Kisah Pilu Fotografer Wanita Tinggalkan Afghanistan hanya Berbekal Sebuah Kamera

News | Kamis, 2 September 2021 07:00

Reporter : Arini Saadah

Banyak perempuan Afghanistan merasa ketakutan dengan penguasaan kembali kelompok Taliban di negara tersebut.

Dream – Fotografer wanita Afghanistan, Roya Heydari, membagikan kisah memilukan saat terpaksa meninggalkan negerinya. Dia mengaku meninggalkan Afghanistan karena ingin menyuarakan hak-haknya.

Melalui sebuah postingan di Twitter, Heydari mengatakan harus memulai kariernya dari nol usai meninggalkan tanah airnya. Dia bahkan hanya membawa satu kamera saja saat meninggalkan Afghanistan.

“ Hanya kamera saya dan jiwa yang mati bersama saya pergi melintasi lautan. Dengan berat hati, selamat tinggal ibu pertiwi. Sampai kita bertemu lagi,” tulisnya lewat akun twitter @heydari_roya.

 Ilustrasi© Twitter/@heydari_roya

Kisah Pilu Fotografer Wanita Tinggalkan Afghanistan hanya Berbekal Sebuah Kamera
Ilustrasi Fotografer Wanita Afghanistan Yang Terpaksa Meninggalkan Negaranya (Foto: Instagram/@roya_heydari)
2 dari 4 halaman

Takut Gerak Perempuan Dibatasi

Unggahan fotografer wanita itu viral di media sosial. Kesimpulannya, kelompok wanita Afghanistan akan menghadapi banyak ancaman usai pengambilalihan pemerintahan oleh Taliban. Atas postingannya tersebut Heydari telah menerima ribuan pesan dukungan dari seluruh dunia.

 Ilustrasi© Instagram/@roya_heydari

Dikutip dari firstpost.com, banyak perempuan Afghanistan merasa ketakutan usai kembalinya kelompok Taliban ke kekuasaan politik. Hal itu menunjukkan negara akan secara mutlak diberlakukan hukum islam garis keras.

Ketika kelompok itu menguasai Afghanistan dari tahun 1996-2001 lampau, mereka telah memberlakukan beberapa pembatasan keras terhadap perempuan. Perempuan dilarang bekerja, mengenyam pendidikan, bahkan keluar rumah tanpa wali laki-laki.

3 dari 4 halaman

Ketidaksesuaian Ucapan dan Tindakan Taliban

Meskipun kelompok pemberontak telah menjanjikan 'amnesti', mengundang perempuan untuk bergabung dengan pemerintah, dan menjanjikan kebebasan media kepada wartawan, akan tetapi tindakan anggota Taliban menunjukkan perilaku yang berbeda.

 Ilustrasi© Instagram/@roya_heydari

Baru-baru ini orang-orang media telah menjadi sasaran. Ziar Khan Yaad, seorang jurnalis dari TOLO TV, penyiar swasta terbesar di negara itu, dipukuli oleh anggota Taliban.

Bahkan pejuang Taliban telah membunuh dan melukai dua anggota keluarga dari salah satu wartawan Afghanistan penyiar Jerman Deutsche Welle, yang saat ini berbasis di Jerman.

Kelompok Taliban baru-baru ini juga menyatakan pekerja pemerintah perempuan harus tinggal di rumah sampai kondisi keamanan membaik.

4 dari 4 halaman

Takut Tidak Bisa Bekerja

Ketidaksesuaian antara kata-kata dan tindakan kelompok Taliban itulah yang menyebabkan Heydari terpaksa melarikan diri dari Kabul dan kini ia berada di Prancis

 Ilustrasi© Instagram/@roya_heydari

Ia juga mengatakan ketakutan terbesarnya bukanlah kematian, tetapi " dikurung" dan tidak bisa " keluar dan melanjutkan pekerjaan" .

Dia menambahkan bahwa dia akan kembali jika kelompok itu dapat meyakinkannya bahwa kelompok perempuan dapat terus bekerja.

Join Dream.co.id