Mbah Moen, Sang Kitab Berjalan

News | Selasa, 6 Agustus 2019 19:00
Mbah Moen, Sang Kitab Berjalan

Reporter : Eko Huda S

Soal ilmu, tak ada yang ragu. Mbah Moen adalah rujukan. Wawasan luas. Pengetahuan kitab, mendalam.

Dream - Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar duka datang dari Mekah. Tanah Suci. Kiai Haji Maimoen Zubair wafat pada Selasa Pon 5 Dzulhijjah 1440 H. Tepat 6 Agustus 2019.

Indonesia berduka. Ucapan duka cita datang dari segala penjuru. Doa dilambungkan untuk kiai sepuh itu. Ratusan orang pun mengantar jenazah pengasuh Ponpes Sarang, Rembang, Jawa Tengah, tersebut. Mbah Moen dimakamkan di Mekah.

Wafat di Mekah pada hari Selasa merupakan keinginan Mbah Moen. Keinginan itu terucap saat membahas Kitab Tanbuhul Mughtarin pada Ramadan lalu.

Mbah Moen benar-benar cinta pada hari Selasa. Ponpes Sarang yang dibina pun menetapkan Selasa sebagai hari libur. Hari Selasa merupakan hari saat Allah menurunkan ilmu ke Bumi.

“ Allah membuat (alam semesta dalam) empat hari, Ahad, Senin, Selasa, Rabu. Kalau orang Jawa Rabu Wekasan, selesainya Bumi dibuat. Selasa, Allah menyelesaikan segala ilmu di hari ini,” ujar Mbah Moen dalam sebuah rekaman video.

Soal ilmu, tak ada yang ragu. Mbah Moen adalah rujukan. Wawasan luas. Pengetahuan kitab, mendalam. Mbah Moen bahkan dijuluki sebagai kitab berjalan. “ Beliau itu sosok seperti kitab hidup yang berjalan,” ujar Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Marsudi Syuhud.

 

2 dari 3 halaman

Keturunan Wali

Mbah Moen lahir di Sarang, 28 Oktober 1928. Sang ayah, Kiai Zubair, merupakan ulama kharismatik. Keluarga Mbah Moen memang bukan sembarangan. Menurut laman Laduni.id, sang nenek, Nyai Hasanah, merupakan keturunan kiai yang juga bangsawan Madura.

Sementara, dari jalur sang kakek, Mbah Maimoen mewarisi darah dari Sunan Giri. Sang Wali Kharismatik yang dimakamkan di kawasan Giri, Gresik, Jawa Timur.

Semasa hidup, Mbah Moen menikah dua kali. Pertama dengan Hj Fatimah. Setelah Hj. Fatimah meninggal, Mbah Moen kembali menikah dengan Nyai Masthi’ah, putri KH. Idris asal Cepu.

Dari kedua pernikahan itu, Mbah Moen dikarunia sepuluh anak, mereka adalah KH Abdullah Ubab, KH Gus Najih, KH Majid Kamil, dan Gus Abd. Ghofur.

Kemudian Gus Abd. Rouf, Gus M. Wafi, Gus Yasin, Gus Idror, Sobihah, dan Rodhiyah.

Bermula dari lingkungan keluargalah, Mbah Moen digembleng. Di bawah bimbingan sang ayah, Mbah Moen mulai menghafal dan memahami ilmu ShorofNahwuFiqihManthiqBalaghah, dan bermacam Ilmu Syara’ lainnya.

Saat remaja, sekitar usia 17an tahun, Mbah Moen sudah hafal kiab-kitab nadzam, di antaranya Al-JurumiyyahImrithiAlfiyyah Ibnu MalikMatan Jauharotut TauhidSullamul Munauroq, serta Rohabiyyah fil Faroidl.

Mbah Moen muda juga melahap kitab-kitab fikih madzhab Syafi’I, seperti Fathul QoribFathul Mu’in, dan Fathul Wahhab.

Mbah Moen kemudian keluar Sarang. Mengembara ke Ponpes Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Mbah Moen muda menimba ilmu di bawah bimbingan KH. Abdul Karim alias Mbah Manaf, KH. Mahrus Ali, dan KH. Marzuqi. Mbah Moen menempa diri selama lima tahun di Lirboyo.

Tamat dari Lirboyo, Mbah Moen menyeberang samudera. Saat usia 21, dia pergi ke Mekah, Arab Saudi. Mbah Moen diantar sang kakek, KH. Ahmad bin Syu’aib, untuk menuntut ilmu di Tanah Suci.

Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki, Syekh Al-Imam Hasan Al-Masysyath, Sayyid Amin Al-Quthbi, Syekh Yasin bin Isa Al- Fadani, dan Syekh Abdul Qodir Almandily, merupakan beberapa guru Mbah Moen selama dua tahun di Mekah.

Mbah Moen rupanya tipe orang yang tak pernah kenyang ilmu. Sepulang dari Mekah, Mbah Moen masih menuntut ilmu kepda sejumlah ulama terkemuka di Tanah Jawa.

3 dari 3 halaman

Mengabdi untuk Ilmu

Mbah Moen memang mengabdikan dirinya untuk ilmu. Pada 1965, dia mendirikan Ponpes Al Anwar di sebelah rumah. Pondok itu mulanya sebuah mushola untuk kelompok pengajian yang diasuh sang ayah, KH. Zubair Dahlan, dan KH Ahmad Syuaib.

Pada tahun 1971, mushola itu direnovasi pada tahun-tahun berikutnya, hingga menjadi pesantren besar.

Pada 2008, Mbah Moen membuka pesantren ke dua. Pondok Al Anwar 2 itu berdiri di Gondan, Sarang, Rembang. Pesaantren itu kini diurus oleh sang putra, KH. Ubab Maimun.

Kiai Maimun juga menulis kitab-kitab yang menjadi rujukan santri. Di antaranya, al-ulama al-mujaddidun.

Tak hanya keilmuan, Mbah Moen juga mumpuni di dunia politik. Mbah Moen pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Rembang selama tujuh tahun. Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan itu juga pernah duduk di kursi MPR RI utusan Jawa Tengah selama tiga periode.

Sosok Mbah Moen mampu mendialogkan agama dan negara. Mendampingkan Islam dengan kebangsaan. Mbah Maimun merupakan ahli fikih sekaligus penggerak. Khusnul khotimah. Amin.

Bukan Pertama Kali, Ini Deretan Kebrutalan Anjing Milik Bima Aryo
Join Dream.co.id