2 Perempuan Ilmuwan Indonesia Raih L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2020

News | Kamis, 26 November 2020 18:00
2 Perempuan Ilmuwan Indonesia Raih L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2020

Reporter : Dwi Ratih

Dua wanita hebat itu adalah...

Dream - Dua ilmuwan perempuan Indonesia mendapat anugerah L’Oréal-UNESCO For Women in Science (FWIS) National Fellowship 2020 dari L’Oréal Indonesia. Keduanya dinilai telah memberikan sumbangsih luar biasa pada dunia sains meski dunia sedang dilanda pandemi Covid-19.

Kedua wanita perempuan peraih apresiasi tersebut adalah DR. Anggia Prasetyoputri, M.Sc dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Latifah Nurahmi, MSC, PHD, dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

 

Penghargaan juga sebagai bukti L’Oréal Indonesia tidak berhenti memberikan dukungan dan apresiasi tinggi kepada ilmuwan perempuan Indonesia melalui berbagai program berbasis sains.

“ Dunia sains tidak pernah berhenti, bahkan di saat dunia dilanda pandemi sekalipun, sains justru dirasa semakin penting perannya dalam berinovasi, mencari solusi akan berbagai tantangan dunia baik masa sekarang maupun masa depan," jelas Melanie Masriel, Communications, Public Affairs and Sustainability Director, L’Oréal Indonesia.

Sikap yang , lanjut Melanie, juga senantiasa dipegang L'Oreal yang tidak berhenti memberikan dukungan dan apresiasi tinggi kepada ilmuwan perempuan Indonesia melalui program sains yang sudah berjalan selama 17 tahun.

" Dengan landasan 'dunia butuh sains, dan sains membutuhkan perempuan' program L’Oréal-UNESCO For Women in Science merupakan inti dari apa yang kami percayai sebagai perusahaan kecantikan berbasis sains,” tambahnya.

Sementara Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Arief Rachman mengapresiasi prinsip dua wanita ilmuwan tersebut karena mereka tidak hanya berfokus pada permasalahan yang sedang terjadi, Namun juga memikirkan berbagai tantangan lain di dunia medis.

" Dampak lanjutan pada pasien Covid-19, hingga pemanfaatan robotik dalam tindakan rehabilitasi dan operasi. Pada hari ini kita tidak hanya merayakan kontribusi dua ilmuwan hebat di dunia sains, namun juga kontribusi sains yang tidak pernah berhenti dalam menangani berbagai tantangan dunia, terutama di saat ini, dalam hal medis,” tutur Arief.

2 dari 6 halaman

Alat Pendeteksi Cepat Bakteri Patogen Pasien Covid-19

Diketuai Prof. Dr. Endang Sukara sebagai dewan juri, berikut adalah sosok wanita ilmuwan pemenang L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2020

1. Dr. Anggia Prasetyoputri, M.Sc.,

Bekerja sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Anggia mendeteksi koinfeksi bakteri pada pasien COVID-19 melalui metode sekuensing dari sampel swab.

Anggia memiliki ketertarikan dalam dunia sains sejak dahulu, dilatarbelakangi sang bunda yang juga seorang peneliti di bidang kesehatan lingkungan. Ia menyadari bahwa ada kemungkinan pasien COVID-19 terjangkit bakteri dan virus lain selain SARS-CoV-2.

Adanya koinfeksi atau infeksi simultan oleh bakteri dapat terjadi karena bakteri memiliki sifat oportunis yang bisa masuk saat tubuh sedang lemah, dan diketahui dapat memperparah kondisi sebagian pasien COVID-19.

Dengan metode pengurutan basa nukleotida atau sekuensing dari sampel swab, ia berharap dapat membantu tenaga medis dalam mengidentifikasi ada tidaknya bakteri patogen di dalam tubuh pasien COVID-19 dalam waktu singkat, dan juga dapat membantu memberikan informasi kepada dokter untuk memberikan antibiotik yang tepat kepada pasien.

3 dari 6 halaman

Pemanfaatan Robot di Dunia Medis

2.  Latifah Nurahmi, MSc, PhD,

Peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember meneliti robot operasi reduksi fraktur sebagai teknik bedah invasif minimal Terinspirasi dari kedua orang tua yang berkarir di bidang akademis, Latifah memilih karir sebagai peneliti dan pengajar.

