Milad 107 Tahun, Muhammadiyah Perkuat Kualitas SDM Lewat Pendidikan

News | Kamis, 14 November 2019 17:00
Milad 107 Tahun, Muhammadiyah Perkuat Kualitas SDM Lewat Pendidikan

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an

Proses aktualisasi diri dan mendorong peserta didik punya keadaban.

Dream - Ormas Islam Muhammadiyah kini telah berusia 107 tahun. Dalam usianya yang lebih dari satu abad, Muhammadiyah terus memperkuat kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia melalui jalur pendidikan

" Pendidikan tersebut dalam prosesnya tidak hanya menekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi sekaligus sebagai proses aktualisasi diri yang mendorong peserta didik untuk memiliki ilmu pengetahuan tinggi dan berkeadaban mulia," ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam keterangan tertulisnya, Kamis 14 November 2019.

Dalam perayaan Milad di Seram Bagian Timur, Maluku, Haedar berpesan kepada seluruh anggota Muhammadiyah untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Seram Bagian Timur (PDM SBT), Fachri Husni Alkatiri, mengatakan pihaknya saat ini tengah merencanakan pembangunan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pariwisata dan Migas.

 

2 dari 6 halaman

Pengelolaan Kekayaan Alam

Melalui institusi pendidikan tersebut, Fachri berharap kualitas generasi penerus bangsa semakin unggul. Utamanya dalam memanfaatkan sumber daya alam (SDA) di wilayah Seram Bagian Timur.

" Kita ingin SDA Kabupaten SBT dikelola oleh putra daerah. Baik potensi wisatanya maupun kakayaan yang terkandung di perut bumi SBT yang kita ketahui bersama yaitu migas," kata Fachri.

Fachri yang juga menjabat sebagai Wakil Bupati Seram Bagian Timur itu berharap, wilayahnya yang kaya akan minyak dan gas dapat putra daerah untuk kesejahteraan bersama.

" Oleh sebab itu, kita akan bekali putra dan putri Kabupaten SBT melalui SMK Migas," ujar dia.

3 dari 6 halaman

Muhammadiyah: Kurangi Pembicaraan Radikalisme

Dream - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas, meminta semua pihak mengurangi pembicaraan mengenai radikalisme. Dia menekankan hal itu khususnya kepada Pemerintah.

" Kepada pihak pemerintah dan media agar mengurangi dosis pembicaraan tentang radikalisme, karena apa yang ada selama ini terasa sudah melebihi dosis dan proporsinya," ujar Anwar dalam keterangan tertulisnya, Kamis 7 November 2019.

Anwar mengatakan bukan tidak penting membahas isu radikalisme. Tapi, ada hal lain yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah.

" Persoalan yang dihadapi bangsa ini tidak hanya masalah radikalisme, masih banyak persoalan lain yang harus kita perhatikan dan pikirkan," kata dia.

Dia pun merinci sejumlah masalah yang hingga saat ini masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah yaitu di bidang ekonomi, pendidikan, politik. Di antara bidang-bidang itu, Anwar lebih menyoroti sistem pendidikan Indonesia.

4 dari 6 halaman

Soroti Sistem Pendidikan

Menurut Anwar, sistem pendidikan Indonesia belum mampu mencetak generasi bangsa yang dikehendaki Presiden Joko Widodo, yang memiliki karakter Pancasilais.

" Ternyata realitanya masih sangat jauh panggang dari api," ucap dia.

Bahkan pendidikan Indonesia telah menciptakan generasi sekuler jauh dari Tuhan.

" Karena pendidikan yang kita berikan kepada mereka lewat mata ajar yang ada, terputus dan tidak terikat dengan Tuhan," kata dia.

Anwar berpandangan dunia pendidikan Indonesia hendaknya dibenahi. Ini agar mampu mencetak generasi bangsa yang terdidik dan patuh kepada Tuhan Yang Maha Esa.

5 dari 6 halaman

Sekjen MUI Pertanyakan Usulan Ubah Istilah Radikalisme Jadi Manipulator Agama

Dream - Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas turut mempertanyakan wacana Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengusulkan penggantian istilah radikalisme menjadi manipulator agama.

" Saya sampai sekarang belum paham apa yang dimaksud dengan radikalisme," ujar Anwar di Kantor MUI, Jakarta, Jumat, 1 November 2019.

Anwar juga saat ini masih belum mengetahui perbedaan orang yang memperjuangkan agamanya itu masuk dalam istilah radikalisme atau tidak.

" Oleh karena itu bagi saya, saya ingin banyak mendengar dulu apa yang dimaksud dengan oleh teman-teman ini dengan radikalisme?" ucap dia.

Selain itu, Anwar juga merasa heran dengan istilah radikalisme hanya berada pada pelakunya yang beragama Islam.

6 dari 6 halaman

Direnungkan Dulu

" Sepanjang pengetahuan saya nih, teman-teman di Papua ingin melakukan separatisme, tidak ada kata radikal, itu orang-orang yang melakukan gerakan kemarin itu disebut separatisme," kata dia.

Menurutnya, istilah radikalisme yang selama ini disematkan kepada pelaku yang beragama Islam terlalu tendensius. Sehingga mayoritas umat Muslim yang melakukan kesalahan dianggap radikal.

Anwar pun belum dapat menyepakati perubahan istilah radikal menjadi manipulator agama.
" Ya kita renungkan dululah, apakah diksi itu tepat atau tidak," kata dia.

 

Pengalaman Hidup Berharga Chiki Fawzi di Desa Ronting
Join Dream.co.id