambah Hotma.

Engeline yang sangat disayangi terdakwa, sambung Hotma, telah hilang dari kehidupan terdakwa. " Karena dirampas, dibunuh dengan sangat keji oleh seorang manusia yang tidak berperikemanusiaan yang bernama Agus Tay Hamba May," tuding Hotma.

" Dan lebih aneh lagi, berlomba-lomba orang membela Agus Tay dan melimpahkan kesalahan kepada terdakwa. Aneh bin ajaib bukan. Dan yang lebih memperhatinkan lagi, justru Agus tay yang telah memfitnah terdakwa justru dilindungi," kata Hotma. (Ism) 

(Laporan: Berry Putra)

Join Dream.co.id