Potret Prihatin Kondisi Makam RA Kartini Usai Ibu Tien Meninggal

News | Jumat, 23 April 2021 08:12
Potret Prihatin Kondisi Makam RA Kartini Usai Ibu Tien Meninggal

Reporter : Razdkanya Ramadhanty

Makamnya kini masih kokoh terawat. Namun sayang, kini sepi pengunjung sejak ibu Tien Soeharto meninggal.

Dream - Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai pahlawan nasional Indonesia. Dia pejuang dan pelopor kebangkitan perempuan Indonesia.

Kartini dimakamkan di Desa Mantingan, Bulu, Rembang, Jawa Tengah. Makamnya kini masih kokoh terawat. Namun sayang, pusara tokoh emansipasi perempuan di Indonesia itu semakin sepi pengunjung, terutama sejak ibu Tien Soeharto meninggal.

Melansir dari kanal YouTube NET Biro Jawa Tengah, akun tersebut mengunggah video perjalanan ziarah ke Makam RA Kartini.

 

 

2 dari 6 halaman

Potret Gerbang Masuk

Dalam unggahan videonya tersebut, di depan pintu masuk terlihat patung besar seorang wanita tengah membawa buku menggambarkan sosok Kartini.

 Gerbang masuk makam RA Kartini
© Merdeka.com

Selain itu ada patung gupala di samping kanan dan kiri pintu masuk kawasan. Patung yang menyerupai raksasa berwajah seram dan membawa senjata gada itu bermakna sebagai sosok penjaga.

Bagian atas gapura pun tertulis, " Makam Pahlawan Nasional RAAA Kartini Djojoadhiningrat" . Lantaran pusara RA Kartini bersanding dengan sang suami, mantan Bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat.

3 dari 6 halaman

Kompleks Makam Keluarga

Memasuki area dalam, langsung disuguhkan aula dengan ornamen khas Jawa yang begitu kental. Joglo yang besar dan begitu rapi itu hasil dari usul ibu Tien.

Pada 1 April 1979, Ibu Tien meminta makam RA Kartini dipugar supaya memberi kenyamanan para peziarah. Selain itu ada karpet dan kursi yang bisa digunakan oleh para pengunjung.

 Deretan makam keluarga
© Merdeka.com

Sebelum memasuki ruang utama makam RA Kartini, peziarah akan melalui beberapa deretan makam dari keluarga Djojoadhiningrat. Pusara sang pahlawan bersanding pula dengan putra semata wayangnya, Raden Mas Soesalit.

Menurut data sejarah, makam RA Kartini dibangun pada era Presiden Soekarno, tepatnya pada 2 Mei 1964. Kemudian mengalami perombakan di era Soeharto.

4 dari 6 halaman

Sepi Peziarah

Selama Tien Soeharto masih mengemban tugas sebagai ibu negara, ia bagaikan magnet bagi masyarakat untuk mengunjungi makam RA Kartini. Lantaran dia kerap kali mengenang jasa pelopor kebangkitan perempuan Pribumi-Nusantara itu.

Tak tanggung-tanggung, peziarah yang berkumpul dari kota-kota besar di Indonesia. Bukan hanya dari kalangan warga Jawa Tengah saja. Beda dengan kondisi saat ini.

 Makam RA Kartini
© Merdeka.com

" Yang saya ingat itu setelah ibu Tien Soeharto meninggal itu terus ini sepi. Waktu ibu Tien masih sugeng (sehat) itu pengunjung banyak sekali, mau dari Jakarta, dari Surabaya itu banyak," kata Mohamad Sahid sang penunggu makam, seperti dikutip dari kanal YouTube NET JATENG Official.

 

5 dari 6 halaman

Gerakan Ibu Tien

Saat itu, ibu Tien Soehato menggalakkan gerakan di setiap kabupaten di Tanah Air melalui organisasi kemasyarakatan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Dhara Wanita.

Ibu Tien mengajak mereka untuk mengingat perjuangan RA Kartini yang akhirnya di masa kini para wanita bisa mengenyam pendidikan. Melalui gebrakan ibu Tien itulah, banyak orang yang ikut tergerak.

" Jadi dulu itu, zaman pak Harto presidennya, ibu Tien itu menggerakkan PKK sama Dhara Wanita di tiap-tiap Kabupaten, memperingati Kartini. Jadi pengunjung banyak," pungkas sang penjaga makam.

 

6 dari 6 halaman

Masih Ada yang Setia Datang

Sebagai bentuk penghormatan terakhir pada RA Kartini, penunggu makam setempat tak pernah luput untuk menaburkan bunga. Selain itu, ada juga peziarah dari sekitar Jawa Tengah yang membawakan karangan bunga.

Ditambah lagi, kegiatan rutin dari Gabungan Organisasi Wanita (GOW). Dikutip dari laman resmi Jatengprov, organisasi tersebut sering kali bertandang untuk mengirim doa dan mengenang jasa pahlawan emansipasi wanita itu.

 Para peziarah
© Merdeka.com

" Biar semuanya para Ibu-ibu khususnya mengetahui atas perjuangan Ibu kita Kartini, kita bisa seperti ini atas perjuangan beliau. Terus kapan lagi kita bisa memberikan penghormatan. Ya kita bisanya untuk doa, lha semisal kita mengirim sate ya tidak sampai, yang bisa sampai kalau orang sudah meninggal ya doa, jadi anak yang soleh mendokan orang tua," ujar Hasiroh Hafidz.

Sumber: merdeka.com

 

Join Dream.co.id