Menghidupi Pesantren dari Jalanan

News | Minggu, 4 Februari 2018 21:50
Menghidupi Pesantren dari Jalanan

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an

Mereka hidup di jalanan. Tampang mereka sangar. Tapi hati mulia.

Dream - Suara lelaki itu paling keras. Menggelegar. Membekap celoteh empat pria yang meriung di depan, bersaing dengan deru mesin di jalanan. Berlogat Betawi kental, dia terus berbual.

Tubuhnya gede. Tinggi pula. Kulit legam, terbakar matahari. Rambut gondrong dibiarkan tergerai, dibalut buff biru. Jenggot dan kumis pun dibiarkan tebal. Benar-benar sangar. Khas orang jalanan.

Tapi jangan salah duga. Don’t judge a book by its cover. Demikian kata pepatah asing. Dia tak seangker penampilannya. Pria paruh baya ini murah senyum. Ramah. Mudah bergaul. Saban nimbrung, dia selalu melempar joke pengundang gelak tawa.

Dialah Endang Irawan. Sopir ojek online yang beberapa waktu lalu jadi perbincangan. Bukan karena penampilan garang itu, melainkan kisah inspiratifnya. Dia turut menghidupi 126 santri penghafal Alquran.

Pada Senin 22 Januari 2018, Dream menemui Endang di “ kantor dinasnya”. Sebuah teras mungil. Di depan rumah bertembok putih di Jalan Kota Bambu Selatan, Jakarta Barat. Di sanalah dia saban hari menunggu order pelanggan.

Duduk bersila di atas porselen merah bata. Di atas suluran kabel pengantar listrik ke gawa-gawai. Tangan kiri tak pernah melepas ponsel. Mata terus dipaku ke layar lima inchi yang sudah retak itu. “ Saya jadi driver Gojek sejak 2015,” kata Endang.

Tak hanya ponsel jadul. Motor Endang pun sudah butut. Supra Fit berusia satu setengah dasawarsa. Kendaraan itu dia peroleh empat tahun silam. Dibeli dengan uang hasil penjualan sebuah batu bacan. Kala itu batu akik memang tengah booming.

Oto tua itulah yang saban hari dia tunggangi. Menyusuri jalanan ibu negeri. Mengantar penumpang, menjemput rezeki. Tak hanya keluarga, hasil keringat juga dibagi kepada santri penghafal Quran di Kampung Cipayung, Kabupaten Bogor. “ Saya sudah dua belas tahun ikut mengurui pesantren itu.” Lihat VIDEO: Mereka Sangar, Tapi Mulia

 Ojek

***
Berbicara dengan Endang bagai menyelami lautan ilmu. Tak jarang dia menyelipkan ayat dan hadis saat berbincang serius. Pikirannya tentang pendidikan jauh ke depan. Lebih panjang dari jalan yang saban hari dia lalui.

Endang bukanlah kiai. Tidak pula ustaz. Dia tidak punya latar belakang pendidikan pesantren. Pengetahuan agama dia peroleh dari majelis-majelis taklim yang diasuh para ulama dan habib. “ Kalau bahasa orang Betawi jider, ngaji bari ngider,” tutur dia.

Tapi dia berperan besar dalam membesarkan Pondok Pesantren Nurul Iman di Cipayung itu. Dia sudah 12 tahun ikut andil. Mulai terlibat mengurus pesantren setelah adiknya menikah dengan anak Haji Abah Enjeng yang mendirikan pesantren itu.

Sejak 2006 itulah dia ikut mengurus pesantren. Kala itu, santrinya tak lebih dari hutungan jari. Baru lima orang. Mereka belajar di rumah Haji Abah. Belum ada gedung. Para santri ditampung di rumah.

Kini, pesantren Nurul Iman itu telah punya gedung sendiri. Berdiri di atas lahan sekitar seribu meter persegi. Sebagian sudah tingkat. Dari 126 santri itu, ada yang menetap. Sebagian melaju. Pulang pergi dari rumah. Mereka tak dipungut biaya alias gratis. Sebab, sebagian santri dari kalangan tidak mampu.

Soal biaya, Endang dan keluarga yang berusaha. Dengan segenap kemampuan. Ada yang berusaha di pasar. Ada pula berusaha di kampung itu. “ Kalau saya, di sini –narik ojek,” ucap Endang.