Melalui pendidikan S3 di bidang Robotika, peneliti kelahiran Solo ini semakin menyadari betapa luasnya dunia sains, yang mendorongnya untuk semakin menekuni ilmu di bidang mesin.

Dalam pengembangannya, Latifah melihat potensi yang besar di bidang kedokteran, di mana pemanfaatan robot dalam mengurangi risiko operasi masih belum cukup dimanfaatkan.

Pengembangan penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat bagi dunia kedokteran Indonesia, terutama di situasi pandemi saat ini. Keterlibatan teknologi robotika di dunia medis berperan besar untuk mengurangi risiko kontak fisik antara pasien dan dokter.

4 dari 6 halaman

Kemajuan sains & ilmuwan perempuan

L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2020© L'Oreal

Melanie Masriel, Communications, Public Affairs and Sustainability Director, L’Oréal Indonesia menambahkan, perusahaan akan terus berkomitmen mendukung ilmuwan perempuan dan para pemenang L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2020 yang akan segera memulai eksplorasinya dalam melahirkan solusi di bidang kesehatan.

" L'Oréal percaya pada kemajuan sains dan kemajuan ilmuwan perempuan di semua sektor akan membawa dampak untuk seluruh umat manusia,” tutup Melanie.

Berlangsung sejak tahun 2004, L’Oréal-UNESCO For Women in Science mempunyai misi untuk mengakui, menyemangati, dan mendukung wanita di bidang sains, sehingga semangat perempuan di bidang sains meningkat.

Program ini telah memberikan fellowship kepada 59 ilmuwan perempuan di Indonesia. Kedua pemenang masing-masing akan menerima pendanaan sebesar 100 juta rupiah dari L’Oréal Indonesia untuk mewujudkan penelitiannya.

5 dari 6 halaman

Kota di AS Ini Akan Melihat Matahari Lagi Saat Joe Biden Resmi Jadi Presiden

Dream - Utqiagvik, sebuah kota di Alaska, Amerika Serikat, tidak akan mengalami siang hari selama dua bulan ke depan.

Peristiwa ini dimulai sejak Kamis pekan lalu, yang menjadi hari terakhir munculnya matahari.

Kota kecil yang terletak di Lingkar Arktik ini telah memasuki fase kegelapan tahunan yang dikenal dengan pholar night. Ini merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di kota yang dulu dikenal dengan Barrow tersebut.

" Polar night merupakan fenomena normal yang terjadi setiap musim dingin bagi Barrow (Utqiagvik), dan kota-kota lain di Lingkar Arktik," ujar Meteorolog CNN, Allison Chinchar.

Fenomena ini terjadi akibat kemiringan poros bumi. Hal itu menyebabkan cakram matahari tidak terlihat di cakrawala.

6 dari 6 halaman

Tak Sepenuhnya Gelap

Tetapi, kondisi itu tidak membuat siang hari Utqiagvik benar-benar gelap. Sebagian besar waktu siang akan mengalami periode civil twilight.

" Pikirkan seperti apa langit sebelum matahari terbit, atau setelah matahari terbenam. Itulah yang mereka lihat selama beberapa jam sehari, dari sekarang hingga 22 Januari, ketika matahari " secara resmi terbit" lagi," kata Chinchar, dikutip dari CNN.

Sementara mengutip laman Forbes, Utqiagvik akan menjadi kota yang menyambut kehadiran presiden baru Amerika Serikat dengan melihat lagi munculnya sang matahari. Diketahui, inagurasi pengambilan sumpah Joe Biden sebagai presiden ke-46 AS akan dilaksanakan pada 20 Januari 2021.  

Ada Kota Lain yang Alami Hal Serupa

Utqiagvik bukanlah satu-satunya kota yang di Alaska yang mengalami fenomena tersebut. Tetapi menjadi lokasi pertama yang mengalami polar night karena letaknya yang jauh di utara.

Bagi penduduk Utqiagvik, kehidupan burung hantu menjadi hal yang menyenangkan diikuti. Jika hal itu tak lagi menarik, mereka selalu ingat pada musim panas.

Pada musim panas, peristiwa yang sebaliknya justru terjadi. Kota kecil itu akan mengalami siang hari selama 24 jam penuh.

Join Dream.co.id