Mengenal Pembedaan Tipologi Khatib di Uni Emirat Arab

News | Selasa, 17 Desember 2019 09:02
Mengenal Pembedaan Tipologi Khatib di Uni Emirat Arab

Reporter : Maulana Kautsar

Ada yang diberi kebebasan dan ada pula yang diberi teks yang sudah disunting kementerian terkait.

Dream - Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi, bertemu Kepala Badan Urusan Agama Islam dan Wakaf Uni Emirat Arab (UEA), Mohammed Matar Salem bin Abid Alkaabi di Abu Dhabi, Minggu, 15 Desember 2019. Keduanya terlibat pembicaraan seputar Islam.

Salah satunya, mengenai tata kelola masjid dan khatib. Dalam pembicaraan tersebut, Matar memberikan penjelasan mengenai pengkategorian khatib Jumat yang diterapkan di UEA.

Kategori pertama, yaitu khatib yang diberikan kebebasan untuk berkhotbah tanpa teks. Kedua, khatib yang diberikan kisi-kisi untuk selanjutnya dikembangkan oleh yang bersangkutan saat khotbah.

Adapun yang ketiga, khatib yang hanya boleh membacakan naskah atau teks yang disiapkan dan telah ditashih Kementerian Urusan Agama Islam dan Waqaf. Kategori inilah yang akan menjadi bahan kerja sama antara UEA dengan Indonesia dalam mengarusutamakan Islam washatiyah atau moderat.

" Kami tadi berdiskusi banyak. Ke depan, kami ingin bersinergi agar fungsi masjid bisa dioptimalkan, tidak hanya sebagai tempat sholat saja, tapi menjadi pusat moderasi ke-Islaman," ujar Fachrul dikutip dari Kemenag, Selasa, 17 Desember 2019.

 

2 dari 5 halaman

Pengiriman Imam Masjid Indonesia ke UEA

Sejauh ini, kata Fachrul, Indonesia dan UEA sudah menjalin sinergi pengiriman imam masjid. " Ini akan kami tingkatkan," kata dia.

Fachrul melihat adanya perkembangan signifikan di UEA dalam konteks keberagamaan. Corak kehidupan keagamaan di UEA sudah lebih progresif.

Kondisi serupa juga dirasakan Fachrul ketika kunjungan ke Arab Saudi. Dia mengatakan identitas nasional saat ini diletakkan dalam kotak yang sama dengan identitas agama (Islam).

" Ini hal baru dan positif. Saudi sudah mulai bicara tentang nasionalisme dan agama, tentang relasi positif agama dan negara," kata dia.

3 dari 5 halaman

Menag Belajar Toleransi Umat Beragama ke Uni Emirat

Dream - Menteri Agama, Fachrul Razi, bertemu dengan Kementerian Urusan Agama Islam dan Wakaf dan Menteri Pendidikan Uni Emirat Arab (UAE). Fachrul ingin belajar dari UEA tentang toleransi kehidupan beragama. 

Fachrul juga ingin belajar dari Uni Emirat Arab tentang moderasi beragama di negara tersebut. Uni Emirat Arab dinilai sebagai negara yang memiliki tingkat toleran tinggi. 

“ Saya kira kita bisa belajar banyak dari bagaimana UAE mengelola toleransi dan harmoni dalam kehidupan beragama," kata dia di Abu Dhabi, UAE, dikutip dari keterangan tertulisnya, Senin 16 Desember 2019. 

Kemudian, kedua negara juga turut membahas mengenai investasi wakaf dan manajemen masjid. Dalam pembicaraan ini, dibahas mengenai bagaimana masjid dapat menjadi motor untuk moderasi beragama.

4 dari 5 halaman

Pertukaran Hafiz dan Ahli Tafsir

Selain ingin belajar toleransi, Fachrul juga membahas pertukaran hafiz, tilawah, serta tafsir Alquran dan hadis. 

“ Kami membahas rencana pertukaran keahlian,” kata dia.

Pihaknya juga membahas pertukaran percetakan, publikasi, dan penerjemahan Alquran.

Ada juga pertukaran percetakan hasil penelitian. Semua pembahasan dan rencana tersebut dituangkan dalam nota kesepahaman atau MoU.

" Semoga paling lambat awal Januari 2020 sudah bisa diteken kedua belah pihak, antara Pemerintah RI dan pemerintah UEA," kata dia.

5 dari 5 halaman

Majelis Ulama Aceh Larang Simbol Islam di Kaos, Ini Kata Menag

Dream - Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi, menanggapi fatwa Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh yang melarang simbol agama Islam dipakai di peci, mobil, kaos, dan sebagainya.

" Saya tidak merekomendasikan untuk mendukung atau melarang," ujar Fachrul di kantornya, Jakarta, Jumat 13 Desember 2019.

 

Majelis Ulama Aceh Larang Simbol Islam di Kaos, Ini Kata Menag© Dream

 

Menurut Fachrul, alasan MPU Aceh mengeluarkan fatwa tersebut masih dalam batas wajar. Dia menganggap fatwa itu baik. Sebab, bertujuan agar tulisan yang mengagungkan Allah SWT atau Rasulullah SAW tidak dihinakan.

Fatwa tersebut melarang penulisan lafaz Allah di kaos terinjak. " Karena dia bilang kan jangan sampai nanti kalau ditulis dibaju kemudian masuk WC kita bawa tulisan laa ilaaha illallah. Tapi alasannya masuk akal," ucap dia.

Terkait
Join Dream.co.id