Endang belum lama menjadi tukang ojek. Semula dia adalah teknisi kelistrikan. Namun, dia merasa tak nyaman. Sebab harus jauh dari keluarga dan para santri. Sehingga sejak dua tahun lalu dia berhenti dan alih profesi sebagai tukang ojek online.

Penghasilan sebagai driver ojek online mamang tidaklah besar. Tapi dia yakin, Tuhan telah mengatur segala keperluan umatnya. Termasuk soal rezeki. “ Begitu kita mau kasih keluarga ada, kasih pesantren ada. Itulah kekuasaan Allah,” kata dia.

Dengan segala kemampuan dan keterbatasan itu, Endang dan keluarga terus menghidupi pesantren. Dan, usaha itu berhasil. Sejak Endang bergabung, pesanren itu telah memiliki 12 alumni penghafal Alquran. Delapan jadi pengajar di Nurul Iman. “ Sisanya, mengajar di pesantren lain,” tutur dia. Baca kisah Endang di sini: Pesantren Gratis Si Tukang Ojek Online
***
Menghidupi pendidikan anak-anak tak hanya dilakukan Endang. Di Bima, Nusa Tenggara Barat, ada Muhammad Saleh Yusuf. Dia juga hidup di jalanan. Sebagai sopir bus malam rute Bima-Jakarta.

Penampilannya tak kalah sangar. Rambut gondrong. Kulit juga gelap. Tubuhnya tinggi besar. Kekar. Namun di balik semua itu, ada jiwa mulia. Dia mendirikan madrasah untuk mendidik anak-anak dari keluarga tak mampu di Dusun Tololai, Desa Mawu.

Niat itu berawal dari keprihatinan pria yang dipanggil Alan itu melihat kesenjangan pendidikan antara anak-anak di Bima dengan kota-kota besar. Sungguh timpang. Sehingga dia mendirikan madrasah di atas tanah warisan.

“ Tanah itu sebetulnya untuk naik haji, namun saya meyakinkan, kalau dijadikan sekolah, nanti Bapak dan Ibu meninggal akan lebih sejahtera di alam sana,” kata pria kelahiran Mawu, Nusa Tenggara Barat, 1 Juli 1973 ini.

Bangunan sekolah itu sangat sederhana. Mulanya membuka tiga kelas dengan 9 orang siswa. Banyak orang ragu. Cukup sulit bagi Alan untuk meyakinkan warga di sana untuk menyekolahkan anak mereka, meski sekolah tersebut digratiskan.

Banyak orang tua ragu pada sosok Alan yang penampilannya dianggap lebih mirip preman ketimbang pendidik. Namun Alan tak patah arang. Berbagai cara coba dilakukan, demi menarik minat para anak dan orangtua.

Sama seperti keluarga Endang di Bogor, Alan juga membiayai madrasah ini sendirian. Pendapatan narik Rp3-4 juta saban bulan sebagian ia sisihkan. Diatur betul-betul agar mampu menutupi semua biaya kebutuhan sekolah. Termasuk menanggung gaji para guru.

Sebenarnya ada petugas dinas pendidikan setempat yang datang. Berjanji membantu sekolah yang diberi nama MIS Darul Ulum itu. Tapi tak kunjung terealisasi. Jadilah Alan yang pontang panting mencari dana. “ Semua akan saya lakukan agar sekolah tetap jalan,” kata Alan.

Menurut Alan, masih banyak kekurangan. Meski begitu, ia berharap sekolah ini bisa menjadi jalan awal anak-anak Desa Mawu menuju masa depan cemerlang. “ Saya tak mengejar materi. Saya hanya ingin anak-anak di desa ini jadi 'orang' nantinya,” ujar dia. Baca kisah alam selengkapnya: Kisah Sopir Bus Sangar Hidupi Madrasah dari Jalanan

Sosok Endang dan Alan memang hanya orang kecil. Tapi jiwa mereka besar. Pikiran mereka jauh ke depan. Lebih jauh dari jarak yang saban hari mereka tempuh. Semua dilakukan untuk pendidikan anak-anak. Demi generasi bangsa. 

Terkait
Komentar
Beri Komentar
Ibu Ani: Rasanya Seperti Palu Godam Menimpa Saya
Join Dream.co.id
DEBAT CAPRES: Energi, Pangan, Infrastruktur, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Sesi 5