Modus Kafe Kahyangan Jadikan ABG Sebagai PSK

News | Senin, 27 Januari 2020 11:03
Modus Kafe Kahyangan Jadikan ABG Sebagai PSK

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an

Awalnya mengaku sebagai pemasok pekerja.

Dream - Polda Metro Jaya menggerebek Kafe Khayangan di Penjaringan, Jakarta Utara. Dari penggerebekan itu, ditemukan ada beberapa anak baru gede (ABG) berusia 14-18 tahun yang diduga dijadikan sebagai pekerja seks komersial (PSK).

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Trafficking dan Eksploitasi, Ai Maryati Solihah mengatakan, modus pemilik kafe mempekerjakan anak belia itu berawal dari tawaran kerja di media sosial.

" Awal mula mereka direkrut melalui modus job seeker di media sosial untuk pegawai restoran, toko kosmetik hingga penjaga toko busana yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan transaksi seksual," ujar Ai dalam keterangan tertulisnya, Senin, 27 Januari 2020.

Dengan iming-iming pekerjaan, para korbannya pun datang. Mereka kemudian langsung diterima kerja, tapi bukan untuk menjaga toko, pegawai restoran atau apapun yang sebelumnya mereka bayangkan ketika melihat informasi dari media sosial.

" Namun saat mereka datang, dipaksa harus mengikuti perintah 'Mami'," ucap dia.

 

2 dari 7 halaman

Delapan Orang Tersangka

Setelah itu, dunia kelam mulai menghampiri mereka. Sang Mami langsung membawa mereka untuk dijadikan PSK. Semua alat komunikasi yang dimiliki ABG itu dirampas dan tidak boleh berhubungan dengan orang lain, kecuali pelanggan dan Mami.

Kekejaman lainnya yang dilakukan Mami yakni tidak memberikan upah kepada korbannya selama dua bulan pertama. Para korban juga disekap setelah bekerja sebagai PSK. Semua kebutuhan yang diberikan selama dua bulan itu dianggap sebagai hutang.

Saat ini, penyidik Polda Metro Jaya telah menetapkan delapan orang tersangka dalam kasus ini. Dengan adanya peristiwa ini, KPAI mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati dalam mencari informasi pekerjaan di media sosial.

" Pastikan portal yang menginformasikan lowongan kerja aman dan dapat dipertanggungjawabkan, tidak mudah diiming-iming dan bujuk rayu pada pekerjaan yang belum jelas," kata Ai.

3 dari 7 halaman

4 dari 7 halaman

Perdagangan Anak Penjaringan, Korban Dipaksa Layani 10 Orang per Hari

Dream - Polisi membongkar praktik dugaan perdagangan manusia di Bar dan Karaoke Kayangan, Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara. Sebanyak enam orang dibekuk. 

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus mengatakan operasi penangkapan terjadi pada 13 Januari 2020.

Keenam pelaku yang diamankan berinisial R atau disapa Mami A, Mami T, D alias F, TW, A, dan E. Yusri mengatakan, para tersangka punya peran masing-masing dalam mencari serta menjual korban.

" Tersangka pertama mereka menyebutnya Mami A, itu berperan sebagai pemilik kafe yang dijadikan lokasi penjualan anak berusia di bawah umur," ujar Yusri, dilaporkan Merdeka.com, Rabu, 22 Januari 2020.

Pelaku memiliki peran yang berbeda-beda. Tersangka pertama alias Mami A berperan sebagai pemilik kafe penjualan anak di bawah umur. Mami A nantinya memaksa anak-anak untuk berhubungan badan dengan para tamu kafe.

5 dari 7 halaman

Peran Tersangka

Sementara itu, tersangka kedua alias Mami T memiliki peran yang sama yakni memaksa anak-anak di bawah umur untuk berhubungan badan dengan pria hidung belang.

Sementara itu, tersangka berinisial D alias F dan TW berperan mencari korban anak-anak di bawah umur melalui media sosial.

Keduanya kemudian menjual anak-anak di bawah umur itu kepada dua Mami sebelumnya.

" Tersangka lainnya itu berinisial D alias F dan TW yang berperan mencari anak-anak di bawah umur melalui media sosial. Keduanya lalu menjual anak-anak yang di dapat kepada kedua Mami tersebut. Mereka (tersangka A dan E) bekerja sebagai cleaning service di kafe tersebut," kata Yusri.

Polisi menemukan 10 korban perdagangan manusia. Rata-rata para korban berusia 14 hingga 18 tahun.

 

6 dari 7 halaman

Denda

Semua korban dipaksa melayani minimal 10 pria hidung belang tiap harinya.

" Dalam menjalankan aksinya ini pelaku sangat sadis, setiap korban satu hari minimal harus melayani 10 kali, bila tidak mencapai akan mendapat denda," ucap Kabag Bin Opsnal Dit Reskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Pujiyarto.

Para tersangka menjual anak-anak di bawah umur dengan bayaran Rp150 ribu ke para pria hidung belang. Para Mami mendapat Rp90 ribu, dan para korban hanya mendapat Rp60 ribu.

" Apabila enggak mencapai 10 kali (melayani para lelaki hidung belang), nanti didenda Rp50.000 per hari," ucap dia.

 

7 dari 7 halaman

Dipaksa Minum Pil Antimenstruasi

Usai diperas untuk memuaskan hasrat, para korban dibawa ke penampungan yang lebih mirip penjara.

Para korban tidak diizinkan punya ponsel atau telepon genggam. Agar bisa bebas para korban harus membayar Rp1,5 juta kepada para Mami tersebut.

Aksi sadis para mami tidak berhenti di situ. Para korban juga dipaksa meminum pil agar tak menstruasi. Polisi menduga pil tersebut didapat secara ilegal.

Dari aksi kejahatan perdagangan manusia ini, polisi menduga, tersangka mendapat sebesar Rp2 miliar per bulan.

Sumber: 

Join Dream.co.id